Mengejar

1022 Kata
"Ih, lo kok malah nanya ke gue tentang hal itu sih? Kan lo tau perasaan gue ke Bobby itu kek gimana," protes Melly, dengan wajah yang cukup terlihat menggambarkan perasaan saat ini. Fita terlebih dulu bangun dari posisi tadi, lalu berucap, "Yaelah, Melly! Kalau emang iya lo itu suka dan cinta sama Bobby, harusnya lo itu kejer dia!" "Oh iya, lo bener juga! Kok gue enggak punya pemikiran ke situ ya," gumam Melly, lalu ia segera berdiri dari posisi duduknya tadi dan bersiap untuk mengendarai mobil yang diberikan oleh kekasihnya itu. "Doain gue buat berhasil ya, entah apa yang bakalan terjadi nanti," ucap Melly, dan setelah mendapat jawaban acungan jempol dari Fita. Barulah perempuan itu melajukan mobil tersebut meninggalkan halaman indekos. Meskipun jauh di dalam hatinya tidak merasa tenang sama sekali, yang dirasakan oleh Melly adalah tetap rasa cinta. Hanya saja, karena Sisil membuatnya kesal dengan Bobby. Kedua mata dan juga kefokusannya harus terbagi. "Maafin aku, Bobby," ucap Melly, dengan kepala yang menatap lurus ke arah depan. Berharap nanti akan melihat mobil milik sang kekasihnya itu, tetapi ternyata tidak ada mobil sama sekali yang terlihat oleh Melly. Membuat perempuan itu langsung bingung dan juga pasrah dengan keadaan sekarang. "Kenapa jadinya malah kacau kek gini sih?" "Padahal, gue itu tadi mau jelasin semuanya. Emang salah gue, karena gue makan bareng sama cowok lain. Tapi kan cuma sebatas makan doang, enggak lebih sama sekali," gumam Melly. Kali ini perempuan itu memilih untuk terlebih dulu menepi, karena berkecimpung dengan pikiran yang sangat rumit sekali. Namun, seketika pikirannya itu langsung tertuju pada rumah yang ditempati oleh Bobby, dan detik itu juga tanpa banyak berpikir lagi. Melly segera melajukan mobilnya lagi menuju ke rumah tersebut. Butuh beerpa waktu untuk mneuju ke rumah dari Bobby, tetapi saat sudah tiba di rumah tersebut, dan menanyakan pada satpam yang bertugas. Bobby justru katanya belum pulang ke rumanya sama sekali. "Ya Tuhan, kamu ada di mana sih Sayang?" "Kenapa perasaan aku jadi was-was kek gini ya?" gumam Melly, lalu memilih untuk kembali masuk ke dalam kendaraannya lagi. Memposisikan dirinya senyaman mungkin, karena memang itu yang akan menjadi bagian rencana milik Melly. Tentu saja hal itu memiliki tujuan untuk menunggu kehadiran dari sang kekasih, setidaknya jika Melly stay berada di situ. Kalau Bobby datang, otomatis akan mendapati mobil milik Melly. Tidak mungkin juga jika Bobby akan bodo amat, dengan kehadiran mobil milik Melly yang berada tepat di depan rumah. Namun, cukup lama sekali Melly menunggu kedatangan mobil milik Bobby, tetapi ternyata tidak ada tanda-tanda sama sekali. Bahkan, saat ini langit mulai menunjukkan pergantian warna. Yaitu menjadi gelap dan tidak ada lagi matahari, digantikan oleh bulan juga bintang. "Ya ampun, emangnya dia sekesal itu sama gue ya?" tanya Melly di dalam hati. Ia mencoba untuk keluar dari dalam mobil, meskipun ia itu baru saja bangun dari kegiatan tidur yang sangat pulas sekali. Menatap nanar ke arah gerbang rumah milik Bobby, lalu merogoh saku celana yang tengah ia kenakan. Mencari nomor telepon milik laki-laki tersebut, lalu menekan tombol telepon. Satu kali tidak diangkat, tetapi Melly tak behentu sampai di situ. Ia coba untuk menghubungi laki-laki itu kembali. Dan yang membuat Melly sangat terkejut adalah, pada panggilan kedua Bobby justru menolak panggilan dari Melly. "Loh, kok malah kek gini, sih? Kenapa hubungan gue jadinya ...." Melly tidak sanggup jika harus meneruskan kata-katanya tadi. Rasa sakit di dalam htai sungguh kentara, bahkan tidak dapat dinetralisir dengan apa pun. Jelas-jelas, sang kekasih yang sedari tadi ditunggu kedatangnanya oleh Melly, justru tidak memberi rasa peduli pada perempuuan tersbeut. "Ya Tuhan, kalau udah kek gini, gue harus apa coba!" seru Melly, lalu saat pikirannya mengingat jika ia saat in imembawa dompet berisi uang. Tanpa membuang waktu sam sekali, Melly langsung masuk kembali ke dalam mobil dan berniat untuk menuju ke salah satu restoran terdekat dari isni. "Mungkin, dengan melihat keramaian, gue bakalan sedikit lebih tenang," gumam Melly, lalu menancapkan gas ke arah yang mau ia tuju. Entah apa yang akan ia lukan nanti pada restoran tersebut, yang pasti adalah Melly tidak mau terlalu pusing memikirkan bagaimna hubungan dirinya dan jugaBobby. Memang ada benarnya juga, jika yang namanya cinta sebelum memiliki ikatan pernikahan itu akan sangat menyakitkan. Bahkan, ada beberapa pasangan yang sudah menikah pun tetap merasakan sakit karena cinta. Lantas, apa yang namanya cinta? mungkin cinta itu indah, bagi orang-orang yang baru saja merasakan apa itu cinta. Jika sudah lama mengenal kata 'cinta' akan merasakan kebosanan dan juga kesengsaraan. Tak membutuhkan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya Melly tiba di salah satu restoran yang ia pilih. Targetnya adalah, banyak sekali pengunjung yang hadir di situ. Tidak ada meja lain yang kosong, selain berada di tengah-tengah restoran tersebut. Mau tak mau Melly pun akhirnya memutuskan untuk duduk di tempat tersebut. meskipun pada awalnya ia ingin sekali untuk duduk di tempat yang paling ujung, tetapi itu tidak terlalu menjadi masalah bagi Melly. Segera perempuan itu mengangkat tangan kanan, itu adalah pertanda jika dirinya sudah siap untuk memesan makanan. Setelah sudah memesan makanan pada seseorang yang bertugas menjadi seorang waiters, Melly memilih untuk melihat-lihat dekorasi di sekitar dan juga mengamati banyaknya pengunjung. Di aantara segitu banyaknya orang yang melakukan kegiatan di restoran itu, tetapi hanya ada satu saja yang menarik perhatian Melly. "Bobby?" gumam Melly, beriringan dengan hatinya yang langsung sangat sakit sekali. Ya, posisi di meja yang letaknya itu tak begiu jauh dari Melly, ada Bobby dan juga perempuan yang sangat familier sekali pada ingatan Melly. "Kenapa harus sama dia juga Bob?" gumam Melly lagi, hatinya kini sudah bukan terluka lagi, melainkan teriris. Perempuan yang tengah membersamai Bobby adalah Sisil. Kedua tangan perempuan itu sudah mengepal, ingin sekali ia langsung beriri dan melabrak perempuan yang tengah melempar tawa. Namun, Melly langsung teringat jika hubungan antara dirinya dan juga Bobby adalah backstreet. Jadi, mau tak mau dirinya harus sabar dan juga bisa mengontrorl emosi. Kalau tidak, bisa-bisa ia dan juga Bobby akan dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. "Eh, lagian Sisil juga kan udah tau gue. Kenapa gue enggak ke situ dengan wajah polos aja ya?" gumam Melly, seraya menyunggingkan senyuman penuh dengan rencana. Sebenarnya, tujuan yang ingin dicapai oleh Melly hanya satu. Jangan sampai kekasihnya itu melakukan sesuatu yang romantis, dengan perempuan lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN