Luke membuka pintu perlahan, menatap sosok yang meletakkan kepalanya di tempat tidur nenek. Suara statis mesin medis membuatnya merinding, mengingatkannya pada hari hari tanpa suara yang dipenuhi kekecewaan dan kesedihan beberapa tahun yang lalu.
“ Gak usah memaksakan diri.” Mama mengusap lengan Luke saat melihatnya termangu dengan wajah pucat.
Luke menghela nafas panjang ,” Aku sudah berhari hari membiarkannya sendirian, ma.”
“ Ada mama atau Sam.”
“ Dia istriku, dia membutuhkan keberadaanku.” Luke menetapkan hati, melangkah perlahan memasuki ruangan khusus itu, “ Raisa… “
“ Luke… . “ Raisa mengangkat kepalanya, menatap lelaki yang berdiri dengan postur tubuh tegang dan wajah pucat , “ Kenapa masuk?”
Luke menggeleng, memilih memfokuskan pandangannya pada Raisa, sebisa mungkin menghindari menatap nenek dengan segala macam alat ditubuhnya. , “ Aku akan menemanimu. “
Raisa meraih tangan Luke, dingin… . , “ Sudahlah, ayo keluar. Aku kedinginan dan lapar. “
Luke mengangguk, tanpa sadar bergegas pergi. Dihembuskannya nafas panjang selesai menggantung baju khusus berwarna hijau itu.
Raisa tersenyum tipis, terharu melihat Luke berusaha mengalahkan ketakutan dan traumanya pada kamar ICU demi menemaninya.
“ Mau makan apa?”
“ Apa saja. Aku yakin mama dan Sam punya stock makanan diluar sana.” Diraihnya kembali tangan Luke, masih dingin walaupun sudah tidak setegang tadi.
“ Kalian mau minum? Makan?“ mama bergegas berdiri.
Luke duduk di sofa berwarna hijau dan menarik Raisa untuk duduk bersamanya. Nafasnya masih sedikit berat ketika gadis itu menyusup kedalam pelukannya. Sungguh saat ini dia tidak yakin siapa yang menenangkan siapa.
Sam tersenyum dan bertukar pandang dengan mamanya.