19 tahun kemudian ...
Perjalanan hidup Ucok dan Jali mulai berubah. Seiring waktu Zoya pun tumbuh menjadi seorang gadis imut yang cantik.
Bertahun- tahun Ucok dan Jali merawat Zoya dengan penuh kasih.
Ucok terpaksa jadi preman di pasar demi menghidupi Zoya. Keseharian Ucok hanya memalak pedagang di pasar. Cukup memperlihatkan tato nya. Pedagang ketakutan dan memberi uang secukupnya pada Ucok. Begitulah pekerjaan Ucok.
Sementara Jali meneruskan warung milik Atit. Atit sendiri sudah menikah dan mengikuti suaminya.
Pagi itu seperti biasa Zoya selalu bangun siang.
"Bapak!! pekik Zoya sambil mengacak kasar rambutnya.
"Bapak!!
Jali buru- buru menghampirinya.
"Iya Nak, ada apa? Ayo bangun, ini kan sudah siang!" tegur Jali seraya mengambil handuk untuk Zoya dan dilemparnya tepat mengenai wajah gadis cantik berambut ikal itu.
"Sana cepat mandi! Dua tahun kamu nggak lulus, kamu mau jadi apa, kalau malas ke sekolah!" tegur Jali kesal.
"Males Pa, Zoya nggak mau sekolah, ah!" jawabnya. Dilempar nya handuk ke sembarang arah.
"Jangan gitu Nak. Bapak ini malu, hampir setiap hari guru memanggil dan menegur Bapa, karena kamu sering berkelahi di sekolah, kamu mau jadi apa?" tegur Ucok sambil membetulkan sarung yang dipakainya karena sering melorot.
"Udah, ah! Zoya minta uang!"
"Uang? Kemarin kan kamu udah diberi sama Bapa Ucok, memang sudah habis!"
"Habislah, Zoya pake buat beli gelang ini, nih, tuh lihat, bagus kan, Pa!" seru Zoya seraya memperlihatkan gelang perak berbentuk tengkorak.
"Ampunnn!! Zoya, kamu ini perempuan, masa gelang ginian di bilang bagus, kamu mau jadi preman, ya? Kaya Bapa Ucok mu itu!" tegur Jali sambil menepuk dahinya.
"Bapa pelit! Zoya nggak mau sekolah!" jerit Zoya.
"Nak. Kamu kapan dewasanya, tiap hari keluyuran, cobalah dewasa sedikit, berkaca di cermin, apaan pake celana kaya begini, robek di lutut, kamu sengaja, ya?"
Begitulah keseharian Jali, selain menjaga warung. Jali harus mengawasi Zoya yang sering berbuat ulah di sekolah dan keluyuran bersama teman-teman di daerah tempat tinggalnya.
"Pak Jali! Permisi pak!"
Seseorang berteriak memanggil namanya di luar sana.
"Duh, siapa lagi yang datang. Zoya, awas jangan kemana-mana, ya? Bapa belum selesai bicara sama kamu! Awas kalau keluyuran lagi."
Gegas Jali pergi menemui orang yang memanggilnya.
Di depan warung tampak Bu Amoy berdiri sambil berkacak pinggang.
"Eh, Bu Amoy, silahkan Bu, mau beli apa?" tanya Jali ramah.
"Mana anak kamu si Zoya?" teriaknya sambil melotot pada Jali.
"Zo-Zoya?" jawab Jali gagap.
"Iya! Si Zoya, mana dia?" tanya nya lagi.
"Me-memang nya ibu a-ada perlu apa, ya? sama Zoya," tanya Jali gelagapan.
"Bilang sama anakmu itu! Kalau sekali lagi memukul anak saya! Saya akan lapor polisi!" sentak Bu Amoy geram.
"Apa?!"
Karena syok mendengar pengakuan Bu Amoy. Tanpa sadar, sarung yang dikenakan Jali melorot hingga tampak jelas color warna hijaunya. Tentu saja Bu Amoy langsung menjerit histeris.
"Bapak!! Bapak ini nggak tahu malu, ya?" pekik Bu Amoy seraya menutup matanya dengan kedua tangan.
"Maaf kan saya Bu, memang saya malu dengan tingkah putri saya," ucap Jali sambil menunduk dan belum sadar juga bahwa sarungnya sudah melorot menutupi kakinya.
"Ya ampun, Pak! Itu burungnya!" teriak Bu Amoy semakin panik.
"Burung? Burung apa ya, bu?" tanya Jali.
Bu Amoy tak tahan lagi melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Ia pun lari terbirit-b***t.
Jali kebingungan sambil garuk- garuk kepala.
"Ada apa dengan Bu Amoy," ucap Jali dalam hati, dahinya pun mengernyit karena heran melihat sikap Bu Amoy.
Pasti Zoya telah melakukan hal yang tak benar lagi. Jali pun bergegas masuk. Tapi saat kakinya mau melangkah. Jali merasakan sesuatu.
"Hah!!" Jali menunduk ke bawah dan ternyata sarung yang dipakainya melorot hingga dalamannya tampak jelas. Pantas saja Bu Amoy lari melihatnya. Karena malu. Jali pun langsung berlari sambil berteriak keras memanggil Zoya.
"Zoya!!"
Gara-gara ulah Zoya. Jali mendapat teguran keras dari Bu Amoy.
"Kemana lagi anak itu!"
Lalu Jali berlari menuju kamar Zoya.
Dilihatnya kamar kosong tak ada Zoya disana. Hanya jendela saja yang tampak terbuka lebar.
"Zoyaaaaa!!"
Seperti biasa kalau ada seseorang mencarinya. Zoya akan kabur lewat jendela. Itulah Zoya yang selalu berbuat onar. Lagi-lagi, Jali harus menanggung malu karena ulah putrinya.
***
"Sekolah Woy, sekolah!!"
"Ishh, ganggu aja orang lagi enak- enak nglamun!" dengkus Zoya sembari beranjak dari duduk.
"Kerjaan loe tuh, hanya melamun terus, kapan loe sadarnya!" balas Hanuman sewot.
"Bawel!" Zoya kemudian berdiri lalu menendang Hanuman dengan keras, tubuh kurus dekil itu terjerembab ke tanah.
"Sialan kamu Zoy. Awas gua bilangin bokap loe. Baru tahu!" Hanuman tampak mengaduh kesakitan, sambil memegangi kakinya.
Karena tidak tega, akhirnya Zoya mendekat sambil terkikik. Ingin membantu sahabat kentalnya berdiri.
Hanuman masih menunduk, saat Zoya mengulurkan tangan. Sampai beberapa detik kemudian Hanuman mendongak, sambil menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
"Santai bro, gue gak cengeng kaya loe!"
Zoya terkejut melihat bibir Hanuman yang tersenyum sinis.
"Dih, terus kenapa tadi pura- pura kesakitan? Caper, ya?" tanya Zoya ketus.
"Cie, cie, marah nih ye," ejek Hanuman.
"Bawel!"
Hanuman kembali mengaduh lagi. Membuat Zoya kesal. Binggung laki- laki berhidung pesek itu kembali berakting.
Lima tahun Zoya bersahabat dengan Hanuman. Laki- laki muda yang usianya jauh lebih muda darinya. keseharian mereka nongkrong di pos. Hanuman bagi Zoya sahabat yang paling baik dan penuh pengertian.
Meski namanya sebenarnya adalah Daniel. Tapi entah mengapa, dia lebih senang dipanggil Hanuman dari pada disebut nama aslinya. Mungkin Daniel penggemar kisah Mahabarata. Kali, ya.
"Man. Gue bosen ah! Maling buah, yu!" kata Zoya sambil memainkan rambutnya yang selalu tergerai indah. Di lengan kirinya memakai gelang perak berbentuk tengkorak. Sementara celana jeans yang di kenakan nya robek tepat di bagian lutut. Penampilan Zoya yang urakan dan tomboy membuat dirinya tidak seperti seorang gadis pada umumnya. Topi hitam yang selalu ia kenakan selalu menutupi keindahan rambutnya yang bergelombang.
Memiliki wajah khas timur tengah, dengan hidung mancung dan pipi mulus. Zoya yang berwajah cantik jelita, selalu menyembunyikan kecantikannya dengan berdandan layaknya seorang pria. Bagi Zoya ia lebih nyaman begitu. Daripada ia harus berdandan seperti perempuan yang bikin ribet. Pikirnya.
"Maling buah?" tanya Hanuman.
Zoya mengganguk. Lalu topi hitam yang tengah dipegangnya. Zoya kenakan, kemudian Zoya yang sedari tadi duduk nongkrong di pos. Beranjak dan pergi menuju rumah Pa Seno. Dimana disana terdapat pohon mangga yang buahnya lebat.
"Zoy! Tunggu!" Hanuman mengikuti Zoya dari belakang dengan nafas tersengal.
"Ayo cepat!" teriak Zoya berjalan layaknya seorang pria. Tak ada anggun- anggunnya. Bukannya sekolah. Zoya lebih senang keluyuran dan bermain. Ponsel bermerk Oppo keluaran terbaru, selalu terselip di saku celananya. Jaga- jaga kalau Bapa Ucok menghubunginya.