Minggu, London, Inggris
Rumah kecil dengan dinding dari batu bata merah itu terlihat sangat gaduh dan kacau. Krystal berlari dari dalam kamar, sambil mengenakan sepatu flat dan blazer-nya dengan tergesa-gesa. Rambut hitamnya yang panjang pun dicepol dengan asal-asalan. Ia berlari ke dapur, meraih pintu kulkas dan mengambil sebotol s**u dengan satu telur dan menceploknya di atas teplon. Setelah itu menuangkan s**u ke gelas dan membawanya ke meja makan kecil, di mana Dio sedang duduk menatap sang Mommy yang sibuk.
“Minum susunya, tunggu telurnya matang. Setelah itu Mommy akan membawamu ke playground, oke!”
Dio meminum susunya dengan patuh, menatap sang ibu yang masih sibuk seorang diri. “Mommy, telurnya belum matang.”
Krystal menoleh pada sang putra, memberikan senyuman kecil sambil meraih roti dan selai. “Makan siang kali ini roti saja, oke. Mommy sedang buru-buru.”
Saat ia mendekat teplon hendak mengangkat telur ceploknya, matanya melebar memandang telor yang masih mentah tanpa ada proses menggoreng, karena kompornya tidak dinyalakan. Sambil meringis pelan, ia kembali beralih ke meja makan dan membuat roti selai storberi.
Menjadi seorang ibu dari anak lelaki berusia empat tahun di usianya yang masih sangat muda, membuat semua pekerjaan rumah yang ditangani selalu berakhir dengan berantakan. Krystal tidak pandai masak, mencuci dan membereskan rumah, ia terlalu sibuk bekerja untuk putranya tercinta. Sambil menggerutu seorang diri, Krystal berlari kembali ke ruang tengah.
“Semua ini karena bos! Andai saja semalam dia tidak memberikanku pekerjaan yang merepotkan untuk membuat daftar wawancara,” gerutunya, mengambil sebuah berkas dan memasukkan ke dalam tas.
“Mommy, aku sudah makan,” kata Dio, mendekati sang ibu.
Krystal berhenti dari ketergesaannya, melirik Dio dan tersenyum dengan bangga. Putranya yang masih empat tahun sudah sangat pandai, sering makan sendiri tanpa disuapi lagi. Anak itu bahkan tak pernah menanyakan siapa ayahnya, di mana ayahnya dan bagaimana wajah ayahnya. Sekali Krystal mengatakan ayahnya sudah di surga, Dio mengerti dan tak pernah bertanya lagi.
Ya, ayahnya selalu ada di surga dunia dengan wanita-wanita cantik! Maki Krystal pada pria itu, ketika sesekali ia teringat Dio tumbuh tanpa ayah.
“Ayo kita pergi! Nanti Mommy jemput kamu di playground, oke. Mommy harus seger ke Silverstone.”
Krystal menggenggam tangan Dio, bersama keluar dari rumah dan menempatkan bocah lelaki itu di baby seat-car, setelahnya ia duduk di balik kemudi. Sebelum melajukan mobilnya, Krystal menarik napas beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh dengan gugup. Setelah lima tahun berlalu, ini pertama kalinya ia kembali mengunjungi Sirkuit Silverstone.
Terakhir kali, Krystal mengenang saat dirinya masih berusia tujuh belas tahun, masih sekolah dan menemani sang ayah untuk menonton British Grand Prix. Saat itulah, sesuatu yang merubah hidupnya dimulai.
Tak ingin lagi mengenang masa lalu, ia pun segera menghidupkan mesin mobil dan memundurkannya dari halaman kecil rumahnya. Ketika hendak melewati pagar kayu yang terlihat sudah jelek, seorang wanita berdiri merentangkan tangan menghalanginya, membuat Krystal harus menurunkan kaca mobilnya.
“Bibi, aku sedang buru-buru. Jadi minggir ya,” katanya pada wanita paruh baya dengan make up tebal di depan mobilnya.
Wanita itu menadahkan sebelah tangannya sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangan lagi. “Mana uang sewanya? Kau sudah dua bulan telat bayar. Aku harus membayar biaya perbaikan kamar mandi rumahku, Krys.”
Krystal mengembuskan napasnya pelan. “Besok, oke. Hari ini aku harus segera ke Silverstone, aku akan mewawancarai pembalap F1 untuk radioku.”
Wanita itu mendekati mobil Krystal dengan mata berbinar. “Boleh aku minta tanda tangan Dionte Arentino nanti?”
Krystal meringis pelan, tapi ia berusaha tersenyum dengan kaku sambil mengacungkan ibu jarinya. “Tentu saja, jadi bibir minggir dan aku akan pergi.”
Wanita itu mengangguk dan mempersilakan Krystal untuk pergi. “Silakan, silakan. Asalkan kau pulang membawa tandatangan Dionte Arentino, oke!”
“Oke!”
******
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dari London ke Silverstone, Krystal tiba tepat tiga puluh menit sebelum dimulainya pertandingan. Ketika ia masuk dan memberikan identitasnya, petugas di sana mengarahkannya ke bagian khusus di mana para jurnalis berada.
Sambil mengatur napasnya yang terengah, Krystal berlari ke bagian para jurnalis sudah bersiap dengan perlengkapan mereka. Saat menemukan rekannya, ia segera menghampirinya. Rekannya menoleh dan menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang selalu berantakan dan sembrono.
“Benahi dulu penampilanmu,” kata rekannya.
Krystal meraih kaca di tasnya, menatap pantulan wajahnya yang nampak berantakan dengan rambut yang acak-acakan dari cepolnya. Ia pun segera membenahinya, menggulung kembali rambutnya dan membenarkan blazer-nya. Setelah selesai, segera memasang headphone dan microphone di blusnya.
Keadaan di arena sirkuit sangat ramai, penuh dengan sorak-sorai dari para pendukung semua pembalap. Setiap tempat penonton begitu penuh, dan luasnya arena sirkuit dengan sinar matahari yang terik membuat Krystal harus menyipitkan mata. Ia mengedarkan pandangannya pada tempat di mana semua tim F1 berada bersama dengan pembalap mereka masing-masing.
Layar besar yang terpampang menampilkan satu persatu dari semua team dan pembalap mereka dengan semua persiapan. Krystal bisa melihat pembalap yang dijadwalkan akan melakukan wawancara dengannya. Begitu layar menunjukan persiapan dari tim Scuderia Ferrari yang didominasi dengan seragam berwarna merah, sorak-sorai semua penonton semakin membahana dan begitu terasa penuh sukacita menyambut pembalap kesayangan masing-masing.
Krystal menatap layar itu sesaat, ketika menunjukan penampilan dari salah satu pembalapnya dengan mengenakan overall khusus pembalap berwarna merah, muncul didampingi dua orang pria dan juga dua orang wanita berpakain serba seksi sambil memegang payung untuknya. Krystal menatap sosok itu yang wajahnya tidak terlihat, tapi ia sudah sangat mengenalnya.
“Kebanggan semua orang,” bisik rekannya dari samping.
Krystal mencebikkan bibirnya, masih memandang pada layar yang masih menampilkan sosok Dionte Arentino sang pembalap dari Italia. Dionte melambaikan tangannya ke sana-sini dengan penuh pesona, membuat keadaan di kursi penonton semakin riuh. Dua pria yang bersamanya membantu Dionte memakai balaclava––sebuah benda lentur yang dipasang di kepalanya untuk melindungi wajah dan lehernya, berbentuk seperti topeng ninja yang menutupi separuh wajahnya.
Seorang model wanita membantu memijat lengannya, selagi Dionte memakai sarung tangannya. Melihat itu Krystal semakin mencebikkan bibirnya ke depan, seakan matanya merasa terbakar melihat pemandangan pembalap top itu yang masih saja tebar pesona.
“Terlalu banyak menebar pesona,” gerutunya.
“Itu wajar, dia kan pembalap lajang paling diincar semua wanita,” balas rekannya.
Layar menunjukkan tim lainnya dan mereka pun melakukan hal serupa dengan Dionte, para pembalapnya memasang berbagai macam peralatan di tubuh mereka sebelum masuk ke mobil untuk melindungi diri. Satu persatu layar menampilkan para pembalap yang sudah bersiap di mobil mereka, memasuki sirkuit dan berjajar di garis strart dengan Dionte Arentino yang berada di bagian paling depan, setelah menjadi yang tercepat pada sesi pole posisition.
Krystal pun bersiap dengan microphone dan headphone-nya, sedangkan temannya mengutak-atik audio mixer portabel yang dibawanya.
“Selamat siang, Sport Lover di mana pun kalian berada! Krystal Louis kembali menyapa kalian langsung dari sirkuit Silverstone. British Grand Prix hari ini akan segera berlangsung. Kami akan memberikan kalian siaran langsung dan wawancara ekslusif dengan para pembalap kesayangan kita. Jangan tinggalkan saluran kalian, dan tetap nantikan!”
Selesai mengatakan itu untuk menyapa pendengar saluran radionya, Krystal segera menurunkan headphone dan mematikan microphone-nya. Rekannya yang berkutat dengan audio mixer pun mulai menyambungkan siara yang dibawakan langsung oleh official comentator ke radio mereka. Begitu pun dengan para jurnalis lainnya yang juga bersiap dengan peralatan mereka.
Karena arena sirkuit yang amat luas, mereka hanya bisa menonton melalui layar besar yang ditampilkan secara langsung dan menunjukan di mana semua mobil F1 berjejer di garis start menunggu dibukanya pertandingan. Tatapan Krystal berpusat pada mobil merah dengan tulisan Dionte Arentino yang cukup menarik perhatian. Mobil merah dengan tulisan Edoardo Nazionale yang paling besar, yang juga merupakan perusahaan minyak bumi terbesar di Italia yang menjadi sponsor utama tim mereka. Mobil Formula 1 merah dengan mesin Ferrari terbaru itu beberapa kali menjadi juara dunia, dan digadang-gadang akan kembali menjadi bintang di musim ini, meski banyak pembalap-pembalap yang mulai meningkat.