Tidak mood

1025 Kata
Saat pesanan yang tadi sudah dipesankan oleh Sisil tadi sampai, masing-masing langsung meraih satu tempat makan dan segera melahap makanan tersebut. Lagipula, sedari tadi perut juga sudah berbunyi. Tidak bisa diajak kompromi untuk menahan sedikit lagi untuk tidak langsung melahap makanan yang sudah berada di atas meja. Baik Melly dan juga Bobby, keduanya itu sama-sama segera melahap makanan. Entah itu hanyalah alibi supaya tidak ada percakapan apa pun yang dikeluarkan, atau memang pada kenyataannya merasa sangat lapar. "Kalian itu udah kenal dari dulu atau gimana nih? Kok keliatannya itu deket banget ya?" tanya Sisil, memecah keheningan yang sedari tadi melanda mereka bertiga. Bobby terlebih dulu melihat ke arah Melly, tetapi saat melihat sang kekasih seperti tidak suka dengan apa yang baru saja ditanyakan, membuat Bobby langsung menjawab, "Kita baru aja kenal kok." "Tadi saya nyari tempat duduk, tapi penuh semua. Makanya saya minta izin duduk bareng," jelas Bobby, yang ditanggapi dengan anggukan di kepala. Sedangkan apa yang saat ini dirasakan oleh Melly adalah tidak senang sama sekali, tetapi mau bagaimanapun juga ia harus tetap menampilkan ekspresi yang seakan jika dirinya itu tidak ada masalah apa pun. Menahan perasaan kesal ketika sedang melahap makanan itu tidaklah mudah sama sekali, tetapi mau tak mau perempuan tersebut tetap harus melaksanakan. "Eh, lo kalau makan itu enggak bener kah? Itu ada ininya," ucap Sisil, dengan tangan kanan yang sangat cekatan mengambil beberapa lembar tisu, lalu diarahkan ke samping bibir laki-laki tersebut. Melly yang melihat hal itu tentu saja langsung merasa sangat panas dan juga sesak, apalagi saat melihat Bobby yang tidak ada reaksi apa pun. Seakan tengah meresapi perlakuan dari Sisil itu. Kedua tangannya mendukung Melly untuk segera dan secepat mungkin untuk menghabiskan makanan tersebut, bahkan yang ada di dalam pikiran Melly saat ini, ia ingin sekali segera mengakhiri kegiatan makannya itu. "Eh, saya bisa sendiri kok. Enggak usah repot-repot!" tolak Bobby, setelah beberapa detik tadi tidak kunjung tersadar. Tatapan kedua mata Bobby langsung mengarah ke Melly, setelah melihat bagaimana raut wajah perempuan yang sudah menjadi sang kekasih, membuat Bobby langsung merasa tak enak dan juga bersalah sekali. Apalagi cara Melly yang melahap makanan, sangat cepat sekali, dengan kedua mata yang melihat ke arah makanan terus. "Mel, kalau makan itu jangan cepet-cepet, nanti takutnya kesedak," tegur Bobby, seraya melempar tatapan yang penuh dengan perhatian. Tanggapan dari Melly hanyalah melempar lirikan tajam saja, lalu kembali fokus dengan kegiatannya yang tengah menyantap makan siang. Ternyata benar apa yang tadi diutaakan oleh Bobby, beberapa menit kemudian perempuan tersebut tersedak dan dengan sangat cekatan Bobby langsung menyodorkan gelas berisi air mineral. Bahkan, laki-laki tersebut berdiri dari posisi duduknya, hanya untuk memastikan jika orang yang disayang itu baik-baik saja. Kali ini, yang tengah merasakan hawa panas adalah Fita, ia merasa tak adil kala melihat Melly yang diberi perhatian seperti itu. "Enggak apa-apa, gue bisa sendiri kok." Melly menerima gelas tersebut dan meneguk air tersebut hingga tersisa tinggal setengah. Saat melihat ke arah piring yang ternyata hanya tinggal sedikit yang tersisa, membuat Melly tanpa basa-basi lagi langsung berdiri. "Sorry, gue duluan aja ya! Ini uang buat bayar makanan punya gue," ucap Melly, dengan memasang wajah yang sangat ramah pada Sisil. Karena rasa kesal dan juga cemburu yang sudah memenuhi relung hati, membuat Melly sama sekali tak memiliki minat untuk menolehkan kepalanya ke arah Bobby. 'Ya ampun, Sayang. Padahal, ini itu baru permulaan doang kita ngelakuin backstreet, tapi kenapa malah langsung kek gitu coba?' gumam Bobby di dalam hati tentunya. "Woi! Lo kenapa ngeliatin dia terus dari tadi? Jangan-jangan, lo itu suka ya sama dia?" tegur Sisil, lalu berlanjut dengan tebakan yang membuat Bobby secara refleks langsung menggelengkan kepala. "Jangan macam-macam lo sama peraturan prusahaan ini, kalau aja sampai ada yang ketahuan ngelanggar peraturan itu, udah dapet dipastiin juga sih kalau nanti lo bakalan langsung dikeluarkan dari perusahaan itu." Tanggapan yang dikeluarkan oleh Bobby, hanyalah anggukan di kepala saja, lalu tangan kanannya kembali meraih alat makan dan melahap makanana yang belum habis itu. Persetan dengan perempuan yang saat ini berada di depannya, Bobby memilih untuk menulikan pendengaran. Lagipula, perempuan itu bukanlah orang yang ia sayangi, jadi masa bodoh dengan itu semua. "Gue juga keknya duluan ya, ini uang buat bayarin makanan gue," ucap Bobby secara tiba-tiba, bahkan dengan piring yang masih menyisakan makanan. Belum sempat Sisil mengeluarkan pertanyaan, kedua kaki Bobby justru terlebih dulu untuk melangkah meninggalkan meja yang ditempati oleh mereka berdua tadinya. "Duh padahal, kan tadinya gue itu mau kenal lebih jauh lagi sama dia. Eh, tapi ternyata gak semudah yang gue bayangin," gerutu Sisil, dengan raut wajah yang kurang menyenangkan. Namun, perempuan itu tidak mau mengambil keputusan dengan cara gegabah, meskipun tidak ada yang menemani dirinya pada meja tersebut, tetapi karena makanan masih banyak. Maka Sisil memilih untuk tetap melanjutkan kegitan makan tersebut. Apakah ada yang tahu, apa yang akan dilakukan oleh Bobby setelah pergi meninggalkan restoran tersebut? Ya, tentu saja laki-laki itu mengejar perempuan yang ia sayangi. Karena terselip rasa bersalah di dalam hati laki-laki tersebut. Nagaimana tidak, jika Melly meninggalkan meja makan tadi, gara-gara Sisil yang sok romantis. Padahal, di antara keduanya itu tidak memiliki hubungan apa pun, bahkan Bobby saja tidak tahu sama sekali siaapa nama perempuan tersebut. Namun, ternyata saat telah sampai di kantor, tidak ada waktu sama sekali untuk menuju ke tempat kerja Melly. Karena setelah Bobby sudah tiba tepat di perusahaan tersebut, ternyata sudah saatnya untuk masuk. Hal itu tentu saja membuat Bobby hanya dapat menghela napas, meskipun sangat berat sekali. Mau bagaimana lagi, yang terpenting adalah pada kenyataannya Bobby tidak memiliki kesalahan sam sekali. "Kenapa Mel? Kok keliatannya kek lagi enggak mood gitu?" tanya Bagas, setelah melihat Melly masuk ke dalam ruangan. "Eh, enggak ada apa-apa kok, gue baik-baik aja," sahut Melly, lalu mengulas senyum untuk menutupi ini apa yang saat ini ia rasakan. Tidak mungkin sekali jika ia harus jujur mengenai apa yang saat ini ia alami. Apalagi laki-laki yanag memberinya pertanyaan adalah termasuk ke dalam golongan orang yang cukup asing. Dan tanggapan yang dilontarkan oleh Bagas juga hanya anggukan kepala saja, karena dirinya juga masih memiliki batasan untuk hal itu. Melly melanjutkan langkah kakinya untuk segera sampai di meja kerjanya, lalu duduk tepat di kursi tersebut diringi dengan embusan napas yang menahan rasa sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN