Setelah ajakan dari Bagas diterima dengan baik oleh Melly, kini akhirnya laki-laki tersebut membawa kendaraan miliknya menuju ke salah satu restoran terdekat.
Masuk ke dalam restoran tersebut secara bersamaan, lalu menempati salah satu meja yang berada di posisi paling ujung. Bahkan belakang.
"Mau pesen apa, Mel?" tanya Bagas, kedua mata laki-laki itu terus saja menatap ke arah wajah perempuan yang saat ini berada di depannya.
Sedangkan Melly yang ditatap seperti itu, tentu saja langsung merasa sangat tidak enak dan juga tak nyaman sama sekali.
Jadi, perempuan itu memilih untuk langsung mengangkat tangan kanan. Hal itu berguna untuk memanggil pelayan yang bekerja di restoran tersebut.
Setelah beberapa makanan sudah dipesan, kini saatnya menikmati keheningan lagi. Entah mengapa rasanya sangat susah sekali untuk mengawali pembicaraan dengan Melly.
Sampai akhirnya Melly terlebih dulu untuk berdeham, lalu bertanya, "Lo sendiri tadi itu dari mana mau ke mana?"
"Dari sana, mau ke sana," jawab Bagas sangat sederhana, bahkan dengan tangan yang bergerak untuk menunjukkan rute jalan yang akna dilalui.
Namun, hal itu justru membuat Melly langsung tertawa dengan nada yang tertahan. Karena tidak mungkin sekali jika ia tiba-tiba mengeluarkan tawa.
Sedangkan keadaan di sekitar restoran tersebut tengah hening. Mungkin itu adalah faktor dari semua pengunjung yang tengah menikmati makanan yang dipesan oleh masing-masing.
Jika Melly tertawa, lain halnya dengan Bagas yang jutsru merasa sangat heran sekali. "Kenapa lo malah ketawa sih?"
"Memangnya ada yang lucu ya sama apa yang jadi jawaban gue?" tanya Bagas lagi.
"Bukan gitu, tapi gue ngerasa aneh aja sama jawaban yang lo kasih ke gue. Karena apa? Karena jawaban lo ti itu enggak ngasih tau tempat yang jelasnya," jawab Amel, dengan tawa yang perlahan mulai mereda.
Bagaimanapun juga, perempuan tersebut masih memiliki perasaan untuk menghargai apa yang saat itu dirasakan oleh lawan bicara.
"Oh, sorry. Gue ... enggak tau kenapa jadi gugup banget kek gini," sahut Bagas, lalu memilih untuk menolehkan pandangannya ke arah sekeliling.
Jantung yang ia miliki itu akan berdegup dengan sangat kencang, jika kedua mata melihat ke arah Melly. Apalagi jika perempuan itu sudah mengulas senyum, sangat manis sekali.
Mendengar jawaban dari Bagas yang baru saja diutarakan, membuat Melly langsung menatap penuh rasa curiga pada laki-laki tersebut.
"Jangan yang aneh-aneh lo! Kita itu satu kantor, mana mungkin bisa punya perasaan yang lebih?" ujar Melly, dengan tujuan menyadarkan laki-laki yang saat ini berada di depan dirinya.
Benar saja, apa yang diutarakan oleh Amel seolah tamparan keras untuk laki-laki itu. Bahkan, Bagas kali ini justru memilih untuk langsung memejamkan kedua mata.
"Kita bisa kok jadi teman baik, asal enggak lebih dari itu. Karena gue enggak mau sama sekali kalau harus keluar dari perusahaan itu," ucap Melly lagi.
"Tunggu, setelah gue denger apa yang lo omongin itu. Kok gue ngerasa kalau lo itu punya perasaan lebih ya sama gue? Atau jangan-jangan kita emang punya perasaan yang sama?" tanya Bagas, seraya mendekatkan wajahnya ke arah Melly.
Tentu saja pertanyaan Bagas itu langsung ditepis mentah-mentah oleh Melly, dengan cara tangan kanan yang bergerak untuk menoyor dahi laki-laki tersebut.
"Kalau ngomong itu hati-hati! Gue enggak mau sampai ada rumor enggak jelas! Itu maksud gue, bukan justru gue ada rasa lebih sama lo!" protes Melly, sembari menjelaskan penjelasan yang seharusnya.
Untung saja pesanan yang mereka berdua inginkan itu datang, sehingga perbincangan tak mengenakkan itu dapta diaakhiri.
Coba bayangkan jika Melly tetap saja terus mengutarakan apa yang ada di benaknya, pasti dengan Bagas akan terus cekcok.
"Selamat menikmati makanan," ucap Bagas, dengan kedua tangan yang langsung digerakkan untuk meraih alat makan di atas meja makan tersebut.
Hanya anggukan kepala saja yang menjadi perwakilan jawaban dari Melly. Karena memang perempuan itu masih belum ada keinginan untuk mengucapkan kata lebih banyak.
Bahkan, sampai mereka selesai melahap makanan pun tak ada perbincangan yang terlontar.
"Lo lagi ada masalah ya, Mel?" tanya Bagas pada akhirnya.
Tentu saja setelah mereka berdua sama-sama sudah menyelesaikan kegiatan tadi, dengan tangan kanan Bagas meraih beberapa lembar tissue.
Sedangkan Melly menyeruput minuman yang tersisa tinggal sedikit lagi, lalu langsung menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan yang diutarakan oleh Bagas.
"Kalau ada masalah, Lo bisa kok cerita semuanya ke gue. Supaya lo bisa ngerasa lega juga," ucap Bagas lagi.
Melly kembali menggelengkan kepalanya dengan sangat yakin sekali, lalu tersenyum manis. "Gue enggak ada masalah apa-apa kok, santai aja ya."
Tak ada yang bisa dilakukan lagi oleh Bagas, selain hanya menganggukkan kepala. Berpura-pura untuk percaya dengan apa yang tadi menjadi jawaban Melly.
"Ini totalnya berapa ya?" tanya Melly basa-basi, padahal ia itu tidak membawa uang satu peser pun. Lebih tepatnya adalah lupa, karena dompet yang berisi uang ternyata ada pada tas yang satunya lagi.
"Enggak usah bayar Mel, kan yang ngajak lo ke sini itu gue. Jadi, lo ya tanggungan gue," jawab Bagas, membuat Melly langsung merasa sangat tenang sekali.
"Eh, kok malah kek gitu sih? Enggak apa-apa gue bayar aja, berapa totalnya sih?" tolak Melly, dengan raut wajah yang meyakinkan sekali jika dirinya itu memang memiliki uang di dalam tas yang ia bawa.
Namun, kembali Bagas menggelengkan kepala. "Udah. Gue bilang enggak usah, Mel."
"Sekarang lo tunggu gue aja di sini, jangan ke mana-mana. Gue mau ke kasir dulu, baru setelah itu kita balik," ucap Bagas, dan tanpa menunggu jawaban dari Melly, laki-laki itu langsung berdiri dan juga melangkahkan kaki menuju ke tempat pembayaran.
Meninggalkan Melly yang merasa malu dan juga tak enak dengan sikap yang ditunjukkan oleh Bagas.
Padahal, dirinya dan juga laki-laki tersebut belum lama ini mengenal, tetapi entah mengapa sikap yang ditunjukkan oleh Bagas itu sangat perhatian sekali.
"Duh, gue itu salah enggak ya ngelakuin hal kek gini?" gumam Melly, seraya meraih beberapa lembar tissue untuk merapikan di sekitar bibirnya itu.
Setelah bergumam seperti itu, hati kecil seakan berkata jika apa yang saat ini dilakukan oleh perempuan itu tidak salah sama sekali.
Bahkan sudah benar, karena Bobby saja tidak merasa salah saat melakukan hal romantis bersama dengan Sisil saat tepat di depan Melly.
Memikirkan hal itu, membuat Melly langsung merasakan sesak dan juga kesal sendiri.
Perempuan itu dibuat bingung dengan perasaan yang berada di dalam hati. Di satu sisi dirinya ingin sekali kembali melakukan hal yang membangkitkan keromantisan pada hubungan tersebut.
Namun, di sisi lain Melly masih sangat kesal dengan Bobby. Mengapa ia tidak menolak diperlakukan seperti itu oleh Sisil?