Hari-hari terus berlalu, tetapi sepertinya hubungan Melly dan juga Bobby justru semakin renggang. Sebenarnya alasan hubungan mereka seperti itu sangatlah sederhana.
Karena Melly yang menghindar dan juga gengsi untuk bertemu dengan laki-laki tersebut. Bahkan keadaan di depan indekos pun dirancang sedemikian rupa seperti tidak ada seseorang yang menempati indekos tersebut.
Hanya ada mobil saja yang berada di depan halaman indekos tersebut, tidak ada sandal atau apa pun lagi.
"Ya ampun, Mel. Lo sama Bobby itu kenapa sih sampai kek gitu banget? Kalau ada masalah ya lebih baik lo langsung bicarain sama dia, jangan malah petak umpet kek gitu!" tegur Fita, yang sudah tidak kuat lagi melihat sikap dari sahabatnya itu.
Namun, apa yang tadi diucapkan oleh Fita justru membuat Amel langsung mengembuskan napas. "Iya gue tau kok, yang namanya ngomong doang mah gampang banget! Masalahnya itu ya yang ngelaksanain."
"Gampang kok, asalkan lo itu harus nyingkirin rasa gengsi yang lo punya dulu, enggak baik tau kalau rasa gengsi terus aja dipelihara," sahut Fita dengan penuh ketegasan.
"Lo tau apa sih tentang perasaan gue, Fit? Gue udah sakit hati banget sama si Bobby, jadi gue mohon banget sama lo jangan pernah kasih izin Bobby buat masuk ke dalem!" Napas Amel saja sampai memburu dan juga naik turun.
Itu pertanda jika perempuan tersebut memang tengah menahan perasaan kesal dan juga cemburu yang teramat. Sebenarnya Fita mengerti apa yang dirasakan oleh Amel, tetapi jika terus-terusan seperti ini juga tidak baik sama sekali.
Apalagi saat Fita mendengar apa yang diutarakan oleh Amel, membuatnya langsung menggelengkan kepala dan bertanya, "Kalau gitu, lebih baik lo udahan aja sama si Bobby!"
"Selesai kan masalahnya? Enggak perlu banyak drama kek gitu, lo juga enggak usah susah buat selalu ada di dalam kosan terus!" tutur Fita, dengan nada bicara yang terdengar cukup tinggi.
Sebenarnya hal itu langsung membuat Amel sedikit merinding, tetapi jujur dari dalam hati ada sesuatu yang mengganjal. Rasa tak terima langsung menyembul dan juga rasa takut kehilangan pun mendominasi.
"Kenapa diem? Gimana perasaan lo sekarang hah?" tegur Fita, lalu tangan kanannya kembali bergerak untuk mengambil ponsel.
"Gue enggak mau pisah sama Bobby," lirih Amel, merebahkan tubuhnya tepat di tengah-tengaah tempaat tidur, lalu memejamkan kedua mata dengan sangat rapat.
Fita langsung melirik ke arah Amel, melempar tatapan yang seperti meremehkaan, lalu menjawab, "Secara enggak langsung lo itu udah pisah sama dia."
"Kok lo malah ngomong gitu sih?"
"Ya lo pikir aja sendiri!" ketus Fita, kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
Jujur saja, mendengar sahutan Fita yang menjadi sangat singkat membuat Amel sadar jika dirinya tadi melakukan sebuah kesalahan, bahkan ia juga menyadari hal apa yang menjadi suatu kesalahan.
Namun, karena Amel tengah bingung dengan alur hidup yang akan ia jalani, maka perempuan tersebut memilih untuk menepikan urusan Fita terlebih dulu dan lebih fokus pada apa yang akan dipilih.
"Cari makan yuk, Fit!" ajak Amel, seraya menyender ke pundak sahabat perempuannya itu.
"Enggak laper." Hanya itu saja sahutan yang diutarakan oleh Fita, entah mengapa ucapan Amel yang tadi masih menyikiti hati.
Amel diam trlebih dulu, tetapi dengan kedua mata yang melirik ke arah Fita, lalu berucap, "Lo marah ya sama gue?"
"Gue enggak ada niatan sama sekali buat ngomong kek gitu, gue cuma enggak bisa ngontrol perasaan diri gue sendiri," jelas Amel, nada bicaranya mulai terdengar seperti memelas.
Terdapat harapan yang terselip pada ucapan tersebut, karena tanpa ada ikut campurnya Fita, maka Amel sangat takut sekali untuk meelakukan sesuatu.
Karena semua yang dilakukan oleh Amel selalu saja meminta persetujuan terlebih dulu pada Fita, sedangkan sekaranag sahabat satu-satunya itu tengah diliputi rasa kesal.
Namun, Amel sama sekali tidak putus asa untuk mengajak Fita berbicara dan membujuknya supaya tidak lagi merasa kesal. Terlebih lagi peneyebab Fita seperti itu adalah Amel sendiri.
"Fita, ayo dong! Gue mau nyari makan sama lo lagi, kok lo jadi gini sih? Kan gue udah minta maaf dengan tulus banget sama lo," ujar Amel lagi.
"Pergi sendiri aja, gue ada perlu," sahut Fita, lalu tanpa aba-aba sama sekali ia langsung berusaha untuk berdiri.
Sehingga membuat Amel mau tak mau harus mengubah posisi, dari yang tadinya itu tengah menyender pada pundak Fita, kini menjadi duduk dengan posisi yang tegak.
Tak ada ucapan apa pun yang dilontarkan oleh Amel, perempuan tersebut ternyata pasrah dengan keputusan apa yang dibuat oleh Fita.
Hanya bisa menatap punggung sahabatnya, dengan tatapan yang sayu, lalu mengulas senyum tipis. "Mungkin ucapan gue yang tadi itu udah keterlaluan banget buat Fita," gumam Amel.
Dan Fita memang benar-benar meninggalkan Amel sendirian di dalam indekos, persetan dengan rengekan dan juga Amel yang sedari tadi berusaha untuk memaafkan apa yang sudah diucapkan.
Kali ini, setelah melihat dengan kedua mata Amel sendiri, jika Fita itu sudah keluar dari dalam indekos, Amel pun memutuskan untuk segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tentu tidak langsung tertidur, apalagi saat ini hari masih terbilang sore. Amel meraih ponsel yang letaknya tak jauh dari posisi saat ini, lalu mmebuka dan melihat-lihat isi dari sosial media yang ia miliki itu.
Saat Amel tengah fokus dengan ponsel yang ia genggam, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang berucap, "Maafin aku."
Sontak saja membuat Amel langsung membeku dan juga tidak ada keberanian sekali untuk menolehkan kepalanya ke belakang, yang ada di pikiranny saat itu hanyalha 'hantu'.
"Duh, mana gue sendirian lagi di sini," ucap Amel, dengan suara yang lirih sekali. Bahkan, kedua mata perempuan itu tengah terpejam.
"Mel, maafin gue ya. Kenapa enggak nengok dulu ke belakang sih? Marahnya beneran ya?" Suara tersebut kembali terdengar di telinga Amel.
Namun, bedanya saat ini Amel sudah tidak merasa takut lagi, karena suara tersebut sangat familier sekali di ingatannya.
Kali ini rasa yang berada di dalam hati perempuan itu bukan lagi takut, melainkan kesal, tetapi tetap saja perempuan itu tidak ada niatan sama sekali untuk menolehkan kepalanya kearah belakang.
Dengan gerakan yang sangat pelan, Melly menolehkan kepalanya ke arah belakang. Tentu saja kedua matanya langsung menangkap seorang laki-laki yang berada tepat di tepi tempat tidur.
Rasanya ingin sekali teriak, bersamaan dengan kedua mata yang refleks tertutup, tetapi Melly menyadari jika itu adalah manusia. Bahkan, wajahnya sangat ia kenali.
"Ngapain ada di sini?" Melly langsung melontarkan pertanyaan seperti itu, setelah ia tahu siapa yang saat ini berada di depannya.
Segera bangun dari posisi duduk yang seperti itu, sehingga dua insan yang berbeda jenis kelamin itu tengah berhadapan dengan raut muka yang tak dapat dideskripsikan.