Raja belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat suara Jahanara meledak dari sisi ruang tamu.
“NGGAK MAU!”
Bukan nada sopan.
Bukan nada ditahan.
Tapi jelas dan ngotot—seperti anak TK yang ditawari disuntik oleh dokter gigi.
Jahanara berdiri tegak, tangan disilangkan di d**a.
Raja menoleh pada Bu Atun, tetap dengan suaranya yang lembut dan irama bicara yang rapi seperti khutbah Jumat.
“Maaf, Bu… Tapi niat saya sungguh-sungguh. Saya tahu waktunya mungkin tidak ideal. Tapi saya siap menunggu, mendampingi, bukan menghalangi mimpi Jahanara. Saya hanya ingin memastikan… dia tidak berjalan sendirian.”
Bu Atun menatap Raja seperti melihat utusan langit.
Dalam hatinya: Ya Allah ini anak kalau nggak diterima, nanti datangnya siapa lagi? Titan dari Attack on Titan?
Pak Ibrahim pun ikut angkat bicara.
“Saya mendidik Raja dari remaja. Sekarang usianya 24 tahun. Dia pengurus pondok, kepala yayasan, mengelola dua program beasiswa, dan sedang lanjut S2. Tapi yang paling saya banggakan… dia rendah hati. Bisa membimbing. Bukan sekadar pintar.”
Jahanara mencibir dalam hati.
“Rendah hati, pintar, sopan, berprestasi… ah, terlalu sempurna untuk dipercaya.”
Dan memang, bagi Jahanara… lelaki semacam ini terlalu “rapi”. Seperti dikirim langsung dari brosur seminar pra-nikah.
Ia melipat tangan, mendengus pelan, lalu mendekat sedikit ke arah tamu-tamunya.
“Pokoknya aku nggak mau,” katanya dengan suara keras, bahkan sedikit membentak. “Aku masih kuliah, aku mau belajar sungguh-sungguh. Aku nggak ada niat nikah dulu, titik.”
Pak Ibrahim tetap woles. "Jahanara, bapak dan Raja hanya menyampaikan niat yang baik."
Jahanara menyela dengan nada sinis. “Tapi kenapa langsung datang ke rumah kayak mau akad minggu depan? Ini... serius banget. Serem tahu nggak?”
Raja tetap duduk sopan. Wajahnya kalem, tapi matanya menatap Jahanara langsung. “Saya tidak mengharapkan jawaban sekarang. Saya tahu ini mengejutkan. Tapi saya sudah banyak memikirkan ini. Saya bukan hanya kagum, saya ingin mengenal kamu lebih dalam.”
“Loh, sejak kapan kita kenal?” Jahanara membalas cepat. “Ketemu di kampus juga cuma sekali dua kali. Saya pakai jaket lusuh dan sepatu belel waktu itu, ngga ada alasan kenapa kami tertarik sama saya! ”
Bu Atun menyikut pelan lengan Jahanara. “Jangan kasar, Nak. Ini tamu.”
“Tamu kok bawa bunga sama niat hidup bersama?” gerutunya sambil duduk dengan suara gedubrakan, menunjukkan ketidaktertarikan level dewa.
Pak Ibrahim tersenyum maklum. “Kami tahu Jahanara keras kepala. Tapi justru itu yang membuat Raja yakin.”
“Bunda... aku belum siap,” Jahanara nyaris berbisik.
Bu Atun akhirnya buka suara lagi, pelan, tapi penuh tekanan batin.
“Jahanara, dengar ya. Bunda tahu kamu punya prinsip. Tapi coba kamu lihat ini dari sisi lain. Bahkan dosen kamu datang langsung bawa dia ke sini. Itu artinya Raja gentle dan serius. Apa alasan kamu menolak jodoh baik yang udah disediakan di depan mata?””
Jahanara menarik napas panjang seperti mau meditasi. Perasaannya penuh: sebel, canggung, dan bingung. Semua argumen ditolak. Semua bantahan dijinakkan. Bahkan keberadaan Raja yang datang langsung ke rumah seperti habibi-habibi dubai, bikin tambah runyam.
Akhirnya, setelah menatap semua orang satu-satu,
Jahanara berdiri.
Dengan wajah setengah lelah, setengah dongkol, ia berkata dengan datar:
“Ya udah. Kalau emang kalian pengen banget, aku kasih jalan tengah.”
Raja menoleh.
Bu Atun menegakkan punggungnya.
Pak Ibrahim bahkan mencondongkan badan, penuh harap.
“Ta’aruf. Dua bulan.”
Nadanya malas, seperti anak dipaksa ikut lomba menggambar padahal maunya tidur siang.
Semua terdiam sejenak.
“Apa?” tanya Bu Atun, agak kaget.
“Ta’aruf. Dua bulan. Nggak lebih, nggak kurang. Kalau Raja merasa cocok, oke aku mau nikah. ”
Ia mengeraskan suara, “TAPI. Kalau setelah dua bulan Raja merasa nggak cocok, semuanya selesai. Gak ada dendam. Gak ada baper. Gak ada yang datang-datang lagi ke rumah.”
Raja mengangguk perlahan, tidak tersinggung sedikit pun.
“Baik,” jawabnya pelan. “Dua bulan. Dengan cara yang kamu nyamanin.”
Jahanara memutar bola matanya. Dalam hati:
“Nyaman? Lo kira gue bikin bikin Lo nyaman? Tunggu saja, Raja. Dua bulan ini akan jadi dua bulan penuh ‘penderitaan cinta sepihak’. Lo bakal nyerah sendiri.”
Dan dengan itu, babak baru pun dimulai.
Bukan pertunangan. Bukan pacaran.
Tapi ta’aruf perang dingin.