Teror Siang Bolong

969 Kata
Siang itu, matahari masih malas menyengat. Angin lembut menyusup dari jendela kamar Jahanara yang terbuka setengah. Ia sedang selonjoran sambil menggerutu pada hidup: jari masih diperban, tugas kuliah menumpuk, dan mentalnya belum pulih dari tragedi “Diselamatkan Raja di Depan Umum.” Tiba-tiba—vruuummm... suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Langsung saja alarm bahaya berbunyi di dalam kepala Jahanara. Ia menegakkan badan, melirik keluar jendela, dan matanya melebar seperti habis melihat jin ifrit. Mobil Pak Ibrahim. Dan ya Tuhan… Raja keluar dari dalamnya. Seperti dalam mimpi buruk yang tayang ulang tanpa diminta, Raja dengan batik rapi, peci manis, dan wajah tenangnya berdiri di depan pagar rumah—membuka pintu mobil untuk Pak Ibrahim yang turun sambil membawa tongkat dan senyum penuh niat baik. “Bun!” seru Jahanara panik sambil melesat dari ranjang. Sementara itu, sang bunda yang sedang mengaduk gulai di dapur, kaget setengah hidup saat mendengar suara ketukan di pintu depan. Tok tok tok. “Assalamualaikum… Ibu… Jahanara…” suara Pak Ibrahim pelan namun jelas. Sebelum sang bunda sempat bergerak lebih jauh, Jahanara sudah muncul seperti kuntilanak siang hari—berlari dari arah kamar, langsung membungkam mulut bundanya dengan telapak tangan. “Bun… jangan buka pintu. Jangan. Pokoknya jangan!” Bundanya yang sedang megang spatula, mendelik setengah kesal. Tapi belum sempat protes, Jahanara sudah setengah berbisik, setengah memohon. “Bun, itu musibah. Itu ancaman. Itu bibit-bibit bahaya masa depan!” Bunda melepas tangan Hana dari mulutnya dengan cepat. “Kamu ini… tamu kok ditolak! Nggak sopan. Apa kata orang kalau kayak gini?” Tok tok tok. “Permisi, Bu…” suara Raja ikut menyapa. Lebih pelan. Lebih berbahaya. Jahanara panik. Ia langsung menangkap tangan bundanya, menarik dengan kekuatan seluruh semester kuliahnya. “Bun… plis. Jangan. Demi Tuhan. Demi skripsi. Demi masa depan. Jangan buka pintu!” “Jahanara Haklid!” sang bunda mulai kehabisan sabar. “Emang siapa sih yang bertamu, kok kayaknya takut banget kamu!” "BUN ITU DOSEN YANG NOLO- Sial gue keceplosan. Sang bunda tak ada negosiasi lagi. pertarungan pun dimulai. Bundanya merangkak pelan ke arah pintu, tapi tangan Jahanara mengait pergelangan kakinya seperti petugas keamanan yang menghadang maling jemuran. Bunda hampir jatuh. “BUNDA NO! ITU JEB-A-KAN!” “LEPASKAN DAKU, ANAK MUDA! DOSEN KOK DIUSIR?!!” “ITULAH MASALAHNYA, BUN!!! ITU DOSEN SEKALIGUS CALON YANG TAK KUINGINKAN!!” Pertarungan antara kesopanan dan pertahanan diri itu berlangsung dramatis—satu kaki bunda berhasil menginjak ubin dekat pintu, satu tangan nyaris memutar kunci… tapi Jahanara menempel di lutut ibunya seperti anak TK yang ogah ditinggal sekolah. Sayangnya, kekuatan seorang ibu yang sudah biasa mengangkat galon air tetap menang. Cklek. Begitu pintu terbuka, aroma formalitas langsung masuk ke ruang tamu. Pak Ibrahim tersenyum hangat, seperti tak tahu bahwa di dalam rumah barusan terjadi adegan sinetron bertema “Putri yang Menolak Raja.” Raja berdiri di belakangnya, menunduk sopan. “Assalamualaikum, Bu. Kami berniat silaturahmi…” "Wa'alaikumussalam.. Silahkan masuk.. Aduh ini dosennya Jahanara ya.. " "Iya saya dosennya.. " Jahanara dari balik pintu hanya bisa menatap mereka berdua… dengan pandangan kosong seperti habis kalah perang. Perban di tangannya bergetar, bukan karena sakit, tapi karena malu dan panik. Pak Ibrahim tersenyum lebar sambil menyodorkan kotak besar berisi buah-buahan segar—jeruk, apel, anggur, bahkan salak pondoh pun ikut. Raja menyusul di belakangnya, menenteng buket bunga segar yang begitu cantik dan wangi. Terlalu wangi. Sampai-sampai Jahanara merasa bunga itu mengandung ancaman pernikahan dini. Sang bunda, yang tadinya hampir menjatuhkan spatula karena ditahan-tahan anaknya, kini berubah 180 derajat. “Oh alhamdulillah… ya Allah, kehormatan banget Bapak datang ke rumah kami yang sederhana ini,” ucap ibunya dengan logat halus dan senyum seperti sudah menanti acara lamaran ini seumur hidup. Pak Ibrahim membalas sopan, “Terima kasih sudah menerima kami.” Sementara itu, Raja hanya menunduk sopan, mengangguk kecil, dan... tersenyum. Senyum itu. Senyum yang di kampus bikin mahasiswi pingsan pelan-pelan, tapi buat Jahanara, itu senyum yang bikin gigi gemeretak. "Nih orang, kok beneran datang sih?!" Jahanara berdiri di balik kusen pintu, menatap mereka dari ruang tengah seperti anak magang yang terjebak dalam rapat direksi. Matanya terus-terusan memberi kode ke bundanya: 😰🫥 Bun, pliss, jangan terlalu ramah. 🫥 Jangan tawari teh manis, jangan tawari duduk. Pokoknya jangan sok akrab! Tapi tentu saja, sang bunda langsung menyuguhkan teh manis, kue basah, dan... senyuman ala calon mertua. “Duduk sini, Eh ini siapa ya? Temennya Jahanara ya? Aduh, MasyaAllah banget ini, adek orang mana?" Ya Allah emak gue bener-bener.. 😭 Senyum Raja tetap sopan, “Saya Raja bu..anak Asuh pak ibrahim. ” "Ya Allah.. MasyaAllah." Mata Atun berbinar-binar. Baru saja ia ingin menarik bundanya ke dapur untuk "briefing ulang", tiba-tiba… “Begini, Bu,” suara Raja terdengar tenang dan jelas, “Kedatangan saya hari ini, bersama Pak Ibrahim, untuk menyampaikan niat baik.” ZLEEEP. Waktu seakan berhenti. Bahkan jam dinding ikut malas berdetik. Jahanara membeku di tempat. Mulutnya sedikit terbuka seperti hendak bicara, tapi otaknya sibuk menuliskan surat pengunduran diri dari dunia perjodohan. Bu atun (bundanya jahanara) tampak kaget dan senang sekaligus. “Loh… niat baik? Maksudnya?” Pak Ibrahim angkat bicara, “Ananda Raja sudah menyampaikan keinginan kepada saya sejak beberapa hari lalu.Sebagai pendidik dan ayahnya, saya ikut membimbingnya hari ini ke rumah ini. Dia ingin meminang Jahanara.” Suara terakhir itu… seperti bom kecil jatuh di ruang tamu. Seketika, Jahanara batuk palsu yang tidak meyakinkan, lalu mendekat ke arah bundanya, sambil menarik lengan baju ibunya sedikit. Matanya memelas dan bergetar, seperti berkata: 🫠 🙏Bun, jangan terhipnotis bunga, buah, dan peci h itu. Bertahan, Bun. Kita kuat, kita bukan tim tukar anak dengan mas kawin. Tapi bundanya justru menyenggol ringan bahunya dan tersenyum simpul seperti berkata: 🌸 Nak… setidaknya dengarkan dulu. Jarang-jarang calon menantu datang bawa bunga dan bimbingan akademik. Dan Raja masih menatap Jahanara dengan tenang. Tak satu pun dari mereka sadar… bahwa perang Jahanara baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN