Ngerumpi yang Ketahuan

770 Kata
Wagyu—daging surgawi yang biasanya hanya jadi pajangan di i********: selebgram foodies—malam itu berhasil masuk ke dalam perut dua mahasiswa kere. Raja, dengan senyum kalem dan gerakan elegan, mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya. Black Card. Bukan kartu member Indomaret. Ini kartu yang kalau digesek bisa buat satu galon air mata anak kost. Jahanara langsung diam. Bukan karena kagum, tapi karena jengkel. "Dia kaya beneran?!" Sebelum bisa melanjutkan menganalisis keuangan Raja, pemuda itu malah menawarkan: > “Kalian saya antar pulang saja. Tidak baik kalau kalian berdua—laki-laki dan perempuan—berboncengan terlalu sering. Syubhat.” Roni hanya bisa membeku. Matanya berkaca-kaca. “Ya Allah, baru pertama kali makan steak sejuta, langsung disuruh bertaubat juga…” Jahanara sudah siap membalas. Tapi Roni keburu angkat tangan. > “Terima kasih banyak, Mas Raja. Tapi saya bawa kendaraan sendiri, saya pulang sendiri aja… takut jadi keterusan hidup nyaman begini.” Jahanara akhirnya juga menolak dengan cemberut. Dalam hati, dia mencatat: “Oke. Misi matre gagal. Tapi aku belum kalah.” --- Keesokan Paginya, di Kelas BKPI UIKA Bogor Rabu. Hari sakral di mana kampus UIKA mendadak seperti ajang pencarian jodoh. Para ukhti tampil maksimal, parfum wardah bersaing dengan aroma gorengan kantin, dan lorong filsafat jadi runway dadakan. Tapi Jahanara… Dia justru masuk kelas dengan hoodie besar menutupi kepala. Wajahnya tegang. “Ron… kalau dia dateng hari ini… kamu pura-pura nggak kenal aku ya.” “Lah kemarin juga aku udah pura-pura nggak kenal kamu, pas kamu makanin nasi Truffle kayak mau nelen piringnya juga,” bisik Roni. Di dalam kelas, cuma ada empat mahasiswa. Termasuk Roni dan Jahanara. . “Eh eh,” Roni mencondongkan badan ke arah Jahanara, “Itu cowok yang kemarin traktir kita beneran tajir ya? Gila sih, ngeluarin Black Card kayak keluarin kartu perpustakaan.” “Jangan-jangan dia nipu,” celetuk Jahanara. “Aku yakin dia itu ketua yayasan, terus mainin dana bantuan, trus isi ceramah mahal bener. Kalo ngundang dia, mesti pake sound system kualitas Arab Saudi.” Roni hanya geleng-geleng sambil menyesap teh kotak. Belum sempat Roni membalas, KREK — suara pintu kelas dibuka. Semua kepala menoleh. RAJA. Langkahnya pelan dan tenang. Peci putih masih setia di kepala. Kemeja biru muda—rapi. Senyum… ya, masih senyum seperti biasa. Bikin jantung Jahanara kayak pulsa tinggal 3 detik lagi. Ia melangkah masuk ke kelas BKPI, yang hanya berisi empat manusia: Irul, Tio, Roni, dan… Jahanara. Jahanara langsung menunduk ke meja. Panik. Ia bahkan sempat mengangkat buku metode penelitian kuantitatif dan menempelkannya ke wajah, pura-pura membaca… padahal bukunya kebalik. Raja melangkah lurus ke arah bangkunya. Lalu tanpa banyak basa-basi, ia mengeluarkan dompet. Dompet lusuh warna hitam. Pinggirannya sobek. Ada stiker Doraemon kecil yang warnanya sudah pudar. Dompet itu milik Jahanara. “Kamu ninggalin ini di restoran kemarin,” ucap Raja kalem, tapi terdengar jelas sekelas. Jahanara langsung menoleh—lalu kaku. Tangannya terulur, menerima dompet itu seperti menerima nilai 49 di tengah IPK 3,8. Makasih…” katanya pelan, malu setengah nyawa. Wajahnya merah seperti habis ditabok tomat busuk. Benar saja. Itu dompet… biasanya hanya berisi: Satu lembar Rp20.000 yang ibunya beri setiap pagi. Kartu KTM. Struk beli gorengan. Jahanara langsung menunduk. Rasa malu mencuat dari dalam kalbu. Raja, setelah menyerahkan dompet, tidak berkata apa-apa lagi.Kemudian… ia pergi. “Assalamualaikum,” pamit Raja dengan sopan. “Waalaikumsalam,” jawab Roni cepat-cepat, menggantikan Jahanara yang tenggorokannya sudah macet. Tapi... belum berakhir. Jahanara, setelah merasa cukup tenang, membuka dompetnya. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada yang hilang. Siapa tau tuh tukang Korupsi maling 20 Ribu gue. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Saat membuka dompetnya.. Ia menemukan lembar demi lembar uang seratus ribuan. Bukan satu. Bukan dua. BANYAK. “R-Ron…” “GILA. DIA ISI DOMPET KAMU. Astaghfirullah. Ini beneran baru kejadian setelah Nabi Yusuf dilempar ke sumur,” kata Roni setengah berbisik, setengah bersujud. Di sela tumpukan uang itu, ada secarik kertas kecil, dilipat rapi. Tulisan tangannya halus, bersih. “Ini aku punya rezeki. Kamu pakai aja untuk keperluanmu. Jangan khawatir, aku ikhlas.” Roni spontan membekap mulut sendiri. “Dia bukan cuma tampan dan kaya… dia juga dermawa. BAIK BENER DIA...” Jahanara mendadak diam. Bisu. Terdiam bukan karena bahagia, tapi karena rasa bersalahnya meledak. Baru saja beberapa. menit lalu dia menuduh lelaki itu korupsi. Baru semalam ia berusaha menjatuhkan martabat Raja dengan drama matre dan makanan mahal. Dan sekarang, lelaki itu malah mengisi dompetnya dengan uang dan… surat ketulusan. Irul dan Tio, dua mahasiswa lain di kelas, menatap dari sudut ruangan dengan mata takjub. Jahanara masih diam. Dalam hati, ia mulai berbisik… “Kalau ini pria sok baik… kenapa aku yang ngerasa jahat? Apa aku keterlaluan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN