Ramiel Yusmar terbangun degan kaget akibat suara alarm yang bunyi meraung-meraung ke setiap sudut kamarnya. Tanpa menoleh ia meraba-raba ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Dengan mata yang masih terasa berat itu mematikan alarm kemudian membanting ponsel itu kembali ke tempatnya. Setelah itu ia menarik bantal dari balik kepala untuk menutup wajahnya. Setelah beberapa pekan terbiasa tinggal di bawah asuhan orangtuanya. Ia harus kembali membiasakan menjalani hidup sebagai pria lajang. Seperti pada setiap pilihan tentu saja ada harga yang ahrus dibayar, namun ia mampu menerimanya. Well, seperti itulah yang ia berusaha ia tekankan dalam kepalanya. Ramiel butuh waktu cukup lama untuk mengumpulkan niat untuk melepaskan bantal itu dari wajahnya dan menyeret tubuhnya untuk duduk bersanda

