Notifikasi w******p kembali muncul di ponsel Jahanara.
Raja:
"Assalamualaikum. Siang ini kamu ada waktu untuk makan siang? Silakan pilih tempatnya. Tentu saja, ajak temanmu juga."
Jahanara membaca pesan itu sambil selonjoran di ruang kelas yang kosong.
Matanya menyipit, wajahnya serius. Tapi bukan karena cinta—melainkan strategi.
Ia ingin membalas dengan emoticon 'gumoh', namun diurungkan.
“Aha. Restoran mahal. Biar dia pikir aku cewek matre.”
Langsung saja jempolnya mengetik:
“Restoran di Bogor aja. Yang di kawasan atas, aku lupa nama tempatnya, pokoknya yang fancy gitu, Saya gak suka makanan murahan. ”
Raja hanya membalas:
“Baik. InsyaAllah saya tunggu di sana jam setengah dua.”
Loh, serius?
Taktik pertama gagal menggoyahkan pria itu. Tapi Jahanara belum menyerah.
---
Satu jam kemudian, di kampus
Jahanara menghampiri Roni yang sedang asik ngunyah mie gelas depan kelas.
“Ron, ikut aku. Sekarang. Kita ke restoran.”
Roni mendongak, masih ngunyah. “Restoran mana?”
“Yang mahal banget. Di Bogor.”
Roni langsung batuk. “Astaghfirullah, kamu mau bunuh aku?! Mahal banget, itu kan tempat buat ibu-ibu arisan sama bos-bos berjas!”
“Ayolah. Aku nggak mungkin pergi berdua. Males banget liat mukanya. Kan kemarin udah aku udah Chat, aku taaruf!”
Roni langsung nge-freeze.
“…Taaruf? Beneran..Aku kira kamu bercanda, sama siapa?”
Nada suaranya mendadak turun satu oktaf.
“RAJA.”
“…RAJA RAJA? Yang kayak ustadz versi Arab ganteng? Yang booming tiap Rabu?”
Jahanara mengangguk sambil membuka jaketnya santai. “Ya. Dia ngelamar aku minggu lalu, Maksa lagi. Terus kita sepakat ta’aruf dua bulan. Nah, sekarang aku mai bikin dia ilfil.”
Roni mengangkat tangan ke langit seperti sedang menyerah pada takdir.
“Yah Rabb… aku cuma mau hidup tenang, kuliah aman. Kenapa aku terlibat cinta-cintaan antara ukhti barbar dan ustadz super sempurna? ”
“Yeu..Gaada yang sempurna di dunia ini, termasuk Si Raja Raja itu. Udahlah. Kamu ikut. Aku yang traktir.”
Roni mendecak, “Kamu yang traktir atau nanti malah aku yang disuruh bayar?”
“Kalau Raja ninggalin kita di tempat, kita kabur aja, sok pingsan gitu.”
“KAMU GILA JAHANARA!”
---
Restoran Mewah, Kawasan Atas Bogor
Tepat jam satu siang.
Restoran itu penuh aroma rempah mahal dan alunan musik jazz. Interiornya serba kayu mahal dan kaca tebal. Para pengunjung mengenakan pakaian modis dan parfumnya tercium dari dua meter.
Dan di salah satu meja dekat jendela,
RAJA.
Sudah duduk rapi, mengenakan kemeja putih bersih, jam tangan kulit, dan... tetap pakai peci.
Bahkan terlihat seperti baru turun dari seminar nasional bertema "Menjadi Suami Visioner."
Jahanara masuk bersama Roni.
Langsung jadi pemandangan paling absurd di restoran.
Jahanara masih pakai jaket Dobujack hitam dan tas selempang hitam bercampur warna abu-abu debu.
Roni? Lebih parah. Ia pakai sandal jepit swallow harga 10 ribuan.
Semua ini demi membuat Raja Ilfil, sebenarnya Roni mah tidak mau mempermalukan diri sendiri..
Raja berdiri menyambut dengan tenang.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Jahanara dengan senyum manis tapi palsu level 99.
Roni cuma angguk tanpa suara. Sudah malu duluan.
Begitu duduk dan buka menu, Roni langsung shock.
“Na… harga air putih di sini tiga puluh ribu…”
Jahanara menjawab pelan, “Tahan, Ron. Demi misi.”
"Kalian mau Wagyu?"
Jahanara dan Roni menelan liur. Kapan lagi dong bisa makan Wagyu, gila, ga lagi-lagi..mereka berdua langsung mengangguk semangat bersamaan.
Sementara Raja hanya tersenyum tenang, memabggil Waiter dan... memesan dua porsi steak wagyu dan nasi truffle buat mereka.
Roni melirik Jahanara, lalu berbisik pelan. . “Eh... dia... nggak goyah?”
Jahanara melirik juga. “Tenang.Roni Aku yakin dia pencitraan, dia mah pura-pura sok kaya aja.” Jawab Jahanara kepada Roni.