** Elbara mengerang keras saat Marko menendang tulang keringnya, menatap kesal sepupunya yang melemparkan tatapan penuh peringatan kearahnya. Lebam diwajah tampannya sudah terlihat samar meskipun masih menyisahkan rasa perih yang berdenyut hingga seringkali membuatnya meringis. "Apa lagi?" "Setelah kau pindah ke sekolah ini, hidupku tidak pernah tenang." "Ayolah." Elbara kembali mengerang saat Marko kembali menendang tulang keringnya. "Arash meledakkan mobilmu, jangan salahkan aku jika Paman mendengar ini dan menganggapnya serius." Elbara terkekeh pelan membuat Marko nyaris kembali menendang tulang kering pria itu dengan lebih kuat. "Kau ini, Elbara." "Aku akan bertanggung jawab." "Tapi kau harusnya sadar siapa Ayahmu, dia bisa saja mengira salah seorang musuhnya yang melakukan

