"Tadi itu abis dari mana?" tanya Bobby, dengan suara yang cukup lembut. Tidak ada unsur membentak, atau marah sama sekali.
"Makan," jawab Melly sangat singkat, dengan tatapan yang seperti tidak terima akan kedatangan Bobby secara tiba-tiba itu.
"Makan sama siapa?" tanya Bobby lagi, meskipun mungkin nanti akan mendapatkan jawaban yang kurang ramah, tetapi perempuan yang saat ini berada di depannya itu adalah ratu di dalam hati.
"Sama Bagas."
Mendengar nama seorang laki-laki yang disebut oleh Melly, membuat dahi milik Bobby langsung berkerut.
Bahkan, nama laki-laki itu tidak pernah terdengar sebelumnya di telinga Bobby. "Bagas itu siapa? Perasaan kamu enggak pernah cerita tentang dia."
"Enggak penting banget bahas dia," tepis Melly, yang memang tak mau untuk disalahkan. Apalagi sampai mendapati Bobby yang mengeluarkan amarah.
"Enggak ada yang enggak penting kalau ada sangkut pautnya sama kamu, Sayang. Sekarang aku cuma mau kamu jujur, siapa Bagas?" sahut Bobby, tetapi masih dengan tatapan yang selembut mungkin.
Bobby juga tahu bagaimana karakter dari seorang perempuan. Memiliki hati yang sangat lembut sekali dan juga gampang untuk bersedih, apalagi jika mendapati seseorang yang mengeluarkan kata-kata kasar.
"Kamu ngapain ke sini lagi?" tanya Melly, berusaha untuk mencari pembahasan yang lain lagi
Karena yang berada di pikirannya saat ini, jangan sampai Bobby tahu dan terus-terusan menanyakan tentang laki-laki itu.
Bisa-bisa laki-laki yang saat ini berada di depannya itu akan langsung marah. Melly tak mau sampai hal itu terjadi.
"Sayang, tolong ya, jangan dulu mindahin topik pembicaraan. Aku sekarang ini itu mau tau siapa Bagas?" pinta Bobby, tatapannya memelas.
Sedangkan yang dirasakan oleh Amel saat ini benar-benar tidak tenang, ia tak mau jika setelah ia menjelaskan, kekasihnya itu justru marah dan mungkin tidak akan mau lagi bertemu.
Tak ada jawaban apa pun yang dikeluarkan oleh Melly, membuat Bobby memilih untuk menggerakkan kedua tangannya meraih tangan milik sang kekasih.
"Ada apa? Kenapa enggak mau jawab yang sejujurnya aja? Kamu enggak ada apa-apa kan?" tanya Bobby, setelah ia berhasil mengembuskan napas pelan.
Entah mengapa, jika Melly terdiam, jauh di dalam hati Bobby sama sekali tidak tenang. Seakan ada sesuatu yang memang sengaja ditutup oleh Melly.
"Bagas itu, temen ynag baru akau kenal di perusahaan tempat kita kerja," tutur Melly, lalu setelah itu ia langsung menutup kedua mata.
Tak ingin mengetahui bagaimana reaksi kekasihnya saat ini setelah mengetahui hal yang mungkin membuatnya sangat terkejut sekali.
Terbukti dari kedua tangan milik Bobby yang langsung terlepas begitu saja, tetapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur dan juga sudah terjadi.
"Kamu marah sama aku, karena ada perempuan yang enggak aku kenal, tiba-tiba gabung satu meja dengan kita. Terus kamu sendiri?" tanya Bobby, seraya menggelengkan kepala.
"Kamu satu meja dan makan bareng sama laki-laki lain? Bahkan tanpa adanya aku?" sambung Bobby, hatinya langsung merasa sangat sesak sekali.
Bahkan, kedua matanya saja sudah memiliki genangan air yang mungkin saja akan tumpah kapan pun.
Melihat hal itu, membuat Melly langsung merasa sangat bersalah akan hal itu, apa yang diutarakan oleh Bobby barusan juga sangat benar sekali.
"Di mana pikiran kamu waktu itu sih? Kamu pikir aku itu enggak punya perasaan? Sampai-sampai kamu enak banget buat ngelakuin hal yang kek gitu. Tanpa sepengetahuan aku lagi!" ujar Bobby.
Laki-laki itu sebenarnya tengah menahan rasa kesal. Bagaimana tidak, di saat dirinya merasa bersalah dan langsung bergerak untuk mencari sang kekasih.
Namun, ternyata orang yang ia cari justru tengah bersama engan laki-laki lain. Entah melakukan kegiatan makan, atau hanya bercanda dan bercengkerama, tetapi yang namanya cemburu iitu tidak mengenal apa pun.
"Ini semua enggak seperti apa yang kamu bayangin. Aku sama Bagas cuma sekedar makan berdua aja kok, enggak ada lebihnya," ucap Melly, berusaha untuk membuat tenang laki-laki di depannya.
Tanpa disadari sama sekali oleh Bobby, ternyata kedua matanya itu langsung menjatuhkan air mata. "Kamu tau? Meskipun aku itu laki-laki, tetapi aku masih punya rasa."
"Aku sayang banget sama kamu, bahkan aku sendiri juga enggak ngelakuin apa pun. Aku ngejaga hati buat kamu, tapi kenapa kamu malah kek gini sih?"
"Kamu udah enggak maau lagi sama aku? Kamu bosen sama aku? Ya udah, kalau emang itu yang kamu mau," ujar Bobby, pasrah.
Dilihat dari raut wajah laki-laki itu juga disimpulkan jika tengah merasa sangat putus asa sekali, tetapi Melly justru terus saja menggelengkan kepala.
"Jangan kek gitu, Sayang. Aku nerima ajakan dia buat makan itu, karena aku lapar dan juga aku enggak punya uang sama sekali," ucap Melly menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu lapar? Enggak punya uang? Padahal, kamu itu masih punya aku yang bisa kamu andelin," ucap Bobby, masih tetap menahan amarah yang berada di dalam jiwa.
Melly langsung mengembuskan napas, ia semakin merasa sangat bersalah dengan apa yang tadi ia lakukan bersama dengan Bagas.
"Maaf, waktu itu kan aku lagi dalam posisi kesal sama kamu. Jadi enggak mungkin banget kalau aku harus ngandelin kamu," ucap Melly, mencoba untuk membela diri sendiri.
"Apa pun alasannya, yang pasti kamu itu emang udah enggak mau lagi sama aku, Mel," putus Bobby, lalu mulai berdiri dari possi duduk tersebut.
Rasa takut kehilangan langsung hadir di dalam benak Melly, tangan kanan perempuan itu segera mencekal pergelangan tangan milik Bobby.
"Jangan pergi, aku kangen banget sama kamu," ungkap Melly. Berharap jika Bobby akan mendengar apa yang ia ucapkan dan kembali duduk di posisi yang sama.
"Jangan bersandiwara. Aku tau kalau kamu emang udah sangat bosen sama aku, dan aku juga sadar mungkin kita itu enggak berjodoh," sahut Bobby, dengan kedua kaki yang benar-benar melangkah menuju ke arah luar indekos milik Melly.
"Fit, Fita! Lo bangun dulu coba!" titah Melly, pada sahabat yang dapat dipercayai sekali, tengah tertidur dengan sangat pulas sekali.
"Fit, gue enggak mau kehilangan Bobby, tapi kenapa laki-laki itu malah main hilang gitu aja," tutur Melly.
Suaranya kini terdengar sangat parau sekali, meskipun tadi perempuan itu enggan bertatap muka dengan Bobby.
Namun, ternyata itu semua hanyalah karangan dari Melly sendiri. Untuk menutupi rasa cemburu yang diakibatkan oleh perlakuan Sisil pada sang kekasih.
"Lo sayang enggak sama Bobby? Kalau emang iya sayang sama dia, jangan pernah ngurusin rasa gengsi di dalam hati lo. Karena yang namanya cinta itu poin utamanya adalah keberanian," ujar Fita, cukup panjang lebar sekali.