bc

Zoya

book_age18+
7
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
first love
crime
love at the first sight
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Dibesarkan oleh kedua preman kambuhan. Zoya tumbuh besar menjadi gadis tomboy dan liar. Di usianya yang masih belia, Zoya sering berbuat onar.

Jali dan Ucok selaku ayah angkatnya jadi kewalahan menghadapi sikap Zoya. Namun gadis itu tak pernah peduli dengan masa depannya.

Hingga seseorang hadir dalam hidupnya. Dan merubah semua takdirnya. Seorang pengusaha tampan mendadak ingin menikahi Zoya dengan alasan tertentu.

Kehadiran pria tampan itu ternyata membuka tabir hidupnya dimasa lalu. Zoya akhirnya mengetahui siapa sosok ayah kandungnya yang tega membuangnya dan menghabisi nyawa Ibu kandungnya.

Ikuti kisah keseruan Zoya yang penuh drama dan konflik yang tak berkesudahan

chap-preview
Pratinjau gratis
Ucok Dan Jali
Hujan lebat diiringi kilat bergemuruh dan angin kencang. Malam semakin pekat. Suara parau burung malam menambah kengerian malam yang kian mencekam. Di kegelapan malam tampak seorang perempuan berjalan tertatih. Tangannya meremas kuat perutnya yang membesar. Wajahnya pucat diguyur air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Perempuan itu tiba- tiba menjerit kesakitan. Si jabang bayi yang ada di rahimnya mulai meronta ingin keluar. Tak kuat lagi menahan reaksi di perutnya. Perempuan itu mulai lemah dan akhirnya jatuh terkulai di jalanan. Kini tubuhnya terbujur kaku tak bergerak. Tak berapa lama sebuah mobil melaju dengan kencang. Dan berhenti tepat dimana perempuan itu tak sadarkan diri. "Bang! Tengok nih!" pekiknya seraya menggoyang-goyangkan tubuh perempuan itu. Kemudian seorang pria berkumis tebal berawakan tinggi besar turun dari mobil. "Cok, ini perempuan nya! Ayo kita buang saja mayatnya!" "Tapi Bang, kayanya dia mau melahirkan!" "Sial! Bagaimana ini!" Mereka berdua panik saat perempuan itu membuka matanya dan berusaha meraih tangan Ucok. Bibirnya membiru. Mulutnya mangap- mangap ingin mengatakan sesuatu. "To-tolong ....se-selamatkan ba-ba-bayi ....ku ...." Perempuan itupun menutup matanya. Hanya itu kalimat terakhirnya. Ucok dan Jali semakin panik dan gugup. "Cok, bagaimana ini? Sepertinya bayi nya mau keluar, bagaimana ini?" "Persetan dengan bayinya! Ayo kita buang saja mayatnya!" Bang Ucok dan Jali kemudian mengangkat perempuan itu. "Cok, sebaiknya kubur saja. Bisa berabe kalau ada yang tahu." Dengan sekuat tenaga. Ucok dan Jali mengangkat perempuan itu sambil menuruni tebing yang cukup curam. Mereka kemudian membaringkan perempuan itu tepat di bawah pohon besar. Kemudian Jali kembali ke jalan untuk mengambil senter dan cangkul yang telah disiapkan sebelumya di mobil. Malam semakin pekat. Bang Ucok dan Jali bergantian menggali tanah untuk menguburkan mayat perempuan itu. Keduanya berkeringat kelelahan. Tiba-tiba! "Uwekk ... uwekk ... " Suara tangis bayi memecah suasana malam. Bang Ucok dan Jali sontak kaget dan langsung menoleh ke asal suara. "Cok, i-itu ....ba-bayinya ...." Mata Jali membelalak melihat seorang bayi keluar dari perut perempuan yang sudah menjadi mayat itu. Bang Ucok langsung melempar cangkulnya dan berlari ke arah Bayi itu. Mulut Jali menganga mendapati kejadian yang bikin tubuhnya bergidik ngeri. Bagaimana bisa. Tubuh perempuan yang sudah tak bernafas itu, bisa melahirkan dalam keadaan mati. "Uwekk ... uweekk ...." Suara tangisan bayi semakin kencang membuat Ucok dan Jali ketakutan sekaligus panik. "Jali! Cepat ambil pisaunya, ari-ari bayi ini harus kita potong!" seru Ucok seraya memegangi kepala bayi itu dengan hati-hati. Tak lama Jali pun membantu Ucok untuk memotong ari-ari si jabang bayi, setelah itu Ucok menyerahkan bayi yang masih merah itu ke tangan Jali. "Jali, awas pegang bayinya hati-hati, saya akan kuburkan ibunya dulu." "Iya Bang, cepetan Bang, saya takut." "Dasar penakut, Diam kau! kalau kita tidak mengerjakan tugas kita ini, bisa-bisa kita yang dihabisi, ngerti kau!" Ucok lalu menyeret mayat perempuan itu untuk dimasukkan ke dalam lubang yang baru saja ia gali. Sementara Jali menggendong bayi mungil yang terus menangis. Tak hilang akal. Jali membuka jaketnya dan dibalutkan pada bayi itu. Dalam sekejap bayi itu langsung terdiam. "Cup, cup, diam ya, sayang," bujuk Jali. Bayi mungil itu kemudian menatap mata Jali. "Cok, bagaimana dengan bayi ini?" tanya Jali. "Entahlah, bawa saja bayinya, nanti kita bicarakan sama si bos, ayo cepat pergi dari sini!" bentak Ucok sambil menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Mereka berdua pun bergegas pergi setelah mengubur perempuan itu. "Ayo, cepat jalankan mobilnya. Sebelum ada orang yang melihat kita, sini. Biar saya yang pegang bayinya!" ujar Ucok dengan tubuh gemetaran. Jali kemudian menyalakan mobil dan pergi meninggalkan tempat yang cukup menyeramkan dan sepi itu. Ditengah perjalanan mereka mulai berdebat tentang nasib bayi yang mereka bawa. "Cok, bagaimana ini! Kita apakan bayi ini?" "Sudah! Jangan cerewet kamu, saya juga binggung mau kita apakan bayi ini." "Tapi Cok, kita kan belum menghabisi perempuan itu. Tapi sepertinya dia sudah mati di racun Cok, kamu tadi lihat! Bibirnya membiru, Cok!" "Iya benar, tapi siapa yang meracuni perempuan itu, padahal kita kan, yang disuruh menghabisi perempuan itu." "Terus, bagaimana dengan bayi ini? Cok, apa nanti kata si bos!" "Horas bah! Kamu bisa diam gak, sih!" Ucok mulai geram dengan pertanyaan Jali yang membuat pikiran Ucok kalut. "Cok, apa si bos tahu, kalau perempuan yang mau kita habisi itu lagi hamil." "Mana aku tahu, sudahlah, yang penting kita sudah menyelesaikan tugas kita." "Ta-tapi, bagaimana dengan bayi ini, saya nggak tega jika harus mem ... " "Jaga mulutmu! Kita tak sekejam itu Jali, mengapa pula harus kita habisi bayi tak berdosa ini," ujar Ucok memotong perkataan Jali yang belum tuntas. "Terus, kita apakan bayi ini?" "Kita serahkan saja sama si Bos." Jali mengangguk sambil memandangi wajah Ucok yang pokus ke jalanan. Sampailah mereka di gedung tua yang sudah usang termakan usia. Ucok menghentikan mobilnya. Rerumputan hijau menjalar merayap di setiap dinding tembok yang sudah rusak termakan waktu. Mereka pun masuk ke dalam gedung itu. Ruangan tampak gelap hanya ada sinar kecil redup tepat diujung pintu. "Jali, mana senternya." "Eh, iya sebentar." Jali kemudian mengambil senter dari saku celananya. "Cok, bukankah si bos nyuruh kita nunggu disini, tapi dimana dia?" Braaakkk!! Suara seseorang mendobrak pintu dengan keras. Ucok dan Jali langsung terkejut. Dua orang tinggi besar dengan wajah garang menatap tajam ke arah mereka. Ditangannya sebuah pistol Laras panjang siap diarahkan pada mereka. Sontak saja Ucok dan Galih terperangah. Keduanya saling menoleh dengan wajah pucat "Cok, si-siapa, me-mereka ...." bisik Jali. Kedua lututnya saling beradu dan itu membuat seluruh tubuhnya gemataran seperti ada gempa bumi. "Mana saya tahu, sepertinya mereka ingin menghabisi kita," jawab Ucok. Dua pria tinggi besar itu lalu mendekati Ucok dan Gali. "Serahkan bayi itu!" sentak nya. Ucok dan Jali mundur beberapa langkah ke belakang. Ucok semakin kuat mendekap bayi itu. "Jangan tuan, bayi ini tak berdosa," kata Ucok kemudian. Kedua pria itupun langsung mengarahkan pistol ke wajah Ucok yang tampak pucat. Begitupun dengan Jali. Wajah kedua pria itu semakin bringas, saat Ucok tak bergeming dan terus mempertahankan bayi itu. "Kurang ajar! Ayo serahkan bayi itu pada kami! Kalian sudah bosan hidup, ya?" ancamnya. Ucok semakin gugup. Tapi Jali tak tinggal diam, ditendangnya pria itu sekuat tenaga tepat mengenai anunya. Jali langsung menarik tangan Ucok dan lari sekencang mungkin. Pria satunya berusaha mengejar Ucok dan Jali. Tapi nihil tak dapat dikejar. Ucok dan Jali terus berlari menembus pekatnya malam. Bayi yang tengah di dekapnya menangis histeris. Tapi Ucok tak menghiraukan tangisannya. Ucok dan Jali terus berlari dan berlari sejauh mungkin.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook