Hingga keduanya berhenti di sebuah mesjid yang cukup besar. Nafas keduanya tersengal karena letih.
Merekapun duduk sambil bersandar di tembok mesjid.
"Hhhh ....hhhh....untung kita berhasil kabur Cok, kalau tidak, kita berdua hanya tinggal nama," ucap Jali menghela nafas panjang sambil memegangi dadanya.
"Ngomong-ngomong siapa mereka, Cok?"
"Mana aku tahu, yang pasti mereka ingin menghabisi kita berdua."
"Tapi kenapa? Bukankah kita sudah menyelesaikan tugas si Bos."
Sekilas Ucok mulai mengingat mula pertama bertemu dengan seorang pria yang berwajah asing. Pria itu sepertinya dari timur tengah. Dari cara berpakaian dan nada bicaranya. Ucok yakin pria itu dari negara Arab atau Pakistan. Entahlah Ucok saat itu hanya menduga-duga.
Ucok sendiri adalah seorang preman yang biasa mangkal di terminal.
Melalui temannya Eman. Ucok ditawari sejumlah uang untuk menghabisi seorang wanita.
Sebenarnya Ucok ini bukanlah pembunuh bayaran. Ia hanya seorang preman yang kerjanya hanya luntang lantung tak jelas di terminal. Hanya karena wajahnya yang garang dan tentu saja membuat orang yang melihatnya takut.
Lama jadi pengangguran membuat Ucok terpaksa menyetujui perintah orang asing itu dengan imbalan yang lumayan besar.
Meskipun dengan modal nekad.
Setelah semua di sepakati. Ucok akhirnya mau melaksanakan tugas dari orang asing itu.
Orang asing itu kemudian memberikan Ucok sebuah photo korban yang harus ia habisi. Selidik punya selidik. Ternyata perempuan itu bernama Larasati. Seorang pekerja komersial yang biasa mangkal di warung Mamih.
Untuk melancarkan aksinya. Ucok mengajak Jali sahabatnya kentalnya.
Tak ada bedanya dengan Ucok. Jali juga seorang preman kambuhan dan penakut. Tapi demi uang, Jali pun akhirnya mau menemani Ucok menjalankan rencana jahatnya.
Malam itu. Ucok dan Jali mengikuti Larasati dengan menggunakan mobil box yang sengaja mereka sewa.
Namun mereka tak menduga ternyata Larasati sudah diracuni. Dan yang lebih parah lagi, ternyata perempuan itu tengah berbadan dua.
Bukannya uang yang didapat, tapi Ucok dan Jali malah di kejar dua pria yang berusaha menghabisi nyawa mereka.
Bukan itu saja, si jabang bayi tak berdosa, kini ada di pangkuan mereka. Apalagi kedua pria itu sepertinya ingin menghabisi pula bayi yang mereka bawa.
"Cok, kamu jangan bengong gitu. Bagaimana ini, apes banget dah hidup kita. Nyesel aku ikut kamu!" keluh Jali.
Perkataan Jali membuyarkan lamunan Ucok.
"Benar, hidupku memang apes, sekarang harus kita apakan bayi ini."
"Iya Cok, untung kita berhasil kabur, kalau tidak, kita bakal jadi mayat, kaya perempuan tadi. Ngomong-ngomong, siapa kedua pria itu, dan mengapa mereka mau menghabisi kita."
"Entahlah, yang jelas kita berdua telah tertipu."
"Tertipu? Tertipu bagaimana?"
"Sudahlah jangan bahas itu lagi, sebaiknya kita tinggalkan kota ini, bisa berbahaya kalau kita tinggal disini terus, lelaki tadi pasti akan terus mengejar kita."
"Terus, bagaimana dengan bayi ini?"
"Kita tinggalkan saja bayi ini disini, lalu kita pergi."
"Astaga! Kamu tega ya, Cok!"
Untuk sejenak Ucok dan Jali mengalihkan tatapannya pada bayi yang lucu dan imut itu.
"Cok, lihat! Bayi ini cantik sekali, apa kamu tega membuang bayi secantik ini."
"Ya sudah, kalau kamu gak tega! Urus saja bayi ini," celoteh Ucok sambil memandangi bayi tak berdosa itu.
"Cok, saya akan rawat bayi ini."
"Gila kamu, memang mudah ngurus bayi sekecil ini!"
"Pokoknya dari pada bayi ini dibuang begitu saja, lebih baik saya urus."
"Terserah kamu saja lah," kata Ucok sambil pergi meninggalkan Jali.
"Cok! Tunggu! kamu mau kemana?"
Jali mengikuti Ucok yang terus berjalan di depannya.
"Cok, tunggulah. Aku ikut denganmu saja."
"Diam! Mulutmu itu memang cerewet!"
"Tapi kita mau kemana?"
Ucok kemudian mengendap-ngendap memasuki rumah untuk mengambil jemuran milik warga sekitar. Rupanya Ucok mencuri beberapa pasang baju anak kecil untuk dipakaikan pada bayi yang mereka bawa. Jali semakin ketakutan melihat tingkah Ucok. Matanya terus mengawasi daerah itu yang tampak sepi.
Setelah berhasil mengambil beberapa pasang baju. Ucok dan Jali pun pergi.
Hingga sampailah mereka di sebuah rumah kosong.
Mereka pun memasuki rumah itu. Tampak hanya ada meja usang dan perabotan yang sudah rusak. Jali kemudian membaringkan bayi itu di meja.
"Ayo, pakaian baju ini, kasian bayi ini pasti kedinginan."
Dengan sigap. Jali kemudian memakaikan baju yang barusan di curi Ucok untuk bayi itu. Walau baju agak kebesaran tapi tak masalah yang penting si jabang bayi tidak kedinginan.
Tak lama bayi itu mulai menangis.
"Cok, kayanya bayi ini ingin susu."
"Susuin aja sama kamu!" ledek Ucok kesal.
"Edan kamu Cok! Saya ini kan laki-laki."
"Sudah saya bilang! Tak mudah ngurus bayi! sekarang lihat! Bayi ini lapar."
Jali berusaha menenangkan bayi itu dengan bersenandung.
Sementara Ucok tertawa lebar melihat tingkah Jali.
"Hahahaha ... kamu ini kaya emak-emak ...."
Bibir Jali cemberut melihat sikap Ucok.
"Kenapa kamu tertawa Cok, ada yang lucu?"
Ucok hanya geleng-geleng kepala tak mau menjawab pertanyaan Jali.
Beberapa saat kemudian Bayi itupun tertidur.
"Cok, lihat bayi ini. Cantik sekali, sayang kalau di buang."
Ucok memandangi Bayi itu dengan seksama. Wajah Bayi itu memang terlihat imut dan jelita. Tapi sayang nasibnya sungguh malang. Ibunya mati diracun. Sedangkan ayahnya, entah dimana ayahnya.
Mungkinkah pria yang berwajah timur tengah itu ayahnya.
Ucok kemudian memangku Bayi itu dengan lembut dan mencium keningnya.
"Wah, Cok, Kenapa dengan kamu, tadi nyuruh saya untuk membuang Bayi itu, sekarang kamu malah menciumnya."
"Saya kasian, sama bayi ini," ucap Ucok matanya mulai berkaca.
Jali pun ikut larut melihat sikap Ucok yang mulai tersentuh melihat nasib bayi itu.
"Jali, saya ini belum nikah, jadi saya tak pernah merasakan bagaimana punya anak."
"Iya sama Cok, saya juga belum kawin."
"Bagaimana kalau kita rawat bayi ini?"
"Iya Cok, saya setuju, kita akan cari uang untuk merawat bayi ini."
Malam itu Ucok dan Jali akhirnya memutuskan untuk merawat Bayi itu bagaimanapun caranya.
"Cok, Ayo kita beri nama yang bagus untuk Bayi ini."
Ucok mengangkat wajahnya. Kedua alisnya mengernyit.
"Bagaimana kalau kita beri nama bayi ini, Dewi."
"Ah, jelek Cok, nama Dewi pasaran, bagaimana kalau Narti."
"Nggak, ah! Nama itu tak sesuai dengan wajah Bayi ini."
"Alah kamu Cok, ngasih nama aja ribet banget, sih!"
"Kamu itu, lihat bayi ini, wajahnya macan putri dari khayangan, gak enak kalau dipanggil Narti."
"Iya deh, Cok, terserah kamu saja."
Mata Ucok mulai berkelana menyapu setiap sudut ruangan. Hingga matanya tertuju pada coretan tangan usil yang memenuhi tambok. Dari setiap tulisan ada kata Zoya.
"ZOYA!"
"Apa, Zoya?"
"Bukankah nama itu bagus, bagaimana menurut kamu, Jali?"
"Bagus Cok, hebat kamu Cok, nah, nama itu baru cocok buat bayi ini hahahaha ...."