Chapter 5

1199 Kata
“Apakah saya bisa mewawancarai Anda?” tanya Krystal lagi, masih dengan sikap profesional. Dionte bergeming, ia masih betah menatap Krystal dengan seringai seksinya kemudian mengangguk dengan tatapan misterius. “Tentu saja, tapi ada syaratnya.” “Jika itu mengenai pembayaran atau apa pun, Anda bisa berurusan dengan bos. Saya hanya bertugas melakukan wawancara. Saya bisa melakukan wawancara di depan, tapi itu keinginan Anda sendiri melakukannya secara pribadi.” Dionte terkekeh pelan, ia kembali mendekat dan menekan satu tangannya lagi di dinding samping kepala Krystal. “Bukan itu syaratnya,” katanya. Pria ini ... benar-benar banyak maunya! Gerutu Krystal dalam hati dengan kesal. “Pertama, kau harus mengakui masih mengingatku,” katanya. Krystal mengerutkan dahinya, memandang Dionte dengan datar dan hampir memutar bola matanya. Ternyata ada beberapa syarat. “Kedua ...” Dionte menggantungkan ucapannya. Dengan senyum seksi yang masih bertahan, sebelah tangannya terulur ke wajah Krystal. Mendapat serangan telak secara mendadak seperti ini membuat Krystal panik dan memikirkan cara agar segera menyelesaikan ini semua tanpa ada yang terjadi diantara mereka berdua. Mungkin sekali saja Dionte menyentuh salah satu titik sensitifnya, ia bisa saja menendang selangkangannya dengan tepat dan berakhir dengan masalah. Saat tangan besar dan hangat itu menyentuh rahangnya, Krystal sudah mengambil ancang-ancang untuk menendangnya. Jari jemari kokoh itu bergerak ke pipinya, terus bergerak ke bibirnya sampai ibu jarinya menyentuh bibir merah Krystal yang lembut. “Satu ciuman untuk satu pertanyaan,” kata Dionte kemudian, dengan aksen Italia yang begitu berat, terdengar baku namun sangat seksi. Krystal hampir tersedak ludahnya sendiri, ia menggeram kesal dan emosinya meledak begitu saja. Tanpa diduga ia membuka mulutnya hingga ibu jari Dionte masuk ke mulutnya kemudian menggigitnya, membuat pria itu terkejut sambil menarik tangannya dan mundur. “Aduh!” katanya sambil mengibas-ibaskan tangannya. Krystal tersenyum dengan sikap berani, ia menyandarkan tubuhnya di dinding dengan santai meski dadanya bergemuruh dan ingin kabur. “Bagaimana, Mr. Arentino? Apakah itu sudah cukup? Saya sudah pasang perekam dan bisa dijadikan bukti sebagai pelecehan seksual.” Dionte memandang Krystal dengan wajah santai sambil mengedikkan bahunya, kemudian berjalan ke kursi panjang yang ada di sana dan mendudukkan diri. “Oke, oke. Kau menang. Silakan ajukan pertanyaan, agar radio tempatmu bekerja mendapat rating yang tinggi.” Krystal tersenyum penuh kemenangan, ia mendekat seraya menarik kursi dan duduk di depan Dionte dengan sebelah kaki bertumpang di kaki lainnya. Mengeluarkan perekam suara dan berkas berisi pertanyaan wawancara. “Terima kasih atas kerjasamanya. Pertanyaan pertama ... di musim ini, apa rencana Anda ke depannya sampai musim berakhir?” Dionte menatap Krystal tanpa mengalihkannya sedikit pun. “Tentu saja untuk terus menang dan meraih podium satu.” “Apakah di musim ini ada saingan terberat Anda?” “Aku rasa semua pembalap di musim ini sangat berbakat, dan siapa pun bisa menjadi saingan terberatku,” jawab Dionte lagi, masih memandang Krystal. Krystal mengangguk pelan, membaca kembali pertanyaannya meski ia merasa ada sepasang mata tajam terus menatapnya tanpa henti seakan hendak menembus jantungnya. Menghantarkan rasa panas ke sekujur tubuhnya. “Setelah GP Inggris, apakah Anda ada rencana lainnya sebelum menghadapi GP Australia nanti?” “Ada, menghabiskan waktu luangku di Inggris sementara dan kembali ke Italia sebelum ke Australia.” “Oke. Lalu, menurut berita yang beredar bahwa Anda saat ini dalam hubungan pertunangan, apakah itu benar?” tanya Krystal. Dahinya mengerut dengan wajah terkejut saat ia membaca pertanyaan itu karena terasa sangat aneh. Ini kan pertanyaan untuk sesi wawancara bersama Ben Brinson, kenapa aku salah membuka berkasnya? Ringis Krystal dalam hati. Sebelum Dionte menjawab ia ingin buru-buru mengoreksi, tapi pria itu sudah menjawabnya dengan cepat, “Aku tidak dalam hubungan apa pun.” Krystal mendongak dan saat itulah Dionte mengedipkan sebelah mata padanya, membuat Krystal membeku sesaat sebelum ia kembali pada kenyataan. Lima tahun yang lalu, dia juga terjatuh karena kedipan ini! Krystal bertekad tak akan lagi termakan oleh bujuk rayu Dionte Arentino! Lalu pertanyaan-pertanyaan selanjutnya ia baca lagi, setelah kembali membuka halaman berikutnya yang berisi pertanyaan untuk Dionte Arentino. Pertanyaan antara dua pembalap ini cukup berbeda, dan Krystal tak ingin salah lagi. Setelah semua pertanyaan selesai, Krystal segera bangun tapi Dionte masih duduk dengan tenang. Pria itu justru menurunkan ritsleting pakaian balapnya hingga sebatas pinggangnya, kemudian menurunkannya. Dadanya terlihat sangat kokoh dengan bahu lebar dan kedua lengan yang berotot, dia terlihat sangat maskulin. Demi menjaga pandangan dan hatinya, Krystal pun memalingkan wajahnya. “Terima kasih banyak atas kerjasamanya, Mr. Arentino.” Krystal mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai formalias yang segera dibalas oleh Dionte. Akan tetapi pria itu tidak segera melepaskan tangannya, justru menariknya hingga tubuh Krystal tertarik ke depan dan terjatuh dalam dekapannya. Dengan wajah kaku dan terkejut, Krystal tak menyadari ketika ia duduk di pangkuan Dionte dan pria itu diam-diam menarik tali cepolan rambutnya hingga tergerai. “Krys, jangan lagi berpura-pura kita orang asing,” bisik Dionte. Bisikan pria itu menarik Krystal pada kenyataan, dan dengan hentakan keras juga wajah merah karena marah, Krystal mendorong d**a Dionte dan segera bangun. Ia menatap pria itu dengan marah dan tersinggung, meski hatinya bergemuruh dengan kuat. Tanpa mengatakan apa pun, Krystal segera berlari keluar dari ruang ganti. Ia melintasi tempat di mana orang-orang dari tim Dionte yang memandangnya dengan heran, karena keluar dari ruang ganti Dionte dalam keadaan kusut dan berantakan. Ada sebagian yang menggelengkan kepala, karena berpikir bahwa Dionte baru saja mempermainkan seorang jurnalis. ******* London, Inggris. Hari sudah malam, menunjukkan pukul 7.30 malam yang artinya waktu makan malam sudah terlewat. Dengan wajah setengah kosong, setengah sadar seakan pikirannya berhamburan di mana-mana, Krystal tiba di London setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih karena ia harus beberapa kali berhenti ketika hampir menabrak mobil lainnya saat mengemudi. Bertemu kembali dengan Dionte, berada dalam satu ruangan dengan pria itu membuatnya berada dalam kekacauan total. Bagaimana pun Krystal tak ingin lagi jatuh seperti dulu. Selama ini ia berpikir pria itu sudah melupakannya sejak awal, dan hanya menjadikannya mainan selama di London, tetapi tanpa diduga Dionte masih mengingatnya. Bahkan pria itu mengingat seperti apa tubuhnya di masa lalu. Hal yang harus ia lakukan; jangan membiarkan Dionte mengetahui tentang keberadaan Dio, dan ia harus bersikap acuh tak acuh agar tak lagi terjatuh pada lubang yang sama. Setelah tiba di London, ia segera pergi ke playground di mana Dio dititipkan. Saat memasuki playground, lampu-lampu bagian dalamnya sudah dimatikan, yang menandakan sudah tak ada lagi orang di dalam. Namun pandangan Krystal mengarah pada kursi tunggu di sebelah kanan, di mana seorang anak kecil sedang duduk bersama seorang pria dewasa. Krystal segera berlari dan berlutut di depan Dio. “Mommy!” pekik Dio dengan senang. Krystal tersenyum, hatinya terasa dicubit dengan keras melihat Dio yang masih menunggunya untuk menjemput di playground. Anak itu memeluk lehernya dengan erat, dan Krystal pun menciumi kepalanya tanpa henti. “Maafkan Mommy, sweetheart, maaf,” bisiknya dengan penuh rasa penyesalan. Semua ini karena ayahmu yang sudah ada di surga! “Mommy, uncle Ren bilang Mommy bekerja mencari uang untuk kita membeli es krim.” Krystal melepaskan pelukannya, menangkup pipi gembil Dio dengan hangat. “Iya, sweetheart. Setelah Mommy mendapat bonus, kau bisa makan es krim sepuasnya!” “Hore! Mommy janji?” “I promise,” balas Krystal sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang segera disambut oleh Dio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN