Ada Apa Dengan Nenek

317 Kata
Raisa berlari turun dari mobil yang bahkan belum berhenti dengan sempurna, meninggalkan Sam dan bergegas memasuki rumah melalui pintu yang terbuka lebar. " Bik ada apa dengan nenek ?" tanya Sam, sengaja tidak menyusul Raisa ," Didalam sama siapa ?" " Paman dan bibi Yo. Dokter juga sudah datang." " Ada apa ?" Bibik menggeleng ," Tadi ada tamu ngantar sesuatu. Tapi saya gak tahu siapa, saya lanjut ke tukang sayur. Pulang dari sana nenek sudah di kamar sama bibi Yo. Paman Yo manggil dokter." Sam menghela nafas, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ditepuknya bahu Bibik pelan, " Tolong siapkan keperluan nenek untuk ke rumah sakit. " ujarnya lalu menyusul Raisa, " Bagaimana, dok? " " Harus dirawat, ambulance sudah dalam perjalanan. Tekanan darah melonjak tajam. " dokter segera berdiri mendengar suara sirine ambulance. " Aku ikut ambulance." Sam menghela nafas, menyerahkan kunci mobil pada Bibik, " nanti sopir kantor akan mengambil mobil." ujarnya bergegas menyusul Raisa kedalam ambulance. " Nek...... bangun nek." Bisik Raisa lirih. Tangannya menggenggam erat tangan keriput yang terasa dingin itu. Sam hanya bisa terdiam disamping sahabatnya. Diusapnya lembut punggung Raisa tanpa berkata kata, " Ke rumah sakit Permata Medika. Kami di ambulance." ucapnya singkat saat Luke menelponnya. " Luke ? " Sam mengangguk. " Bukannya seharusnya dia terbang? " Raisa melirik jam tangannya. " Luke batal berangkat, cuma sekretaris dan staffnya yang pergi." Sam menepuk tangan Raisa ketika melihat gadis itu akan buka suara, " Dia suamimu, dia yang harus ada disamping mu." Raisa terdiam dan kembali menatap neneknya... Jangan seperti ini, nek.... aku takut. Jangan tinggalkan aku tanpa sempat bicara apa apa... digelengkannya kepala, mencoba mengusir pikiran buruk dari pikirannya. Luke melangkah cepat menuju ruang tunggu, " Raisa. " Raisa mengangkat kepalanya, " Luke ..." berdiri dan menyusup ke pelukan lelaki itu, " Takuuut." rengeknya pelan dan airmata yang dari tadi tidak menetes kini mengalir deras ketika lengan kokoh itu memeluknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN