** Kedua kaki jenjang itu melangkah menyusuri koridor dengan anggun seperti biasa, jemari lentiknya bergerak menyusuri rambut coklat sepinggulnya sebelum merapatkan cardigan selutut yang membalut tubuhnya. Kedua mata keemasannya menatap lurus kedepan, mata yang terlihat indah namun membuat siapapun tidak ingin berlama lama menyelaminya. Kedua mata yang jelas menyimpan duka mengerikan. "Selamat pagi!" Satu kecupan hangat itu jatuh dipipi kirinya, ia mengerjap sekali sebelum menoleh menatap sepasang mata abu abu yang menyorot dingin namun menyunggingkan senyuman hangat dari bibirnya. "Sudah lebih baik?" Masih terdiam, menatap lekat lekat pria yang memiringkan kepalanya dan ikut menatapnya lekat lekat. Bukankah ia yang harus bertanya? "Hei, apa aku perlu bergulat dengan Arash lagi ag

