"Gue anter lo pulang sampai ke rumah lo aja ya," ucap Bagas pada perempuan yang saat ini berada tepat di depannya.
"Tempat gue itu bukan rumah, tapi kosan," sahut Melly yang langsung mengoreksi kesalahan dari Bagas.
Dan Bagas hanya menganggukkan kepala saja, karena ia sudah melakukan kesalahan. Meskipun tidak terlalu fatal, bahkan bisa dibilang tidak memiliki efek apa pun.
Tidak ada urusan dan juga perbincangan apa pun lagi, membuat keduanya memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut. Melly juga bersyukur karena bisa merasakan jika perutnya itu sudah kenyang sekali.
"Besok lo berangkat, kan?" tanya Bagas memecah keheningan.
Namun, pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki itu langsung dicuriigai oleh Melly. Sehingga ia pun segera menjawab, "Iya, masa enggak berangkat. Apalagi gue itu masih masuk ke dalam karyawan yang cukup baru."
"Eits! Gue harap lo inget sama peraturan perusahaan yang neggak bolehin sesama karyawan jatuh cinta," ujar Melly, seakan ia itu tahu apa yang akan diutarakan oleh laki-laki di sampingnya.
Dan benar saja, setelah mendengar ucapan yang diutarakan oleh Melly, detik itu juga Bagas langsung mengembuskan napas sangat kasar.
Laki-laki itu memang memiliki perasaan berbeda untuk Melly, semenjak dirinya dan juga Melly bertemu. Bagi seorang laki-laki bernama Bagas, jika Melly adalah perempuan yang sangat menarik di pandangannya itu.
"Kenapa? Jangan punya pikiran yang aneh-aneh, deh!" tegur Melly, setelah ia mendapati Bagas yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Eh, enggak kok. Orang gue tadi itu liatin pemandangan yang ada di luar. Bagus-bagus banget," sahut Bagas, yang langsung mengeluarkan alibi.
Apa yang diutarakan oleh Bagas tentu saja membuat Melly langsung merasa sangat heran, bahkan kalimat tersebut tidak masuk ke dalam pemikiran seorang perempuan bernama Melly itu.
"Alesan lo itu kok kek enggak masuk akal banget ya? Padahal, kalau lo emang mau liat pemandangan bisa ke arah depan. Bahkan lebih jelas lagii, dari pada lo liatnya dari arah samping!"
"Ya, enggak apa-apa dong, lagian rasanya juga bener-bener beda kok. Antara ngeliat dari arah samping, sama ngeliat dari arah depan sana," sahut Bagas, yang kembali mengeluarkan alibi yang ia miliki.
Tanggapan yang dikeluarkan oleh Melly hanya mengedikkan bahu saja, berpura-pura untuk menerima alibi dari laki-laki tersebut. Meskipun pada kenyataannya bukan seperti itu.
Beberapa menit kemudian tidak ada percakapan sama sekali, hanya ada suara mesin mobil yang sedang bergerak, dengan sesekali suara klakson yang dibunyikan oleh Bagas.
"Tempatnya di sana?" tanya Bagas, seraya menunjuk ke arah tempat yang memang benar itu adalah indekos yang ditempati oleh Melly.
Setelah perempuan itu menganggukkan kepala, barulah laki-laki tersebut segera menghentikan kendaraan roda empat miliknya tepat di depan indekos itu.
"Gue langsung masuk aja ya, terima kasih buat yang tadi," ucap Melly, sebelum ia membuka pintu mobil dan melangkahkan kaki menuju ke arah pintu indekos.
Tak ada kata apa pun lagi yang terlontar dari mulut Bagas, setelah memastikan perempuan yang ia suka itu sudah masuk ke dalam indekos. Barulah ia mulai menggerakkan kendaraan roda empat tersebut meninggalkna halaman indekos itu.
"Huft! Semoga aja gue bakalan bisa dapetin hati lo, Mel," gumam Bagas, lalu mengembuskan napas pelan, seraya mencoba untuk kembali fokus dengan jalanan sekitar.
Hanya pengalaman seperti itu bersama Melly saja sudah sangat berharga sekali di dalam hati Bagas. Memang jika orang yang sedang jatuh cinta akan seperti itu.
"Dia udah enggak ada di sini? Ya udah syukur deh!" gumam Melly, setelah ia sudah masuk ke dalam indekos tersebut.
Lagipula, sebenarnya yang diinginkan oleh Melly memang seperti itu. Perempuan tersebut tidak menginginkan jika orang yang sudah membuat dirinya kesal itu berada di sekitar.
"Ehh, lo udah balik?" tanya Fita, yang ternyata setelah melaksanakan kegiatan di dalam kamar mandi.
"Lo sendiri kapan balik ke sini lagi?" tanya Melly balik.
Dahi milik Melly itu langsung berkerut, karena memang ia tengah merasa heran dengan apa yang terjadi saat ini. Namun, entah mengapa yang ada di dalam hati Melly adalah rasa curiga pada sahabatnya saat ini.
"Gue? Gue balik ke sini udah cukup lama kok, bahkan gue juga nyariin lo, tapi di kosan enggak ada siapa-siapa," jawab Fita, mengeluarkan jawaban yang sebenarnya bukan seperti itu.
"Enggak ada Bobby di sini?" tanya Melly lagi, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Fita.
Karena memang pada kenyataannya ia tak menemukan laki-laki itu di dalam indekos, tetapi Bobby menemui dirinya pada sebuah warung yang terletak tak jauh dari indekos itu.
Tak ada tanggapan yang dikeluarkan oleh Melly, perempuan itu langsung meletakkan tas yang ia kenakan di tempat semula, lalu berjalan menuju ke tempat tidur.
Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sangat membuat nyaman itu. Mencoba untuk memejamkan mata, seraya berusaha untuk melupakan kejadian tadi.
"Eh, lo sendiri habis dari mana sih? Kok gue balik lagi udah enggak ada lo?" tanya Fita, setelah ia sudah berada tepat di samping tempat tidur Melly.
"Jalan-jalan bentar aja keluar," jawab Melly sangat simple sekali. Hal itu tentu saja tidak langsung dapat dipahami oleh Fita.
"Menurut gue nih ya, kalau jawab pertanyaan itu alangkah baiknya yang lengkap gitu loh, Mel," keluh Fita, setelah perempuan itu sudah mengembuskan napas berkali-kali.
"Lo tau kenapa gue enggak jawab secara lengkap? Karena gue curiga banget sama lo," sahut Melly secera blak-blakan.
Pandangan yang dilontarkan oleh Fita tiba-tiba saja langsung berubah, rasanya seperti tidak menyangka sama sekali mendengar sahabatnya sendiri mengutarakan hal itu.
"Maksud lo apaan bilang kek gitu?" tanya Fita, dengan raut wajah yang masih menunjukkan jika dirinya merasa bingung.
"Lo kerjasama kan sama si Bobby?" tuduh Melly secara spontan.
Dan, detik itu juga yang dilakukan oleh Fita hanya diam saja. Karena apa yang baru saja dituduhkan oleh Melly adalah benar adanya.
Namun, yang menjadi pertanyaan di benak Fita adalah, bagaimana bisa Melly memiliki pemikiran seperti itu.
Sebisa mungkin juga Fita menunjukkan sikap yang tak dapat dicurigai sama sekali, masih tetap berusaha tenang dan tidak tahu menahu tentang hal yang diutarakan oleh Melly.
"Mel, lo kalau ngomong itu jangan ngaco, deh!" protes Fita pada akhirnya.
Tetapi Melly justru langsung memutar bola matanya, terlihat sekali dari raut wajah perempuan itu. Jika saat ini tengah merasa sangat kecewa dan tak mempercayai Fita.
"Lo gak percaya sama apa yang gue ucapin tadi?" tanya Fita, dengan nada bicara yang seperti memiliki unsur gertakan. Hal itu justru menambah rasa curiga di dalam benak Melly.