Seperginya dua orang yang tadinya satu meja bersama dengan Melly, membuat perempuan itu hanya dapat mengembuskan napas saja.
Pasrah pada takdir yang akan ia jalani, meskipun rasanya sangat sakit jika kenyataan yang akan diterima itu tidak sesuai dengan harapan.
Namun, yang namanya bisa apa selain pasrah? Sama halnya dengan Melly yang saat ini hanya bisa menatap bangku kosong yang berada di samping sebelah kanan.
"Kenapa semuanya bisa berubah dengan cepat banget?" gumam Melly, dengan keda tangan yang memainkan makanan miliknya.
Beberapa menit dilalui oleh Melly hanya dengan lamunan saja, lagipula tidak ada teman yang berada di sekelilingnya saat ini.
Sampai pada akhirnya ponsel milik Melly itu berdering. Menandakan jika ada panggilan yang masuk ke dalam ponsel tersebut.
"Fita?" gumam Melly, yang langsung segera memencet tombol menerima panggilan tersebut.
Mendekatkan ponsel itu dengan telinga, lalu menatap lurus ke arah depan. Tentu saja hal itu supaya Melly bisa dapat lebih fokus dengan apa yang akan ia dengar dari Fita.
"Lo lagi ada di mana sekarang? Udah ketemu belum sama Bobby? Gue khawatir banget sama lo!" tanya Fita, yang berhasil membuat Melly kembali merasakan heran.
"Gue lagi ada di restoran. Oh iya tentang Bobby, gue harap lo bisa jangan bahas dia lagi di depan gue ya," jawab Melly, sembari menahan rasa sesak yang ada di dalam d**a.
Jawabna yang diutarakan oleh melly tentu saja membuat Fita langsung merasa bingung. "Lo ngomong apaan sih, Mel? Jangan ngaco, deh!"
"Nanti gue bakalan ceritain semuanya ke lo, tapi bukan sekarang karena gue enggak ada mood buat bahas dia," ujar Melly, seakan mengerti tentang apa yang saat ini berada di dalam pikiran Fita.
"Tapi lo sekarang enggak kenapa-napa, kan?" tanya Fita lagi, tersirat sekali ada rasa khawatir di dalam nada bicara perempuan tersebut.
Melly menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Lo santai aja ya, gue enggak kenapa-napa kok. Gue baik-baik aja di sini."
"Rencananya lo kapan baut balik ke kosan?" tanya Fita lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan barusan, Melly jutsru langsung mengembuskan napas.
Seakan ada banyak tanggungan yang berada di dalam benaknya untuk saat ini, barulah Melly pun menjawab, "Mungkin nanti jam sembilan malam."
"Ya udah, yang penting jangan terlalu malem ya. Gue ini juga bentar lagi bakalan berangkat ke tempat penyiaran," ujar Fita, memberitahu.
"Lo hati-hati ya," sahut Melly, lalu langsung menutup sambungan telepon. Tentu saja setelah mendapat jawaban lagi dari Fita.
Kedua orang yang memiliki jenis kelamin sama itu adalah sepasang sahabat, hanya saja memiliki pemikiran yang sangat berbeda.
Bahkan, jika Melly sangat ingin sekali bekerja di perusahaan yang saat ini ditempati oleh perempuan itu. Lain halnya dengan Fita yang memiliki kepribadian cerewet.
Sehingga perempuan bernama Fita itu memilih untuk berkecimpung di dalam dunia penyiaran. Salah satunya adalah sebagai tempat kerjanya saat ini. Yaitu, penyiaran radio.
Karena memang Melly tidak memiliki mood sama sekali untuk melanjutkan kegiatan makan, maka perempuan itu memutuskan untuk segera meninggalkan restoran tersebut.
"Gue mau pergi ke mana lagi ya? Bingung sendiri gue sama hidup gue yang kek gini banget," gumam Melly, dengan kedua kaki yang terus saja melangkah mendekat ke arah mobil miliknya itu.
Setelah berada tepat di samping mobil tersebut, kini Melly pun langsung merogoh celana yang tengah ia kenakan untuk mencari kunci mobil tersebut.
Masuk ke dalam mobil, menghirup dalam-dalam bau harum penyejuk ruangan yang harumnya itu sangat menenangkan sekali.
"Apa gue ke taman aja kali ya? Kira-kira jam segini banyak enggak sih orang di sana?" Hanya mengucapkan hal itu saja, lalu tanpa pikir panjang lagi, Melly langsung melajukan kendaraan roda empatnya menuju ke tempat yang ingin ia tuju.
Namun, saat dirinya baru saja beberapa menit melajukan mobil, ponsel kembali berdering. Mau tak mau membuat Melly harus menepikan kendaraannya terlebih dulu.
Apalagi setelah ia melihat layar ponsel dan muncul nama seorang laki-li yang belum lama tadi berjumpa dengan dirinya.
Memilih untuk asal mengangkatnya saja, lalu suaranya sengaja ia perbesar, sedangkan Melly memilih untuk melanjutkan perjalanannya lagi.
Melly menunggu suara yang keluar dari dalma ponsel miliknya, tetapi ternyata tak kunjung ada suara yang keluar dari ponsel tersebut.
"Halo? Maaf ada apa?" Pada akhirnya yang mengawali pembicaraan adalah Melly terlebih dulu.
"Maksudnya apa tadi?" Suara Bobby kini terdengar dan entah mengapa justru membuat Melly langsung mengulas senyum.
Suara itu, meskipun dikeluarkan dalam keadaan yang tengah tidak bersahabat, tetapi membuat Melly justru merasa tenang sekali.
Terkadang Melly pun merutuki dirinya sendiri yang terlalu lemah dalam mengontrol perasaan, tetapi hal itu sebenarnya muncul dan hadir dengan sendirinya.
"Halo?" Bobby kembali bersuara, karena sedari tadi melly memang tidak mengeluarkan sahutan apa pun.
"Eh, iya ada apa?"
"Apa maksud kamu kek tadi?" tany Bobby.
"Makssudnya bagaimana?" tanya Melly balik, perempuan itu memilih untuk berpura-pura tidak tau dengan apa yang tengah dibahs oleh Bobby.
Seraya membagi konsentrasi, tetapi juga kedua telinganya tetap dipasang untuk mendengar apa yang akan kembali dikeluarkan oleh laki-laki tersebut.
"Oh iya, kamu ngerasa terganggu sama kehadiran aku tadi?" tanya Melly, sembari menahan rasa sakit yang ada di dalam d**a.
Entah karena sudah kebiasaan atau apa, jika ssedang berbicara dengan Bobby selalu saja menggunakan kata aku dan kamu.
Lain halnya dengan apa yang diutarakan tadi oleh Melly, saat ada Sisil di antara mereka. Maka Melly memilih untuk mengeluarkan panggilan menggunakan kata lo dan gue
"Udah tau ganggu, tapi enggak punya kesadaran!" sarkas Bobby, yang mampu menambah hadirnya luka di dalam hati Melly.
"Ulangi sekali lagi bisa?" pinta Melly.
"Kamu emang ganggu kebersamaan kita tadi!" ujar Bobby, bahkan ucapannya terdengar cukup keras sekali.
Dan Melly sama sekali tidak bisa menahan rasa sakitnya lebih lama lagi, buru-buru tangan kanannya bergerak untuk mematikan sambungan telepon tersebut.
Menepikan kendaraan yang sedari tadi ia bawa, lalu menumpahkan semua air mata yang dimiliki. Bahkan, Melly langsung sesenggukan, itu dikarenakan rasa sakit yang teramat.
"Kenapa harus menghadapi kenyatan yang seperti ini? Padahal, sebelumnya itu kit apernah berjanji buat enggak belok apa pun keadaannya," ucap Melly, dengan kedua tangan yang berusaha untuk menghapus air mata tersebut.
Namun, hal itu tidak mencegah tangisan Melly berhenti, justru semakin deras dan juga banyak sekali. Ditambah rasa sesak yang ada di dalam hati.
"Kenapa hanya karena masalah sepele, jadi seperti seseorang yang tidak pernah bertukar rasa?" gumam Melly lagi.
Bagaimanapun juga, Melly tetap saja memiliki rasa sakit jika menghadapi kenyataan yang sangta pahit seperti itu.