Tujuh Belas

1227 Kata

"Clarisa, sudah!" Pak Wirya membentak sang anak agar tak berbicara macam-macam. Memang istri dan anaknya tidak bisa melihat hal yang membuat mereka ingin melontarkan kalimat kasar. "Saya hidup baik sebelum kembali ke rumah ini. Bukan gembel yang kamu bicarakan. Dan takdir yang membuat saya kembali ke pelukan kedua orang tua saya," ujar Suci tegas. Ia tidak mau ada yang kembali menindasnya. Clarisa harus tahu jika dirinya tidak bisa disepelekan. "Pintar bicara juga," cibir ibu Ajeng. Ibu Yuni mengelus pundak sang anak. Sikap kakak iparnya memang keterlaluan sekali. Namun, ia yakin Suci mampu menghadapi dengan elegan. Anaknya sangat kuat menghadapi orang seperti mereka karena Suci memang terbiasa menghadapi mereka yang bermuka dua. "Walau nggak sekolah di luar negeri, setidaknya mulut d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN