"Eh, ternyata di sini ada Sisil juga?" sapa Melly, setelah ia sudah tiba tepat di samping meja yang ditempati oleh Bobby dan juga Sisil.
"Loh, lo yang waktu itu bareng makan siang kan ya? Sini duduk bareng," jawab Sisil, berpura-pura untuk menunjukkan sikap yang sangat ramah pada lawan bicaranya saat ini.
Tanpa melirik sama sekali ke ara Bobby, Melly langsung duduk di salah satu kursi yang berada di situ, lalu mengulas senyum dengan sangat lebar pada Sisil.
"Lo apa kabar? Sorry ya, waktu itu gue buru-buru banget buat pergi duluan," tanya Melly, mulai mencoba untuk mencairkan suasana.
Untungnya, Sisil saat ini tidak memiliki rasa curiga sama sekali pada dirinya. Membuat Melly merasa sangat lega sekali.
"Oh iya, kita ketemu lagi, dengan orang yang sama persis kek waktu itu ya," ucap Sisil, seraya melirik pelan ke arah Bobby.
Sedangkan Melly, ia membulatkan kedua mata terlebih dulu, baru setelah itu ia pun memutar kepala untuk melihat ke arah Bobby.
"Oh iya. Eh, ada lo Bob di sini?" sapa Melly, berpura-pura menjadi si polos yang tak terlalu mengenal laki-laki tersebut.
Sisil mengulas senyum, lalu ia segera bertanya, "Loh, lo baru tau kalau ada Bobby di sini? Padahal dari tadi kok ada di sini."
"Duh, enggak tau nih kenapa matanya ngeliat ke arah lo terus ya?" sahut Melly, dengan nada bicara yang terdengar menyindir.
Membuat dahi milik Sisil langsung berkerut, sebenarnya perempuan itu sudah mencium ada hal yang tidak beres di antara mereka berduua.
Apalagi melihat tingkah laku Bobby yang tiba-tiba saja berubah dengan sangat drastis sekali.
Yang tadinya sangat aktif untuk melempar canda dan tawa, tetapi semenjak kedatangan Melly justru memilih hanya diam saja.
"Lo kenapa Bob? Kok diem aja dari tadi?" tanya Melly, seraya menatap penuh rasa kesal pada laki-laki tersebut.
Namun, pertanyaan Melly yang seperti itu justru tidak mendapat jawaban sama sekali dari Bobby.
Bahkan, laki-laki itu memilih untuk menggerakkan tangan kirinya supaya lebih dekat lagi dengan wajah, lalu berucap, "Udah malem nih, keknya gue balik aja kali ya."
"Loh, kok balik sih? Kita kan belum selesai buat ngomong-ngomong tentang semuanya? Apalagi makanan lo itu belum selesai dimakan!" protes Sisil, dengan tangan kiri yang langsung bergerak untuk menahan pergelangan tangan laki-laki tersebut.
"Iya nih, kenapa sih Bob? Kok pas gue baru aja dateng, lo malah langsung mau pulang gitu?" timpal Melly.
Membuat Bobby mau tak mau harus kembali duduk di tempatnya lagi, meskipun jauh di dalam hati sama sekali tidak nyaman akan kehadiran Melly.
"Gue abisin makanan aja, terus abis itu langsung balik," ujar Bobby lagi, tetapi lagi-lagi Sisil kembali melarang Bobby.
Dan anehnya, Bobby saat itu hanya dapat mengembuskan napas saja, meskipun sebenarnya ia juga sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Hal itu tentu saja membuat Melly merasa sangat bingung dan juga seperti ada yang tidak beres dengan sang kekasih.
Memutar pandangan lagi hingga ke arah Bobby, lalu berniat untuk mengeluarkan pertanyaan, tetapi penampakan waiters yang tadi mencatat keinginan Melly, membuat perempuan itu langsung mengangkat tangan sebelah kanan.
"Di sini, Mbak!" ucap Melly, lalu menganggukkan kepalanya setelah waiters tersebut menata makanan yang ia pesan di atas meja yang sedang ditempati.
"Maaf ya, kalau saya pindah tanpa konfiirmasi terlebih dulu," ucap Melly, sebelum waiters tersebut akan kembali melanjutkan kegiataannya itu.
"Tidak apa-apa, Mbak, yang terpenting makanannya tetap sampai pada pelanggan," sahut waiters tersebut.
Lalu tanpa ada percakapan apa pun lagi yang terlontar, perempuan tersebut segera membalikkan tubuh dan kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
Sisil yang melihat Melly baru saja memesan makanan, membuatnya hanya dapat mengulas senyum saja.
Jika saat ini dirinya dan juga Bobby meninggalkan tempat, maka rasanya kurang sopan sekali.
"Lo baru aja dateng, kah?" tanya Sisil, yang kembali memecah keheningan.
Dengan tangan kanan yang tengah memasukkan makanan ke dalam mulut, tetapi Melly justru masih tetap menyempatkan dirinya untuk menganggukkan kepala.
"Oh iya, gue itu tadi mau nyapa Bobby, tapi maah harus nyahut tentang waiters," ucap Melly, lalu meletakkan alat makan yang sedari tadi tengah ia pegang.
Melihat ke arah Bobby, lalu mengulas senyum dan bertanya, "Lo apa kabar, Bob? Udah lama juga ya kita enggak bertemu?"
Namun, pertanyaan dari Melly justru tidak mendapat sahutan apa pun dari laki-laki itu, tetapi yang merasa tidak enak bukan Bobby. Melainkan Sisil.
Hal itu tentu saja seperti tamparan keras bagi Melly, bahkan selera makan saja pun langsung menghilang seketika.
"Mungkin Bobby lagi fokus sama ponselnya Mel," ujar Sisil, mencoba untuk membuat Melly lebih tenang sedikit.
Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu. Justru hal tadi membuat Melly tak tenang dan juga kesal sendiri.
"Kalau kalian mau balik, duluan aja enggak apa-apa kok. Lagian gue juga baru sampai di tempat ini, masa iya gue langsung balik gitu aja. Enggak asik," ucap Melly, sembari menahan rasa sakit yang ada di dalam d**a.
"Eh, emangnya lo enggak apa-apa kalau sendirian di sini?" tanya Sisil untuk memastikan.
"Enggak apa-apa, santai aja. Tadi gue dateng aja sendirian kok, masa iya udah ketemu kalian berdua jadinya enggak berani lagi," jawab Melly, seraya mengulas senyum.
Sisil menganggukkan kepalanya pelan, perempuan tersebut tengah membenarkan apa yang baru saja diuatarakan oleh Melly.
"Ya udah, kalau kek gitu gue balik duluan ya sama si Bobby," pamit Sisil, seraya menatap wajah Bobby.
"Gue minta nomor telepon lo, boleh atau enggak?" pinta Melly, yang tentu saja langsung dijawab dengan anggukan oleh Sisil.
Tanpa ada rasa keberatan sama sekali, perempuan itu langsung menyerahkan nomor telepon yang ia punya pada Melly.
"Buat apa emangnya?" tanya Sisil, dahi perempuan itu mulai berkerut.
Rasanya heran juga dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Melly, tetapi ia lebih memilih untuk memberikan nomor telepon tersebut.
Lagipula, sesama perempuan mungkin tidak akan berani untuk melakukan hal-hal yang sangat aneh. Itu adalah menurut pemahaman Sisil sendiri.
Sebenarnya Amel pun tidak memiliki rencana atau niat jahat, hanya saja dirinya ingin mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi.
Karena saat ia tadi bersama dengan Sisil dan juga menanyakan beberapa tentang pertanyaan, tatapan mata milik Bobby justru tidak bersahabat sama sekali.
Maka dari itu Melly memilih untuk meminta nomor telepon milik Sisil, supaya ia bisa dapat menanyakan hal-hal yang berada dalam di dalam hati Melly sendiri.
"Makasih ya, Sil. Nanti gue bakalan hubungin lo lewat nomor ini ya," ucap Melly, yang dijawab dengan anggukan kepala dan juga acungan jempol tangan kanan.