Gadis tomboy itu tetap cantik dengan rambut panjangnya. Tapi sayang, keindahan rambutnya selalu ia tutupi dengan topi hitam. Sekilas orang lain. Menyangka Zoya seorang lelaki.
"Hmm ... hidup ini kurang enak gimana coba, pengen sesuatu tinggal ambil."
Hanuman tersenyum masam, kemudian melanjutkan perjalanannya yang membosankan. Selalu saja Zoya mengajaknya ke rumah Pa Seno untuk mencuri buah mangga.
Saat Zoya dan Hanuman tengah asyik berjalan. Tiba- tiba seseorang berlari dari arah berlawanan dan tanpa sengaja menabrak Zoya. Seketika Zoya terjerembab jatuh ke tanah. Membuat Hanuman langsung tertawa menyembur.
Seorang pria tampan berjas rapih yang menabraknya, berlalu begitu saja. "Sorry, saya buru- buru.
Zoya tampak mengaduh kesakitan sambil memegang kakinya.
Sorot mata Zoya kini beralih pada pria yang sudah jauh.
Lantas dengan tertatih, Zoya memanggil pria itu. "Hei ... !!" teriak Zoya lantang, sambil berusaha bangkit untuk berdiri.
Pria itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh pada Zoya. Kemudian berjalan mendekat. Derap langkah sepatunya berbunyi, saat menapak di jalan trotoar.
"Aduh, sakit Tuan!" Zoya semakin merintih kesakitan.
Hanuman memutar bola mata malas. Melihat drama yang dilakukan Zoya.
"Kamu kenapa?" tanya pria asing itu dengan nada dingin.
"Em, tolong tuan, kaki saya terkilir," keluh Zoya sembari mengedipkan satu matanya ke arah Hanuman.
Mulut Zoya tiba- tiba menganga saat pria tampan berhidung bangir itu membantu Zoya berdiri. Kemudian memapahnya untuk di dudukan di gazebo depan rumah besar.
Pintar juga si Zoya. Kakinya pura- pura pincang saat di papah oleh pria asing itu. Hanuman menggerutu dalam hati.
"Mana yang sakit?" tanyanya dengan suara berat.
"Ini tuan. Saya mau ke rumah sakit. Saya harap tuan ganti rugi, karena tuan. Kaki saya jadi pincang," keluh Zoya sambil terus meringis.
"Rumah sakit?"
"Iya tuan. Pokoknya saya minta ganti rugi!" bentak Zoya dengan wajah ketus.
Lalu pria itu berdiri tegap. Matanya menyipit menatap Zoya. "Kamu mau meras saya," ucapnya.
Zoya masih menunduk, saat pria itu menatapnya. Sampai beberapa detik kemudian Zoya akhirnya mendongak, sambil membuka topi yang menutupi rambutnya.
Mata pria itu langsung membulat melihat rambut indah bergelombang milik Zoya. Kemudian dia berkata. "Kamu seorang wanita?!" Kemudian pria itu mengamati Zoya dari kepala sampai kaki. Tak menyangka bahwa orang yang baru saja di tabraknya, ternyata seorang gadis yang sangat cantik.
Tapi mengapa gadis itu berpenampilan seperti seorang lelaki?
Zoya langsung berdiri sambil meringis. "Hei tuan! Ayo berikan uangnya!" bentak Zoya.
Ting
Terlintas ide brilian di kepala.
"Aduh du duh, tuan tolong. Kaki saya sakit." Zoya menjatuhkan badannya hingga terduduk di lantai jalan.
"Ya ampun sakit banget, tolong, Tuan," Zoya pura- pura Meringis kesakitan.
Pria itu lalu menghunuskan tatapan tajam. Kemudian berjongkok di depan Zoya, hingga aroma parfum yang memabukkan melumpuhkan indra penciuman Zoya.
"Kenapa, hmm? Kamu mau uang?" tanya pria berkulit putih itu.
Desir- desir aneh langsung menjalar ke seluruh tubuh. Suara bass pria asing itu berdenging di telinganya.
"Sakit tuan." Zoya memijat kakinya.
"Yang mana yang sakit?"
"Yang ini tuan." Zoya memegang dadanya.
Pria itu menaikkan sebelah alis.
"Karena tuan dekat- dekat sama saya," lirih Zoya sambil melirik ke arah Hanuman yang masih berdiri salah tingkah.
"Si Zoya, ada-ada saja tingkahnya," guman Hanuman.
Pria tampan itu menyungging seulas. Matanya sampai menyipit seperti bulan sabit. "Kamu manis juga, ya."
Zoya terbelalak sambil menelan ludah dengan susah payah. Hanya bisa menggut- manggut dengan wajah pasrah. Sekilas wajah tampan pria itu membuat Zoya terkesima.
Matanya terpejam seiring dengan jantung yang berdebar. Ketika wajah tampan itu semakin mendekat.
"Tuan maaf. Teman saya harus segera pulang." Hanuman langsung menarik tangan Zoya untuk segera membawanya pergi. Tapi, pria itu menghentikan lajunya.
"Tunggu!" Pria itu kemudian mengeluarkan dompet dari saku celananya. Lima lembar uang ratusan disodorkan pada Hanuman.
"Nih, bawa temanmu ke rumah sakit," katanya. Lalu pria itu pergi berlalu begitu saja.
Di depannya sudah berdiri sopir pribadinya berdiri di depan mobil sport warna putih.
Pipi Zoya tampak bersemu merah. Pria itu telah membius otaknya untuk sesaat. Seumur hidup, baru kali itu ia melihat pria setampan dan segagah dia. Biasanya yang dilihat tubuh dekil dan kurus setiap hari. Siapa lagi kalau bukan Hanuman.
Tapi siapa namanya?
"Ya ampun Man!"
"Apa? Kenapa dengan kamu? Ayo kita pulang, lihat nih! Kita dapat rejeki nomplok hari ini," kata Hanuman sambil memperlihatkan lima uang ratusan di depan Zoya.
Namun gadis itu tak bergeming. Matanya terus tertuju pada mobil sport yang telah jauh pergi.
"Hei!" Hanuman mengibaskan tangannya ke wajah Zoya. Dan itu menyadarkan lamunannya.
"Apaan sih, Man!" tegur Zoya sambil menepuk jidat Hanuman.
"Somplak emang nih, si Zoya," omel Hanuman.
***
Dua hari kemudian.
"Man, cari impormasi kek, tentang pria itu, udah nikah apa belum," tanya Zoya sambil menyantap makanan di depan meja makan. Satu kakinya dinaikan di atas kursi. Persis Bang Ucok lagi makan.
"Dih, ngapain. Kaya gak ada kerjaan aja, emang kamu mau ngapain sama pria itu?"
Tak lama Bang Ucok yang baru saja datang, menghampiri Zoya yang tengah duduk sambil menyantap ayam goreng kesukaannya.
"Horas bah! Kamu gak sekolah lagi?" tanya Ucok lalu duduk di sebelah Zoya. Di ambilnya satu gelas kopi hitam yang teronggok di meja makan.
"Zoya gak mau sekolah, ah! Zoya mau nikah!"
Ucok langsung menyemburkan air kopi yang tak sempat masuk ke tenggorokkannya.
"Waduh!!' Hanuman tersentak kaget.
"Heh, Macam mana! Apa Bapa gak salah dengar!" tegur Ucok sambil menyeka mulutnya.
"Pokoknya Zoya mau nikah!" teriak Zoya. Dilemparnya goreng ayam yang tengah dipegangnya. Lalu melipat kedua tangannya di depan d**a memasang wajah ketus.
"Anakku, sayangku, manisku. Memangnya kamu mau menikah sama siapa, Hahaha ..." tanya Ucok sambil tertawa terbahak karena geli melihat tingkah kekanak- kanakkan Zoya.
"Iya sama pria itu!"
"Hah! Pria yang mana?' Ucok mengernyit.
"Zoya gak tahu siapa namanya."
"Ya ampuuun ... Zoya ... Zoya ...kamu mau nikah, nama pria itu saja kamu gak tahu. Bah! Macam mana!" Ucok memekik.
"Bapa cari tahu dong! Bapa kan, terkenal di kota ini!"
Ucok menepuk jidat licinnya beberapa kali. Sudah sering Zoya membuat masalah. Ucok selalu bisa mengatasinya. Tapi kali ini berbeda. Zoya mendadak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tak di kenalnya. Jangankan nama. Alamat pria itupun Ucok tak mengetahuinya.
Ucok mendengus nafas kasar.
"Bagaimana ciri- ciri pria itu?" tanya Ucok dengan nada rendah.
Zoya menoleh ke wajah bapa angkatnya dengan wajah memerah. Selanjutnya pandangannya menerawang ke atas awan mencoba mengingat wajah tampan nan rupawan yang bertemu dengannya dua hari lalu.