"Aku mau minta maaf sama kamu, aku enggak kuat kalau harus saling diam kek gini," ujar Bobby. Tatapan kedua mata laki-laki itu menunjukkan sekali jika tulus dari dalam hati.
"Ngapain ke sini? Enggak sama cewek itu aja? Lagian, jadi orang main masuk ke kosan sembarangan tanpa izin!" Melly langsung menekuk wajahnya lagi, kalau bisa jangan sampai perempuan itu menunjukkan senyuman sedikit pun.
Dengan cara itu memang berhasil. Ya, tetapi hanya berhasil untuk membuat Bobby diam dan juga bingung, tetapi tidak sampai berhasil membuat laki-laki tersebut pulang ke rumah lagi.
Sebelum melakukan hal-hal yang lebih romantis lagi, Bobby terlebih dulu berdeham dan memberi keyakinan pada dirinya sendiri untuk berani.
"Aku enggak mau kalau kita terus saja kek gini, aku mohon sama kamu kita baikan lagi ya?" pinta Bobby lagi.
Kali ini laki-laki itu segera menggerakkan kedua tangan kanannya untuk menggenggam telapak tangan milik perempuan yang sangat ia cintai.
Tak ada penolakan dan juga pemberontakan apa pun, karena jujur dari dalam hati yang paling dalam pun Melly sangat merindukan sentuhan itu.
Sudah beberapa hari ke belakang, tidak ada sikap romantis yang ia terima dari laki-laki yang sangat dicintai. Hal itu tentu saja membuat Melly hampir saja ingin menangis.
Terlihat dari kedua mata milik perempuan itu yang mulai memerah, dengan napas memburu. Namun, sayangnya Melly ternyata dapat menetralisir keinginannya untuk menangis itu.
"Aku enggak mau lagi ketemu sama kamu, aku udah terlanjur sakit hati sama kamu," ujar Melly, sembari menahan rasa sesak yang ada di dalam d**a.
Padahal kenyataannya, apa yang diucapkan oleh Melly barusan bertolak belakang sekali dengan apa yang ada di dalam hati. Tidak ada rasa rela sama sekali untuk mengutarakan hal itu.
"Loh, Sayang, kamu kok malah bilangnya kek gitu sih? Kenapa jadi tiba-tiba kek gini?" tanya Bobby, dengan raut wajah yang benar-benar merasa sangat bingung sekali.
"Udahalah, enggak usah sok masang wajah sedih lagi! Kamu juga seneng kan kalau dikasih perhatian sama cewek itu?" sarkas Melly, seraya melempar tatapan yang sangat kesal.
"Kamu itu ngomong apa sih? Hanya karena gara-gara dia yang bersihhin mulut aku, kamu jadi marah kek gini?"
Melly yang tadinya memilih untuk melihat ke arah depan saja, langsung melempar tatapannya lagi pada Bobby. "Apa? Bisa kamu ulangin lagi apa yang kamu ucapin tadi?"
"Hanya kamu bilang? Oh jadi gitu." Melly menganaggukkan kepalanya dengan sangat mantap sekali, di dalam pikirannya juga sudah tersusun bagaimana cara untuk memblas perlakuan Bobby barusan.
Bahkan, setelah mendengar ucapan Melly yang terakhir, Bobby sama sekali tidakk berani untuk mengutarakan apa pun lagi. Sepertinya, laki-laki itu sudah merasa berbuat kesalahan, hanya saja ia tidak tahu di mana letak kesalahan tersebut.
"Sekarang aku minta kamu cepetan pergi deh dari sini!" usir Melly, karena ia sudah mulai ingin meluapkan amarah.
Namun, tak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan oleh Bobby. Ya, laki-laki itu masih tetap pada posisi yang sama, dengan tatapan juga sama.
Hanya saja, laki-laki itu sebenarnya tengah berpikir untuk bagaiman cara meminta maaf pada perempuan yang sangat ia sayangi itu.
"Oh, enggak mau pergi dari sini? Ya udah biar aku aja yang pergi dari kosan ini. Males banget!" Tanpa ba-bi-bu lagi, Melly langsung berdiri dari posisi yang tadi.
Melangkahkan kaki menuju ke tempat penyimpanan tas miliknya dan juga Fita, lalu keluar dari indekos itu. Meninggalkan Bobby yang masih saja berada tetap di posisi tersebut, tak berpindah sama sekali.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Melly saat ini hanyalah sebuah ancaman saja, supaya laki-laki yang masih memiliki hubungan sebagai kekasihnya itu pergi dari indekos.
Namun, pada kenyataannya justru bertolak belakang. Karena Bobby tidak segera pergi. Akhirnya mau tak mau Melly tetap melanjutkan rencana yang sudah disusun.
Meskipun Melly pergi dari indekos tanpa menggunakan kendaraan apa pun, karena memang kendaraan yang diberi oleh Bobby itu berada di dalam indekos tersebut.
Rasanya tidak enak sama sekali, jika harus mengeluarkan kendaraan terlebih dulu. Itulah akibat dari rasa gengsi, sehingga Melly harus menanggung rasa lelah karena berjalan cukup jauh.
Sampai akhirnya ia memilih untuk berhenti tepat di tepi jalan, memperhatikan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, lalu satu kali bunyi klakson mengagetkan dirinya.
Di dalam hati Melly langsung bertanya-tanya, tetapi jika dilihat dari kendaraan. Ia bahkan tidak mengenali kendaraan tersebut, tetapi mengapa tiba-tiba membunyikan klakson dan juga berhenti tak jauh dari posisi Melly yang tengah duduk.
Perlahan, mesin mobil tesebut langsung dihentikan dan dari dalam mobil tersebut pun muncul seorang laki-laki dengan seulas senyum yang menghiasi wajah.
Melly menatap laki-laki tersebut dengan sangat seksama sekali, berharap ia akan mengenal laki-laki tersebut. Apalagi langkah kakinya mendekat ke arah Melly.
"Mel? Lo ngapain ada di tepi jalan kek gini?" tanya laki-laki tersebut.
"Loh, ya ampun Bagas! Gue kira siapa." Amel langsung berdiri dari posisinya yang tadi, lalu berjalan mendekat ke arah laki-laki bernama Bagas tersebut.
Mereka berdua melangkahkan kaki saling mendekat, lalu mengulas senyum secara bersamaan. Biasa, yang namanya teman satu kantor memang harus selalu ramah.
"Lo ngapain ada di situ?" tanya Bagas, mengulang pertanyaan yang sebenarnya sudah ia utarakan tadi.
"Hah? Eh, gue cuma mau nyari angin seger aja kok," jawab Melly, suaranya terdengar sekali jika tegah merasa kikuk.
"Cari makan, yuk!" ajak Bagas, seakan ia tahu apa yang berada di dalam pemikiran Mellytadi.
Namun, kali ini melly memilih untuk langsung menggelengkan kepala. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang lain antara dirinya dengan Bobby.
"Enggak deh, gue cuma mau nyari angin seger aja, bukan nyari makanan," tolak Melly pada akhirnya.
Percayalah, jika seorang laki-laki mendapatkan penolakan satu kali. Maka masih banyak sekali cara yang lain di luar kepala.
"Kalau emang lo enggak mau buat nyari makan sama gue. Gimana kalau kita beli coffe aja di tempaat sekitar sini?" tawar Bagas lagi.
Mau tak mau pada akhirnya Melly langsung memutuskan untuk menganggukkan kepala dan menjawab, "Ya udah."
"Ya udah apa?" goda Bagas, raut mukanya sudah terlihat sekali jika dirinya itu tengah menahan tawa.
"Ya udah, katanya kita mau beli minuman?" sahut Melly, kini dengan dahi yang berkerut.
Rasa heran langsung menyelimuti dirinya karena yang ia dengar barusan memang tidak ada yang salah. Lantas, mengapa sekarang justru laki-laki di depannya saat ini mengeluarkan pertanyaan seperti itu.
"Udah, jangan dipikirin. Gue tadi cuma bercanda aja kok," ucap Bagas akhirnya, dengan tampang yang sama sekali tidak memiliki rasa bersalah.
"Bercanda lo itu enggak lucu!" Melly memilih untuk tetap diam di tempat, dengan kedua tangan yang bergerak menjadi bersidekap di depan d**a.