Siapa dia?

1063 Kata
Dalam cakupan satu, dua, atau tiga hari, semuanya memang baik-baik saja. Masing-masing antara karyawan memang tidak ada yang menunjukkan jika adanya rasa suka di dalam hati. Hanya saja, paras tampan yang dimiliki oleh Bobby memang dapat membuat siapa saja akan langsung luluh begitu saja. Namun, ada satu perempuan yang memiliki sifat yang sangat blak-blakan. Di saat itu, bertepatan sekali dengan jam istirahat, dan jika dilihat dari wajah, jika Bobby itu sudah merasa sangat lelah sekali. "Halo! Gue Sisil, salam kenal," sapa perempuaan cenntil yang memiliki nama panggilan Sisil itu. Dan di sini, dengan sangat kikuk sekali Bobby langsung menjabat tangan milik perempuan yang saat ini ada di depannya. "Halo." 'Loh, kok jawaban dia cuma kek gitu doang sih? Bikin gue heran aja, deh!' gerutu Sisil, tetapi sebisa mungkin ia harus tetap memasang wajah yang sangat ramah sekali. Maklum saja, jika saat ini memang pendekatan yang pertama kali ia lakukan, jadi memang harus dipastikan jika semuanya itu good. Berpura-pura untuk melihat ke arah jma tangan yang berada di pergelangan tangan sebelah kiri, lalu Sisil pun kembali berucap, "Eum ... ini kan udah masuk waktu jam istirahat." Sisil tak melanjutkan apa yang tadi ia ucapkan, tetapi perempuan itu justru semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Bobby, lalu mengedipkan kedua mata dengan bersamaan. "Maaf, saya masih banyak sekali kerjaan. Permisi," ucap Bobby pada akhirnya, tetapi pada detik itu juga Sisil justru mencekal pergelangan tangan Bobby. "Jangan pergi, gue mau ngajak lo buat makan siang." Dengan segera Bobby berusaha untuk melepas cekalan tangan darii perempuan yang sudah merasa sok akrab sekali itu. "Maaf, silahkan kamu bisa ajak orang lain! Jangan memaksa." Setelah berucap seperti itu, tanpa ada sepatah kata lagi Bobby langsung melangkahkan kaki menjauh dari perempuan yang bernama Sisil itu. Bagaimanapun juga, Bobby memang harus menjaga perasaan. Apalagi ia sangat menyayangi Melly, rasanya sangat tidak mungkin sekali jika harus berselingkuh atau mencari perempuan yang lain. Takdir mungkin memang sangat suka jika Melly dan juga Bobby bertemu, karena meskipun mereka berdua sudah berbeda tempat untuk bekerja, tetapi tanpa memiliki janji puun keduanya selalu saja dipertemukan. "Mau makan siang?" tanya Bobby, dengan kedua mata yang langsung menatap awas ke arah sekitar. Tak hanya Bobby yang seperti itu, karena pada kenyataannya juga Melly berbuat hal yang serupa dengan Bobby. "Yuk makan!" Suara Bobby kembali terdengar, membuat Melly sedikit terkejut dan hanya bisa mengusap d**a dengan sangat pelan. Pada akhirnya, mereka berdua pun langsung melangkahkan kaki menuju ke salah satu mea yang masih kosong. Namun, di sini ada hal yang berbeda. Yaitu, jarak dii tengah--tengah mereka yang sangat kentara sekali. Hal itu tentu saja memiliki tujuan supaya tidak ada orang yang menaruh curiga, bisa memiliki akibat negatif jika sampai itu terjadi. Memang boleh jika dalam satu meja makan, atau ada suatu kejadian yang mengharuskan dua jenis kelamin berbeda itu bersatu. Hanya saja tidak diperblehkan untuk menaruh rasa. Banyak jjuga yang di sekitaran sini bervanda riang dengan lawan jenis, tetapi bukan dua orang saja. Ada banyak teman yang lainnya, ikut berbincang dan juga berbaur. "Pak! Kok berduaan aja? Hayo, jangan bilang ...." Sisil sangat sengaja untuk tidak melanjutkan apa ynag tadi ia ucapkan. Karena perempuan itu memang ingin tahu bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh Bobby. Detik itu juga Bobby langsung menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Bukan. Jangan punya pikiran yang aneh! Hanya saja tidak ada tempat duduk yang lain." Mendengar jawaban yang diutarakan oleh Bobby, membuat Sisil langssusng menganggukkan kepala dan berucap, "Loh, iya ya, Pak. Enggak ada meja lain." Dengan segera peremepuan itu menggeraakkan tangan kanannya untuk meraih kursi yang tak jauh dari posisi berdirinya saat ini. "Gue gabung di sini ya, Pak. Daripada kalian berdua justru kena fitnah!" Mau tak mau, Bobby dan Melly mengiziznkan jika Sisil ikut duduk dan akhirnya di dalam satu meja itu ada tiga orang yang akan makan. "Okey, karena gue yang datang ke sini paling terlambat. Jadi, biar gue aja yang ke sana nyari makanan. Kalian mau makan apa?" ucap Sisil, yang langsung berdiri dan juga bersiap untuk melangkahkan kaki menuju ke tempat pemesanan makanan. "Kita ngikut aja ya," sahut Booby, lalu melirik ke arah Melly yang ternyata sudah memasang wajha cemberut. Tak ada perkataan apa pun lagi yang terlontar oleh Sisil, karena perempuan itu langsung melangkahkan kaki menjauh dari meja tersebut. "Kenapa, Sayang? Kok wajahnya cemberut gitu?" tanya Bobby, saat mendapati sang kekasih yang memajukan mulut dengan sangat sengaja sekali. Ingin sekali jika saat ini Bobby berpindah posisi duduknya menjadi tepat di samping Melly, tetapi situasi dan juga kondisi nyatanya tidak memungkinkan sekali. "Dia siapa?" tanya Amel, setelah ia sudah berkali-kali mengembuskan napas, karena menahan rasa kesal. "Siapa? Yang mana sih? Cewek tadi?" tanya Bobby balik, dan tentu saja langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh perempuan di depannya itu. "Aku aja enggak tau sama sekali, tapi dia itu kek sok asik gitu. Jadi aku aja heran," jawab Bobby, seraya berpura-pura untuk melihat ke arah lain. Apa yang dirsakan oleh Bobby itu hanyalah satu, ia sangat takaut jika akan ada seseorang yang mengeahui kebenaran dari dirinya dan juga Melly. Tentu saja kebanaran jika aslinya mereka berdua itu memiliki hubungan yang khusus. Apalagi saat ini tengah duduk dalam satu meja dan juga tidak ada orang lain lagi. "Kalau iya dia itu bukan siapa-sipa kamu, kenapa keliatan akrab banget gitu?" desak Melly, dengan raut wajah yang sudah terlihat sangat kesal sekali. "Aku berani bersumpah, kalau aku aja bahkan enggak tahu siapa namanya," sahut Bobby, kali ini ia menahan kesal dengan cara memelankan suara. Tak ada sahutan apa pun yang dilontarkan oleh Melly, tetapi tatapan perempuan itu justru melihat ke arah belakang Bobby. Untung saja laki-laki tersebut paham dengan apa yang saat ini berada di dalam hati Melly. Bobby langsung menengokkan kepalanya ke arah belakang, lalu melihat siapa yang membuat sang kekasihnya itu tidak membuka mulut sama sekali. Hanya anggukan kepala saja yang menunjukkan jika saat ini Bobby sudah paham mengapa Melly hanya terdiam saja, tetapi ada untungnya juga. Karena raahasia yang baru saja dimulai tidak harus terbongkar sangat cepat sekali. "Gue udah pesenin makanannya," ucap Sisil, lalu langsung duduk tepat di sebelah Bobby, setelah ia sudah mengeluarkan senyuman yang sangat manis sekali. Sedangkan tanggapan yang dilontarkan oleh Melly hanyalah anggukan kepala dengan sangat terpaksa sekali, lalu mengulas senyum yang sangat tipis. Ingin sekali sebenarnya Melly tidak menanggapi apa yang baru saja diucapkan oleh perempuan centil itu, tetapi itu akan membuat kesan yang buruk terhadap dirinya sendiri. Sehingga membuat Melly memilih untuk berpura-pura tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN