Chapter 3

1499 Kata
Krystal masih menatap sosok yang duduk di mobil itu, menggunakan helm dengan keamanan yang amat tinggi. Ingatannya seakan tertarik kembali ke masa lalu, di mana dulu sosok itu belum menjadi bintang. Sosok itu masih begitu muda, baru melangkah ke Formula 1 dari Formula 2 untuk mewakili Italia. Dulu, sosok itu sering finish di urutan belakang, sosoknya belum dikenal luas tapi ketampanan dan pesonanya membuat semua wanita lajang tergila-gila. Krystal sendiri heran, mengapa dulu ia bisa tergila-gila dengan sosok itu. Hanya sekali bertemu ketika ia meminta tanda tangan bersama ayahnya, mendapat satu kedipan seakan hatinya dipenuhi kebun bunga berwarna-warni. Ia tidak tahu, jika sosok itu seorang playboy yang hanya manis di mulut. Krystal bahkan beberapa kali bertemu kembali dengannya di London, menjalani hubungan diam-diam selama satu minggu sampai ia rela menyerahkan kesuciannya. Dulu aku masih polos dan naif, bisiknya dalam hati. Kembali ke pertandingan, layar menunjukkan start sudah dimulai dan semua mobil melaju dengan kecepatan amat tinggi untuk saling mendahului. Ketegangan bercampur dengan sorak-sorai menghiasi arena. Mobil hitam dari Mercedez merebut posisi pertama Dionte Arentino. Seorang pembalap asal Inggris dari tim Rafaella Racing Point, Ben Brinson. Di belakang Dionte, ada rekan satu timnya yang juga menyusul dan menyalipnya. Pertandingan pun berjalan dengan mobil-mobil berbagai warna itu saling overtake, saling mendahului dan sorak-sorakan terus berdengung setiap pembalap kesayangan mereka berhasil mendahului atau mengejar ketertinggalan. Ketika berada di trek menikung di lap ke dua, mobil merah Dionte berhasil overtake kembali Ben Brinson dan memimpin kembali di depan sampai lap ke sepuluh. Krystal masih berdiri menonton jalannya pertandingan, meski sesekali ia meremas-remas tangannya ketika melihat mobil merah Ferrari itu hendak disalip oleh lawan-lawannya. Ketika menuju lap ke dua puluh Dionte masih memimpin di depan meski terus saling merebut dengan Ben Brinson. Ketika di trek yang menikung tajam, mobil hitam Ben Brinson dari belakang mengejar dan menyalipnya, akan tetapi mobil merah itu semakin memacu kecepatan membuat ekor mobil berbenturan dengan badan mobil lawan hingga dua mobil itu terlempar ke luar jalan. Suara sorakan semakin menggema dengan heboh dari kursi penonton, bersama dengan suara dua komentator yang seakan menjerit-jerit melihat dua bintang lapangan musim ini terlempar dari jalan. Dua mobil itu kembali melaju dan mobil Dionte memasuki Pit stop untuk berganti ban dengan cepat, lalu kembali ke lintasan. Pertandingan terus berlangsung, sorakan demi sorakan tak ada hentinya. Antusiasme semua orang pun seakan dipacu dengan keras, melihat bintang baru yang bisa menjadi saingan terberat Dionte Arentino sang juara bertahan musim lalu. Krystal berkali-kali meremas tangannya sampai basah oleh keringat. Setelah melewati lima putaran dari posisi ke sepuluh, Dionte kembali memimpin di depan bersama dengan Ben Brinson. Setelah mobil merah itu memimpin kembali, Krystal mengembuskan napasnya dan menyeka keringat dari dahinya. Musim panas kali ini terasa semakin panas saja dengan adanya pertandingan. Melihat mobil Dionte beberapa kali disalip, berada di urutan kedua bahkan ketiga di beberapa lap setelah memasuki pit stop, membuat Krystal diam-diam berdoa agar ia kembali memimpin. Meski rasa benci masih bersemayan di hatinya, akan tetapi dari bagian terdalam hatinya ia tak ingin melihat orang itu mengalami kesulitan. Ketika pertandingan memasuki Lap ke 51, Dionte dan Ben Brinson masing saling menyalip dengan mobil Dionte berada di urutan kedua. Setelah memasuki last lap, di tikungan terakhir mobil merah Ferrari itu menikung tajam dan dengan gerakan mulus merebut posisi pertama hingga garis finish. Semua sorakan kegembiraan bergema semakin keras, karena sang bintang dan juara bertahan kembali berhasil finish paling depan. Krystal menoleh ke rekannya di belakang, mengambil duduk dan merebahkan tubuhnya dengan lega. Setelah pertandingan berhasil, sukacita semakin menjadi-jadi dan official commentator masih memberikan komentar mereka. Rekannya mengacungkan jempol tanpa suara, membuat Krystal memakai kembali headphone-nya, dan mengaktifkan microphone. “Krystal Louis kembali! Pertandingan hari ini berhasil dilalui dengan berbagai drama di lapangan. Bintang dari Italia dan juga juara bertahan musim lalu berhasil merebut kembali posisi pertamanya di pertandingan pertama pada musim ini! Jagoan kita Ben Brinson harus menerima finish di posisi kedua. Itu sebuah kebanggan bagi warga Inggris! Sebagai tuan rumah Ben Brinson akan sangat bangga berhasil finish di posisi kedua setelah debut pertamanya musim ini di Formula One. Krystal Louis akan kembali lagi dalam segmen wawancara ekslusif dengan Ben Brinson.” Rekannya mencolek bahu Krystal yang segera menoleh. “Dionte Arentino, bukan Ben Brinson.” Krystal melotot dengan lebar dan mulut memaki tanpa suara. Apa bos mereka sudah tidak waras? Kenapa ia harus mewawancarai Dionte, sedangkan Ben Brinson adalah pembalap dari negeri mereka sendiri. Tak mau menuruti permintaan rekannya, Krystal tetap melanjutkan siarannya kemudian menutupnya dan saluran disambung kembali oleh suara komentator. “Apa bos gila?” gerutunya setelah melepas headphone dan microphone. “Yah, mau tidak mau kau harus mewawancarai Dionte Arentino juga, atau bonusmu tidak dibayarkan.” “Dasar tukang peras,” gerutunya lagi. Sambil merenggut tas dan berkas wawancara, Krystal berjalan meninggalkan tepat itu bersama dengan beberapa jurnalis yang sudah turun untuk ke lapangan dan meliput para pembalap. Sambil meneruskan langkah menuju lapangan, Krystal meraih syal tipis dari tasnya, mengenakannya di kepalanya dan menutupi separuh wajahnya. Untuk bertemu dengan Dionte Arentino, setidaknya ia butuh persiapan dan senjata untuk menghadapi kekasih masa lalunya. Semua jurnalis pergi ke berbagai tim, sedangkan Krystal pertama pergi ke tim Rafaella Racing Point Team, di mana banyak sekali jurnalis dari berbagai negara berkumpul untuk meliputnya dan mewawancarainya. Melihat itu, Krystal seakan tak bisa secara ekslusif melakukan wawancara, ia hanya berasal dari perusahaan radio yang tidak besar di London. Berdesak-desakan dengan jurnalis dan wartawan lainnya, Krystal berusaha mendekati pembalap berseragam hitam itu. Ia tak pernah melihat wajah Ben Brinson seperti apa, meski dirinya seorang penyiar olahraga tapi ia tak pernah menonton pertandingan secara langsung, bahkan tak mau lagi mencari tahu. Ketika mengeluarkan perekam, seseorang mendorongnya dari belakang, membuat Krystal hampir tejatuh tapi sebuah tangan besar dan agak kasar menahan pinggulnya, membuat semua orang yang ada di sana bersorak padanya. “Maaf, maaf. Seseorang mendorongku!” katanya meminta maaf. Ketika mengangkat kepalanya, ia berhadapan dengan sosok tinggi dalam balutan overall hitam yang masih memakai helmnya, sosok itu membuka visor helmnya hingga menampilkan sepasang mata berwarna biru cerah. Ben Brinson! Krystal menjerit dalam hati. Belum sempat itu mengulurkan perekamnya, jurnalis lain kembali mendorongnya ke belakang hingga Krystal kembali tersingkir dan hampir jatuh. Ia menggerutu dengan kesal dan ingin sekali menendang semua orang dari sini. “Ugh! Ini benar-benar merepotkan. Sepertinya aku harus pergi ke pembalap lainnya lebih dulu.” Saat ia akan meninggalkan tim Ben Brinson, dia menghubungi temannya dan segera muncul suara di telinganya dari earphone. “Krys! Krys! Kau di sana? Pergi ke tim Dionte Arentino.” “Ugh!” gerutunya lagi dengan wajah cemberut. **** Melihat keadaan di tim Dionte Arentino, semua orang sedang merayakan kemenangan mereka dengan sukacita. Pembalap utama mereka yang baru saja finish di garis depan sedang diangkat oleh semua orang dalam tim. Dionte di angkat dan dilempar ke udara, kemudian ditangkap dan semua orang bersorak dalam selebrasi penuh sukacita. Ini kemenangan Dionte yang kedelapan di musim ini, dan hanya dua kali finish di urutan kedua. Krystal yang melihat hal itu pun ingin berbalik dan pulang saja, menjemput Dio dan mereka menonton film kartun bersama. Bagaimana pun bertemu kembali dengan mantan kekasihnya dulu, ia belum sepenuhnya siap. Para jurnalis dan wartawan berkerumun di luar penjagaan, begitu orang-orang timnya menurunkan Dionte, pria itu segera melepaskan helm beserta balaclava hingga menampilkan seluruh fitur wajahnya yang memesona dan enerjik. Tatapan tajam dari mata cokelat madu itu membuat semua wanita menahan napas sejenak. Berbeda dengan Krystal yang berusaha menutupi sebagian wajahnya dengan syal sambil menggenggam perekam dan berkas berisi pertanyaan wawancara. Para jurnalis itu masih belum diberi kesempatan untuk mendekati Dionte, karena para pembalap tiga teratas pun harus pergi untuk menaiki podium dan menerima tropi kemenangan mereka pada GP kali ini. Dionte berdiri podium pertama dengan mengenakan topi merah bertuliskan Ferrari, terlihat begitu tinggi dan sulit diraih. Di podium kedua ada Ben Brinson yang tersenyum ramah pada semua orang. Krystal bersama para jurnalis berdiri di dekat besi pembatas tak jauh dari podium. Ia mengeluarkan kameranya dan memotret Ben Brinson dan peraih podium ketiga, tanpa peduli pada Dionte yang berdiri di tengah. Ketika gadis podium memberikan botol sampanye besar pada masing-masing dari mereka, saat itulah Krystal memotret Ben Brinson dan tersentak ketika seseorang mendorongnya dari belakang hingga syalnya terlepas dari kepala dan menampilkan wajahnya. Saat itu juga, tanpa diduga tatapannya bertemu pandang dengan tatapan tajam dari mata cokelat madu di atas podium. Ia kembali tersentak dan tak melakukan apa pun, karena Dionte memandangnya dengan tajam dan dingin. Seakan tubuhnya disiram air es, Krystal segera mengalihkan tatapannya kembali pada Ben Brinson untuk memotretnya. Saat para pembalap itu membuka botol sampanye mereka setelah dikocok beberapa kali, mereka menyemburkannya ke segala arah bersama dengan konfeti yang berjatuhan menghujani mereka. Keadaan semakin riuh dan menggema ke segala penjuru arah. Ketika Krystal memeriksa hasil jepretannya pada Ben Brinson, tiba-tiba dari arah podium cairan sampanye menyembur ke arahnya dan mengenai pakaiannya, bersama beberapa jurnalis yang terciprat sedikit. Semua orang menoleh pada Krystal yang membeku dengan wajah terkejut. Ia mendongak dan menatap Dionte yang menyeringai padanya dengan tatapan misterius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN