Pemilik Warung Yang Baik Hati

1056 Kata
Berbekal uang 500 ribu. Ucok dan Jali akhirnya pergi meninggalkan kota untuk menghindari dua pria yang mencoba mengancam nyawa mereka dan juga Zoya. Mereka pergi dengan menaiki truk muatan semen milik Syamsul teman lama Ucok. Menempuh perjalanan jauh. Akhirnya mereka tiba di kota Surabaya. "Nah, sudah sampai kita. Ayo turun disini, saya hanya bisa ngantar kalian sampai sini," ujar Syamsul. "Terima kasih, ya!" sahut Ucok. Sampai di kota Surabaya. Ucok dan Jali langsung berjalan menuju toko untuk membeli s**u. Tampak beberapa konsumen saling berbisik sambil menatap heran wajah keduanya yang menurut mereka penampilan Ucok dan Jali sedikit aneh. Belum lagi ada seorang bayi di tangan Jali. Membuat keduanya jadi bahan omongan orang-orang di dalam toko. "Lihat tuh, kayanya itu preman habis menculik bayi," bisik si ibu yang sedari tadi mengamati Ucok dan Jali. Tentu saja Ucok dan Jali jadi kikuk mendengar dua ibu muda yang terus melihat ke arah mereka. Membuat Ucok mulai tersinggung. "Heh! Kalian ngomong apa?" tegur Ucok seraya memperlihatkan tato gambar Naga yang ada lengan kirinya. Dua ibu muda itu langsung terkejut dan pergi terburu-buru meninggalkan toko. Beberapa orang yang ada di toko juga ikut-ikutan pergi karena ketakutan melihat Ucok. "Waduh! Pada pergi semua, kamu sih, Cok! lihat mereka pada takut lihat kamu!" tegur Jali. "Biarkan saja mereka pergi, mereka kira kita ini preman kelas kakap hihihihi ...." umpat Ucok tertawa geli melihat orang pada kabur semua karena penampilannya. Ucok ini memang berwajah garang, di lengan kirinya ada tato gambar naga. Yang sebenarnya adalah buatan tangan Ucok sendiri agar terlihat layaknya seorang preman. Padahal Ucok ini orang nya sedikit penakut dan pendiam. Memiliki wajah asli orang Medan. Ucok memang berhasil membuat sebagian orang merasa segan jika berhadapan dengannya. Berbeda dengan Jali. Tubuh kurus kerempeng macam orang yang kurang asupan gizi hahahaha. Jali tadinya adalah seorang montir di bengkel milik pak Dodi. Sudah lama bengkel pak Dodi sepi. Untuk memenuhi kebutuhannya terpaksa saat itu Jali mengikuti rencana Ucok. Tapi sial mereka bukannya mendapat uang malah mendapatkan bayi yang harus mereka rawat. Toko mulai sepi. Hanya ada dua pelayan yang tampak terpaku melihat kehadiran Ucok. "Tolong beri saya s**u buat bayi ini!" tegur Ucok sambil memainkan kumis tebalnya. "I-iya, tu-tuan. Sebentar," jawab si pelayan gagap. Tak lama pelayan itu memberi tiga dus s**u bayi dan langsung diserahkan pada Ucok. "Saya kan cuma mau beli satu, kenapa jadi tiga dus?" "I-iya, tuan silahkan ambil saja, nggak usah bayar tuan." "Kenapa?" "I-itu, i-itu ... gra-gra-gratis tuan ...." jawab si pelayan gelagapan dengan wajah pucat dan tubuh bergetar. "Oh begitu, ya sudah terima kasih, ya," kata Ucok seraya memperlihatkan lagi tatto Naga ditangannya. Jali hanya tertawa geli melihat tingkah Ucok. Mereka pun pergi meninggalkan toko. "Cok, hebat kamu. Semua pada ketakutan lihat kamu." "Iyalah, saya ini kan preman," ucap Ucok percaya diri. "Alaaah ... preman kampret kamu, lihat nasib kita sekarang!" "Udah, jangan banyak bacot kamu! Sekarang bagaimana caranya kita nyari kontrakan, uangku saja tinggal segini," keluh Ucok merogoh saku celananya dan mengambil uang ratusan lima lembar. "Cok, lebih baik kita nyari kontrakan yang murah saja, sisanya buat keperluan Zoya," saran Jali. "Bah! Kamu ini, macan istriku saja, cerewet! banyak ngatur lagi!" "Bukan begitu Cok, kita kan belum dapat pekerjaan, apalagi kita baru di kota ini, sebaiknya kita berhemat." Wajah Jali nampak mulai kusut dengan tubuh kurus kering. Bayi Zoya yang sejak tadi di gendongannya mulai merengek. Orang- orang yang lalu lalang di depan mereka mulai memperhatikan tingkah mereka berdua. Membuat Ucok merasa risih. "Ayo, kita pergi saja dari sini." "Kemana Cok?" "Kemana lagi, masa kita mau diam disini terus, lihat tuh! Orang-orang mulai memperhatikan kita, ntar kita disangka pasangan sejenis lagi, bikin malu saja!" "Iya bener juga, ayo Cok, lagipula aku nggak mau disangka pasangan sejenis, amit-amit dah!" "Kamu itu, lihat tampang mu. Mana ada perempuan yang mau sama kamu, udah kurus, kere lagi hahahaha ...." "Sialan, kamu bisa aja Cok, gini-gini dulu aku pernah digilai perempuan, Cok." "Perempuannya buta kali!" Keduanya akhirnya pergi menyusuri jalan kota Surabaya. Terik matahari kian panas menyengat. Mereka pun memutuskan untuk istirahat sejenak di warung. Pemilik warung ternyata seorang perempuan yang lumayan cantik dan seksi. Membuat Jali dan Ucok tak mengedipkan mata nya saat menikmati kemolekan wajah perempuan itu. "Silahkan Mas," sambut si perempuan. "Neng, eh, mbak, saya mau pesan teh hangat ada?" tanya Ucok gugup. "Ada, Mas, mau kopi, teh, makanan, semua ada mas," jawab si pemilik warung mulai genit sambil memandangi wajah Ucok yang berkumis tebal. Sementara Jali sibuk menimang Zoya yang mulai rewel. Melihat tingkah Jali. Si perempuan mengernyitkan alisnya. "Itu anaknya Mas?" tanyanya. "Bu-bukan, itu anak dia!" sahut Ucok sambil menunjuk ke arah Jali. Sontak saja perempuan itu tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Ucok. "Ada apa Neng? Apa ada yang lucu?" tanya Ucok penasaran. "Masa laki-laki bisa punya anak sih! Jangan- jangan, Mas ini ... " "Hus! Bukan begitu Neng, bayi itu adalah anaknya, istrinya kemarin mati gantung diri di pohon pisang, neng," dalih Ucok mengelabui perempuan itu. "Gila, si Ucok, bisa-bisanya berkata seperti itu," ucap Jali dalam hati. Melihat tingkah Ucok dan Jali si pemilik warung merasa terhibur. Perempuan itupun mengenalkan diri. "Nama saya Komala Arum Salsabila Kusuma Dewi, Mas," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Waduh! Panjang amat Neng namanya, disingkat saja Neng!" sahut Ucok. "Panggil saja nama kecil saya, Atit" jawabnya sambil tersenyum genit. "Hah! Tadi katanya Komala, apa lah, saya lupa lagi, sekarang Atit!" ujar Ucok sambil menahan tawa karena geli mendengar namanya. "Cok, ini perempuan kayanya stress kaya elu, masa nama kecilnya Atit, terus kita manggilnya Tit, Tit, gitu," bisik Jali. "Ssttt, diam kamu, masa kita manggil dia Titit, tak sumpel mulutmu baru tahu," bisik Ucok lagi. Jali terdiam. Mereka bertiga mulai akrab. Mengobrol dan bercanda. Bukan itu saja neng Atit juga menawarkan tempat tinggal untuk mereka tempati selama belum mendapatkan kontrakan. Dengan catatan mereka membantu Atit menunggu warung jika Atit sedang ada keperluan. Tentu saja Ucok dan Jali menyetujui semua permintaan Atit dengan senang hati. Bahkan mereka baru tahu kalau Atit ternyata hidup sebatang kara. Sejak kedua orang tuanya tiada. Atit kemudian meneruskan warung milik orang tuanya. Di belakang warung Atit ternyata ada rumah kecil dengan satu kamar. Nasib memang sedang berpihak pada Ucok dan Jali. Kini mereka tak perlu lagi mencari kontrakan. Ucok dan Jali sangat berterima kasih pada Atit yang dengan iklas mau membantunya. Waktupun berjalan. Karena Jali dan Ucok sangat baik. Akhirnya Atit mengijinkan Ucok dan Jali untuk tinggal sesuka mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN