Bekal makanan

1019 Kata
Meskipun hati Melly sedang sakit dan juga bahkan terluka, tetapi tujuan utama dari perempuan itu tetap terlaksana. Ia kembali melajukan kendaraan roda empatnya itu menuju ke salah satu taman, yang memang sebentar lagi akan tiba di tempat tersebut. Ini sebenarnya sudah malam, tetapi untungnya masih cukup banyak penjual dan juga orang-orang yang berkeliaran di sekitar taman. Hal itu tentu saja membuat Melly sedikit tenang dan juga tidak panik, apalagi takut kedatangan hantu. Suasana aramai, dengan udara yang sangat segar, tetapi angin berhembus cukup dingin. Krena memang ini sudah malam, tidak aneh jika udara sekitar berubah menjadi sangat dingin. Melly memilih untuk menempati salah satu kursi yang terdapat lampu, tentu saja untuk menerangi kursi tersebut. Melihat bagaimana orang-orang beraktivitas dan juga bercanda ria. Sedangkan dirinya? Hanya sendiri, bahkan jika mengingat kejadian tadi, Melly kembali merasakan sakit. Hanya melamun dan juga menyaksikan orang-orang, membuat Melly cukup bosan, tetapi tak disadari sama sekali jika saat ini ternyata jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Membuat Melly langsung bergegas untuk kmebali mendekat ke arah mobil miliknya yang terparkir dengan sangat rapi, lalu memasuki kendaraan tersebut. Melajukan mobil hingga tiba di depan indekos, sebenarnya ada asa kesal juga saat Melly mengendarai kendaraan tersebut. Bagaimana tidak, masalahnya itu adalah pemberian dari Bobby, dan mungkin kapan saja itu akan kembali ditagih. Entahlah, yang terpenting adalah Melly haruss terbiasa untuk tidak menggunakan kendaran tersebut. Jika sudah ditekadkan di dalam hati, mungkin sudah dapat dipastikan akan berhasil. Meskipun sehari-harinya sudah terbiasa menggunakan kendaraan itu. Memarkirkan mobil tersebut di tempat biasa Melly meletakkan mobil tersebut, lalu tangan kanannya segera merogoh saku celana untuk meraih kunci indekos. Setelah masuk ke dalam indekos, dan juga membersihkan tubuh, yang dilakukan oleh Melly adalah langsung tertidur. Lagipula tidak ada apa pun lagi yang sangat istimewa. Jika biasanya sebelum tertidur ia akan memainkan ponsel terlebih dulu untuk memberi kabar pad sang kekasih. Namun, untuk sekarang tidak ada aktivitas tersebut. "Memangnya ini benerean selesai? Kenapa kok raanya enggak rela banget ya?" gumam Melly bertanya-tanya. "Perasaan baru aja kemarin bercanda bareng, bertukar cerita, tapi kenapa sekarang malah ngilang enggak ada kabar sama sekali?" "Jangankan kabar, sekalinya nelpon aja justru bentak," sambung Melly, dengan nada pada kalimat terakhir itu menjadi sangat lirih. Apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh Melly itu semua benar, karena sifat dan juga perilaku dari Bobby sangatlah berbeda. Entah itu karena apa, tetapi yang pasti Melly sangat merindukan kekasihnya yang dulu. "Kalau iya karena gue yang salah, gara-gara makan bareng sama si Bagas. Kenapa malah jadi dendam kek gitu ya? Malahan lebih parah banget," gumam Melly lagi. Meskipun otaknya bekerja dan juga menyuruh untuk segera tertidur, karena nanti diharuskan untuk bangun pagi-pagi sekali. Tentu saja supaya tidak tertinggal untuk naik angkutan umum, tetapi hati milik Melly justru menyuruh perempuan itu untuk tetap terus mengingat knangan bersama laki-laki itu. Sebisa mungkin Melly harus menepis semuanya, dan mencooba untuk memejamkan mata. Meski ia tahu jika semuanya tidak mudah untuk dilakukan. Namun, karena dipaksa, akhirnya perempuan itu dapat berhasil mengalahkan hati. Melly tertiur dengan sangat nyenyak. Dan sesuai dengan target yang ingin ia capai, saat ini perempuan itu bangun lebih awal dari biasanya. Membereskan segalanya, dengan gerakan cepat, lalu setelah siap baru Melly melangkahkan kaki menuju ke luar dari indekos. Tak lupa juga dengan sepasang sepatu yang ia ambil dari tempat penyimpanan alas kaki. Mengenakan alas kaki tersebut dan bersiap untuk segera menuju ke jalan raya. Sebelum kedua kaki mulai melangkah, Melly terlebih dulu memejamkan mata dan di dalam hati ia berucap, "Semoga aja apa yang gue lakuin hari ini itu sudah sangat benar sekali." Mengembuskan napas berkali-kali, lalu kedua kaki mulai diayunkan untuk meninggalkan halaman indekos yang ia tempati. Tentu saja dengan gerakan yang cukup tepat, supaya dapat segera tiba di jalan raya dan juga bertemu dengan angkutan umum. Namun, di tengah jalan rencana yang tadinya sudah disusun matang-matang oleh Melly harus kandas. Pasalnya ia berpapasan dengan Bagas. "Melly? Ayo naik!" titah Bagas, yang langsung membukakan satu pintu mobilnya. Tak ada sahutan apa pun yang dikeluarkan oleh Melly, tetapi di dalam hatinya itu sudah memiliki rencana untuk tak mempedulikan ucapan Bagas. Ternyata, Bagas adalah laki-laki yang sedikit pemaksa. Terlihat dari caranya yang langsung keluar dari dalam mobil, menghampiri Melly serya mengulas senyum. "Kenapa dari tadi diem aja sih? Lo mau kalau nanti bakalan telat ke kantor?" tegur Bagas, membuat Melly mau tak mau harus menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam mobil tersebut. "Kita jalan sekarang ya? Lo udah sarapan atau belum?" tanya Bagas, dengan tatapan yang menyirtkan akan perhatian cukup besar sekali. Melly menggelengkan kepala, lalu menjawab, "Nanti bisa beli makanan di sana kok." "Enggak ada waktu buat beli makanan di sana," sahut Bagas, lalu ia membuka bekal makan yang memang sudah dipersiapkan terlebih dulu tadi. Menyerahkan bekal makanan tersebut pada Melly, seraya berkata, "Ini silahkan dimakan aja ya." "Gue enggak mau dan paling enggak bisa kalau liat perempuan yang sakit," sambung Bagas. Sedangkan Melly yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya dapat diam dan tak menyahuti apa pun. "Lo enggak apa-apa, kan?" tanya Bagas, seraya tangan kanannya bergerak untuk memeriksa kening Melly. Karena sedari tadi perempuan yang saat ini berada di sampingnya itu tidak mengeluarkan sahutan sama sekali. "Gue enggak apa-apa, cuma gue itu lagi heran aja sama lo, kenapa perhatian gini sih sama gue?" sahut Melly, yang langsung mengutarakan alasan mengapa dirinya melamun dari tadi. Satu alis milik bagas langsung terangkat, lalu berbalik untuk mengutarakna pertanyaan, "Loh, memangnya kenapa? Salah kalau gue itu ngasih perhatian kecik kek gitu buat lo?" "Lo enggak ada pikiran macem-macem, kan?" tuduh Melly, seraya melempar tatapan penuh selidik pada laki-laki di sampingnya yang sebenarnya tengah berusaha fokus pada jalanan. "Enggak ada apa-apa, gue itu orang baik-baik. Jadi santai aja dan enggak usah takut lagi," sahut Bagas, serya menggelengkan kepala. Baru kali ini dirinya mendapat ucapan yang cukup fronntal seali dan juga berani untuk mengungkapkan hal itu. Tanggapan dari Melly juga hanya anggukan kepala saja, karena saat ini tak ada yang mau ia utarakan. "Gue makan ya bekal yang lo kasih ini?" tanya Melly, untuk meminta izin. "Iya, tinggal makan aja kali, Mel. Kenapa harus minta izin sih?" sahut Bagas, diiringi dengan tawa pelan yang justru menambah kadar tampan laki-laki tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN