Raisa menggenggam tangan neneknya, menatap mata itu terbuka dengan susah payah , " Nek..... "
Nenek menggenggam tangan Raisa lemah, " Baik baiklah, bahagialah. " ujarnya nyaris tak terdengar.
Raisa memahaminya walau telinganya tak mendengar. Tatapan mata itu selalu sama setiap kali mendoakannya. Tatapan dan pesan yang sama sejak dulu... terutama sejak kedua orangtuanya meninggal.
" Ada Luke." bibir kering itu tertutup dan menarik sedikit senyum sebelum memejamkan mata dan tangan dalam genggaman Raisa terkulai.
Raisa terdiam mendengar suara mesin mendengung dan menampakkan garis lurus. Mundur beberapa langkah membiarkan dokter dan perawat melakukan tindakan.
Airmatanya menetes ketika salah satu dari mereka menyebutkan waktu... Selamat jalan, Nek.....
Bibi Yo mengusap punggung Raisa saat melihat gadis itu menunduk mencium neneknya, memberi tanda pada suaminya untuk menghubungi Luke dan Sam.
Paman Yo bergegas keluar ruangan dan menghubungi nomor Luke.
" Cepat sekali? " heran Paman Yo melihat kedua lelaki itu berjalan cepat ke arahnya, padahal ia baru saja memasukkan ponsel kedalam saku celananya " Kalian.., "
“ Kami sudah di parkiran tadi, Paman. " sahut Sam, membiarkan Luke berlari ke dalam kamar.
" Bibi pulang dulu, menyiapkan di rumah." ujar Bibi Yo pada Sam, " Kabari kami. " lanjutnya sambil menatap Raisa yang berada dalam pelukan suaminya, mengawasi perawat melepas beberapa alat bantu yang terpasang di tubuh nenek beberapa hari ini.
" Ya, terima kasih Bi.. Paman.. " Pasangan parobaya itu mengangguk dan berlalu.
Raisa meraih ponsel di sakunya, mengetikkan pesan pendek pada Jessy walaupun tak yakin gadis itu membacanya... nenek meninggal, pulanglah.