Curiga

1002 Kata
"Kenapa? Apa yang mau lo kasih tau ke gue?" tanya Melly, raut wajah perempuan itu terlihat tengah menantang. "Gue enggak ada hubungan apa pun sama si Bobby. Kek enggak ada laki-laki lain aja yang bakalan gue deketin," jawab Fita, nada bicaranya terdengar sangat meyakinkan sekali. Melly langsung mengedikkan kedua bahunya ke atas, lalu menjawab, "Gue enggak peduli tentang hal itu lagi." "Lo kenapa sih, Mel? Kok malah nuduh gue yang enggak-enggak? Padahal itu semua kan penyebabnya dari lo sendiri!" sentak Fita. Namun, tak ada raut wajah takut yang ditunjukkan oleh Melly. Perempuan itu justru tetap mengarahkan bola matanya bertabrakan dengan bola mata milik Fita. "Gue udah enggak kuat sama hubungan ini, enggak tau kenapa rasanya gue mau udahan aja," ujar Melly. Nada bicara perempuan itu kini berubah menjadi sendu, seakan banyak sekali beban yang dirasakan olehnya. Sakit sekali, entah mengapa hal itu terjadi. Bahkan ini baru permulaan saja, entah akan jadi seperti apa jika hari-hari selanjutnya terus dijalani. Fita yang mendengar ungkapan seperti itu tentu saja sangat merasa syok sekali. "Lo ngomong apaan sih, Mel? Jangan bilang, kalau lo itu udah ada penggantinya dari si Bobby?" "Sembarangan! Gue enggak ada siapa pun kok di hati ini, cuma ada Bobby doang, tapi enggak tau kenapa gue kek enggak kuat aja gitu jalanin hari-hari ke depannya," sahut Melly sangat jujur sekali. Tentu saja hal itu membuat Fita langsung menggelengkan kepala. "Asal lo tau aja ya, Mel. Bobby itu punya rasa sayang sama lo tulus banget, kalau iya di kantor ada cewek suka sama dia. Bobby enggak nanggepin kok." "Tapi kenapa cewek yang disuka sama Bobby justru punya pemikiran yang dangkal kek gitu ya? Coba lo itu buka pemikiran lo, pelan-pelan lo rasain tentang perasaan lo sama Bobby," ujar Fita sangat panjang lebar. Melly diam, tak mengeluarkan perkataan apa pun. Tiba-tiba saja ponsel miliknya itu berbunyi menandakan adanya panggilan yang masuk. Mengakibatkan Fita yang tadinya ingin mengutarakan sesuatu lagi, justru menjadi diam. Buru-buru perempuan itu membuka tas yang masih berada di tubuh, lalu meraih ponsel yang ada di dalam tas tersebut. Langsung muncul nama sang kekasih milik Melly, membuat perempuan itu langsung melempar tatapan ke arah Fita. Seakan sedang meminta pendapat apa yang harus dilakukan. Karena Fita hanyalah sebatas sahabat, tidak lebih. Maka perempuan itu memilih untuk langsung mengedikkan kedua bahunya. "Itu hidup lo sendiri, jadi silahkan lo tentuin gimana alur hidup lo ya, Mel," ujar Fita, lalu ia memilih untuk segera merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Meskipun ragu dengan apa yang saat ini akan dilakukan oleh Melly, tetapi perempuan itu juga harus memiliki keputusan sendiri. "Halo, Sayang? Kamu sekarang ada di mana? Aku cari kamu ke mana-mana kok enggak ketemu ya?" tanya Bobby, dengan nada bicara yang terdengar sangat khawatir sekali. Sedangkan Melly, saat ini justru tengah menggigit jari telunjuknya. Karena merasa bersalah dengan apa yang tadi sudah ia lakukan. Bagaimana tidak merasa bersalah, jika saat dirinya pergi dari indekos tadi. Sebenarnya sedang melahap makanan bersama dengan laki-laki yang lain. "Halo, Sayang? Ini kamu, kan?" tanya Bobby lagi, setelah sedari tadi ia tak mendapat sahutan apa pun. "I-iya, ini aku kok. Aku sekarang udah ada di kosan," jawab Melly dengan terbata-bata. Terdengar embusan napas yang sangat lega sekali dari seberang telepon, hal itu justru membuat Melly semakin merasa bersalah sekali. 'Gue udah keterlaluan banget sih kalau kek gini,' gumam Melly, bahkan saat ini perempuan tersebut justru tengah melamun. Sampai akhirnya di saat ia tersadar, sambungan telepon itu terputus. "Loh, kok malah udahan ya nelponnya? Perasaan baru aja dimulai tadi," gumam Melly, dengan raut wajah yang sangat-sangat heran. Segera perempuan itu mengecek aktivitas panggilan telepon yang terakhir, ternyata memang benar. Tadi itu kekasihnya menelepon, tetapi entah mengapa justru langsung dimatikan. Pertanyaan yang cukup menganggu di dalam benak Melly, karena sedari tadi ia itu fokus dengan segala lamunan yang tiba-tiba saja datang. Ingin sekali Melly menceritakan apa yang baru saja ia alami pada satu-satunya sahabat yang Melly miliki di kota sebesar ini. Yaitu tentu saja Fita. Namun, sayangnya perempuan itu justru tengah memejamkan kedua mata dengan sangat serius sekali. "Fit, lo udah tidur kah? Kok cepet banget sih?" tegur Melly, lalu mendekat ke arah Fita. Berharap dengan sangat, jika sahabatnya itu hanya berpura-pura tidur. Namun, ternyata memang benar. Fita sudah memasuki alam mimpi yang mungkin akan merasa sangat tenang sekali. Dan Melly hanya dapat mengembuskan napas saja, karena ia juga sedikit kesal dengan apa yang terjadi barusan. Padahal, meskipun dirinya itu tengah bersmaa dengan lelaki yang lain, tetapi hatinya tidak dapat dipungkiri jika terus saja memikirkan sang kekasih. Namun, ternyata laki-laki yang sedari tadi ia fikirkan justru sangat lancang sekali untuk langsung menutup telepon. Bahkan, tanpa meminta izin sama sekali. Ingin rasanya menelepon balik, tetapi rasa gengsi justru lebih kuat dibandingkan dengan segalanya. Hal itu berakhir menjadi sesuatu yang sia-sia. Melly memutuskan untuk ikut berbaring tepat di sebelah Fita, berharap kedua matanya itu dapat terpejam. Seperti halnya dengan Fita yang terlihat sangat tenang sekali. Pada kenyataannya tidak seperti itu, karena Melly justru tidak dapat merasakan ketenangan sama sekali. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati, tetapi Melly sendiri pun tidak mengetahui akan hal itu. Tak lama kemudian, Melly mendengar ada suara deru mesin mobil. Keanehan itu berasal dari sini, karena suara mobil tersebut berhenti tepat di depan indekos yang ditempati oleh perempuan tersebut. "Siapa ya?" Melly bertanya-tanya, dengan tubuh yang langsung digerakkan untuk bangun dari posisi yang tadi. Tentu saja hal itu berfungsi untuk mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. Namanya juga Melly, perempuan itu tidak akan pernah diam, jika rasa penasaran di dalam hati tidak kunjung selesai. Perlahan, melangkahkan kaki menuju ke arah pintu. Mengintip bagian depan indekos menggunakan gorden yang berada tepat di samping pintu indekosnya. Kedua tangan Melly langsung bergerak untuk menutup mulutnya yang tengah membuka dengan sendirinya. Karena terkejut dengan kedatangan sang kekasih secara tiba-tiba. Ingin sekali rasanya berteriak saat itu juga, tetapi ketukan di pintu indekos membuat Melly bersikap seolah dirinya adalah perempuan yang paling tersakiti. "Sayang, kamu ada di dalam, kan? Tolong buka pintunya dulu ya!" pinta Bobby, dengan tangan kanan yang tengah mengetuk pintu berulang, tetapi memiliki jeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN