Sambil menahan kesal, Krystal menyeka cairan sampanye dari lehernya dan mendorong orang-orang agar memberinya jalan. Dengan wajah cemberut menahan kesal, ia berjalan menghentakkan kakinya menjauhi kerumunan orang-orang, meski ada diantaranya yang menatapnya dengan aneh karena basah di bagian d**a.
“Sialan! Aku benar-benar ingin mencekiknya,” gerutunya dengan kesal. “Jelas-jelas dia melakukannya dengan sengaja padaku!”
Sambil mengeringkan pakaiannya dengan tangan, tiba-tiba ada sebuah handuk kecil berwarna biru yang terulur di depannya. Krystal menoleh untuk melihat sosok yang memberinya handuk sebelum meraihnya. Sosok tinggi dengan overall hitam, wajah tenang dan tampan berada di depannya. Dengan canggung Krystal meraih handuknya untuk menyeka leher dan pakaiannya.
“Terima kasih,” katanya dengan wajah tak percaya.
Ben Brinson memberiku haduk! Jeritnya dalam hati.
“Lain kali berdiri sedikit lebih jauh dari podium,” katanya, dengan suara yang dalam dan maskulin.
Krystal menganggukan kepalanya dengan senyum manis. “Sekali lagi, terima kasih, Mr. Brinson.” Diam sejenak, Krystal ingin menanyakan perihal wawancara, tapi seseorang dari timnya datang dan berbisik pada Ben Brinson.
“Jika kau ingin wawancara, temui salah satu orang dari timku, aku bersedia,” katanya, seakan tahu apa yang ada di benak Krystal.
Dengan wajah berbinar senang Krystal mengangguk kembali. “Terima kasih banyak!”
Kemudian Ben pun pergi meninggalkannya bersama timnya. Krystal tak menyangka pembalap sekelas Ben Brinson begitu baik dan penuh pengertian, dan ketika ingatannya kembali pada Dionte, rasanya mulutnya seperti memakan banyak sekali cabai yang ingin dimuntahkan.
Temannya kembali menghubungi dan Krystal menerimanya. “Krys! Krys!” suara dari earphone-nya kembali berdengung di telinganya.
“Hm, ada apa?”
“Kau sudah mendapatkan waktu wawancara dengan Dionte Arentino? Ingat bonus yang ditawarkan, kita harus berhasil. Lakukan apa pun caranya, oke.”
Krystal mengembuskan kembali napasnya dengan wajah cemberut. Lagi-lagi ia diingatkan untuk mewawancarai pria itu. Demi bonus bulan ini, dia harus melakukannya meski harus menahan kebenciannya pada pria itu. Sambil berlari kembali ke tim Ferrari, ia harus berdiri di belakang para jurnalis lain yang sedang melakukan wawancara dengan Dionte. Diam-diam ia memerhatikan pembalap itu, dengan seorang wanita cantik dan seksi yang memegangi payung untuknya.
Setelah sesi wawancara selesai dan semua orang bubar, Dionte kembali bergabung dengan timnya tapi Krystal segera berlari ke depannya dan memblokir jalannya dengan senyum ramah.
“Selamat sore Mr. Arentino. Saya Krystal Louis dari radio London’s Today. Apakah saya bisa melakukan sesi wawancara bersama Anda?” tanyanya dengan sikap ramah dan profesional.
Dionte menatap Krystal dengan wajah datar, sebelah alisnya terangkat seakan meremehkannya. Tatapan tajam itu menelusuri wajah Krystal kemudian turun ke tubuhnya, membuatnya merasa sangat tak nyaman ditatap seperti itu. Krystal berdoa agar Dionte tidak mengenalnya lagi, dan semuanya cepat berlalu agar ia bisa segera pulang untuk mendapatkan bonus dan bisa membayar sewa playground Dio.
Dionte masih menatapnya, kemudian berdecak pelan dengan wajah berpikir. “Sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu,” katanya.
Krystal mencengkeram kamera dan berkas di tangannya dengan erat, jantungnya seperti berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak mengharapkan pria itu masih mengingatnya, karena mereka hanya berkencan sebentar di masa lalu, meski menghasilkan buah sesudahnya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Dionte berjalan melewati tubuh Krystal bersama dengan model cantik dan seksi itu. Wajah Krystal semakin cemberut kesal, karena bayangan bonus besar dari bosnya akan segera lenyap.
“Ikutlah denganku,” kata Dionte, tanpa menoleh lagi.
Krystal mengangkat kedua alisnya sambil berpikir sejenak, tapi model yang bersama Dionte tersenyum sambil menoleh. “Nona bisa ikut kami ke dalam,” katanya.
Dengan bibir melengkungkan senyuman senang, Krystal pun mengikuti mereka ke dalam di mana semua orang dari timnya ada di sana. Mobil Dionte ada di tengah dan sedang diutak-atik oleh orang-orang dari tim Ferarri. Seorang pria menghampiri Dionte, berbicara sebentar kemudian pergi lagi. Di sana pun ada beberapa mobil F1 lainnya berwarna merah dengan banyaknya peralatan otomotif yang tidak Krystal ketahui.
Dua model yang bersama Dionte pun berhenti sampai di sana, mereka tidak ikut lagi. Sedangkan Krystal mengikuti Dionte sampai ke ruang ganti. Ketika pria itu membuka pintu, ada keraguan sejenak dalam hatinya. Berada di ruang ganti hanya berdua dengan pria yang pernah menghabiskan waktu singkatnya bersamanya dulu, rasanya terlalu mengerikan jika itu kembali terulang.
Krystal bergidik ngeri, dan berkata pada dirinya sendiri, cukup di masa lalu aku tak mau terkena bujuk rayunya lagi.
Mereka masuk ke ruang ganti, Krystal melangkah ke depan dan Dionte menutup pintunya dengan perlahan di belakang. Sambil mengedarkan pandangannya, ia melihat baju-baju dengan logo Ferrari dan memiliki nama Dionte Arentino. Saat berbalik, ia melihat pria itu sedang bersandar di pintu, dengan kedua tangan terlipat di d**a dan sebelah kaki yang disilangkan di ujung kaki lainnya.
Ada senyum samar dan misterius di bibir sensual Dionte. “Halo, Ex,” sapanya.
Krystal bergidik ketika rasa dingin menyelusup ke tubuhnya hingga membangkitkan bulu kuduknya. Ia mundur dan menatap Dionte dengan waspada, ketika pria itu berjalan mendekatinya seperti seekor singa pemburu yang menemukan mangsanya.
“Siapa yang Anda panggil ‘Ex’?” tanyanya dengan suara sopan dan profesional.
“Melupakanku? Atau pura-pura melupakanku?” tanya Dionte lagi, masih mendekat.
Krystal terus mundur sampai punggungnya tertahan oleh dinding di belakangnya, tapi Dionte masih maju hingga jarak diantara mereka semakin menipis. Ketika hanya tinggal satu langkah, pria itu berhenti dan memberinya seringai misterius.
“Sepertinya aku belum melupakan wajahmu sepenuhnya,” katanya lagi.
Krystal masih menatapnya dengan tenang dan profesional, meski dalam hati ia menjerit-jerit ingin cepat pulang. Aduh! Aduh! Aduh! Jangan mendekat lagi.
“Kau banyak berubah dari lima tahun yang lalu.”
Tentu saja! Aku yang dulu masih tujuh belas tahun, dan sekarang sudah 22 tahun! Teriaknya dalam hati, tapi ia tak cukup berani berteriak langsung.
Tatapan Dionte fokus pada wajah Krystal membuat wanita itu tak nyaman dan memalingkan pandangan, kemudian pandangannya turun ke d**a Krystal yang terlihat berisi dari balik blus dan blazer-nya, lalu turun ke pinggang ramping dan pinggulnya yang juga lebih berisi dibalik celana bahan yang cukup ketat.
“Aku masih ingat, terakhir kali pinggul dan dadamu masih datar.”
Perkataan Dionte tentang tubuhnya seakan menampar Krystal kembali pada kenyataan bahwa dia membenci pria itu. Dengan wajah cemberut dan tak senang, Krystal balas menatap pria di depannya dengan berani.
Tentu saja! Karena aku sudah melahirkan dan menyusui anakmu!
Akan tetapi yang keluar dari bibirnya bukanlah kata-kata itu. “Mr. Arentino, berhenti menatap tubuhku seperti itu. Anda tak ingin ini dianggap sebagai pelecehan seksual, kan? Saya bisa menuntutmu,” katanya dengan nada tegas. Aku juga bisa mendapat uang dari tuntutanku untuk bayar sewa rumah, lanjutnya dalam hati.
Dionte terkekeh pelan, membuat Krystal semakin sebal. Bukannya mundur dan takut dengan ancaman Krystal, pria itu semakin mendekat hingga mempersempit jarak diantara mereka. Masih dengan posisi punggung menempel dengan dinding, Krystal tak bergerak saat Dionte menekan telapak tangannya di sisi kepalanya.
Dionte merundukkan kepalanya hingga tatapannya semakin bertaut dengan tatapan Krystal yang berani dan tak goyah. “Katakan, kau masih mengingatku dengan jelas.”
Krystal tertawa dalam hati, ingin sekali menampar wajah tampan di depannya. Namun ia hanya berdeham dan memberikan jawaban lurus serta datar, “Tentu saja, siapa yang tidak mengenalmu. Dionte Arentino, pembalap F1 dari Italia.”
Selama beberapa saat tatapan mereka beradu, seakan sedang berperang satu sama lain sampai Dionte menarik tubuhnya dan mundur dengan kedua tangan bersedekap di d**a. Sikapnya begitu arogan dan juga maskulin. Aura seksinya masih memancar dengan kuat.