Bertemu tak sengaja

1022 Kata
Saat sedang melahap makanan milik Bagas, entah mengapa Melly justru langsung memiliki fikiran untuk memberi satu suapan pada laki-laki tersebut. Karena bagaimanapun juga, makanan yang saat ini berada di genggaman tangannya adalah milik Bagas. "Bagas," panggil Melly, yang langsung membuat Bagas menolehkan kepalanya ke arah Melly. "Lo udah makan?" tanya Melly, perempuan itu saat ini tengah merasakan hati yang tidak tenang. Dahi milik Bagas langsung berkerut, lalu menjawab, "Emangnya kenapa?" "Kalau belum, enggak apa-apa kan kalau gue itu nyuapin lo?" sahut Melly, tetapi pandangannya memilih untuk menunduk. Sebenarnya, untuk mengutarakan hal itu butuh keberanian yang cukup besar. Apalagi Bagas memiliki status hanya sebagai teman kerja saja. "Nyuapinnya yang ikhlas, ya?" Bagas mengulas senyum, rasanya sangat senang sekali diberi penawaran seperti itu oleh perempuan yang ia suka. Mendengar sahutan yang dilontarkan oleh Bagas, membuat Melly langsung mendoongakkan kepalanya lagi, lalu tanpa berucap apa pun lagi tangan kanannya langsung menyiapkan makanan yang akan masuk ke dalam mulut laki-laki tersebut. "Buka mulutnya!" titah Melly, yang lnagusng dituruti oleh Bagas. Tentunya dalam keadaan yang seperti itu, Bagas terlebih dulu memelankan laju mobil. Setelah itu, Melly kembali memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya sendiri, seraya melirik ke arah Bagas sebentar. Bagas tidak mempedulikan lirikan yang ditunjukkan oleh Melly, karena fokusnya saat ini adalah mengendarai kendaraan. "Lagi?" tanya Melly, dengan tangan kanan yang sudah siap tepat di depan wajah laki-laki tersebut. Dan tentu saja tidak ada kata penolakan sama sekali yang dikeluarkan oleh Bagas, segea membuka mulut supaya perempuan yang ia suka itu dapat kembali makan. Tepat waktu sekali, saat mobil milik Bagas tiba di parkiran kantor mereka kerja, bekal makanan Bagas juga baru saja habis oleh Melly. "Ada minum enggak?" tanya Melly, meskipun dengan keadaan mulut yang masih penuh. "Ada, nih." Bagas dengan sangat cekatan langsung menyerahkan air minum yang memang selalu ia sediakan di dalam mobil. Dengan sangat senang hati sekali Melly langsung menerima air minum tersebut, lalu meneguk hingga tersisa tinggal setengah, lalu diberikan lagi ke Bagas. Sesuatu hal yang mengejutkan kembali terjadi, Bagas tanpa ada rasa jijik langsung meminum air minum yang tadi sudah terlebih dulu diminum oleh melly. "Bagas, itu kan botolnya bekas gue?" protes Melly, dengaan kedua alis yang menyatu. Namun, Bagas justru langsung mengedikkan bahunya, lalu menjawab, "Tapi intinya sama, kan? Ini itu air minum. Sayang banget kalau enggak diabisin." Melly masih pada posisi melempar tatapan penuh rasa heran pada laki-laki yang saat ini berada di sampingnya. "Udah, masa kek gitu aja dipikirin, sih? Lebih baik kita langsung keluar terus kerja," ajak Bagas, yang ternyata langsung menggerakkan tangan kanan terlebih dulu untuk membuka pintu mobil. Membuat Melly mau tak mau juga ikut membuka pintu mobil yang ia tempati itu. "Kita masuknya jangan barengan kek gini ya, enggak enak kalau diliatin," ucap Melly pada Bagas, dan langsung disetujui. "Gue dulu aja yang masuk, oh iya, ini tempat makan gue bawa dulu. Besok gue kasih ke lo," ucap Melly, lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke pintu utama. Dari kejauhan, Bagas hanya mampu memandang dan juga memperhatikan perempuan itu. Ia seperti bermimpi mendapat perlakuan seperti itu dari Melly. Namun, jika dirinya dikatakan mimpi, mengapa sampai saat ini ia tak kunjung bangun juga? Memikirkan hal itu justru menambah rasa pusing. Bagas menggelengkan kepalanya, lalu segera melangkahkan kaki juga supaya bisa cepat tiba di pintu utama. Melly melangkahkan kakinya menuju ke ruangan yang ia tempati, dan tidak sengaja berpapasan dengan Bobby. Raa kikuk itu terjadi, bahkan kedua bola mata masing-masing saling bertatapan. Namun, ternyata Bobby memilih untuk langsung memalingkan pandangan ke arah lain. Dan itu tentu saja kembali menambah luka yang harus diterima oleh Melly, rasanya sangat sakit. Bahkana, jika saat ini di depan Melly ada kaca, bisa dipastikan jika kedua mata sudah memerah. Mengembuskan napas pelan, lalu kembali melanjutkan langkah kaki menuju ke dalam ruangan dan menidurkan kepala di atas meja, tentu saja dengan kedua tangan yang menjadi tumpuan. Tidak lama kemudian Bagas masuk ke dalam ruangan tersebut, dan juga cukup terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. "Mel, lo enggak apa-apa? Lo sakit?" tanya Bagas, dengan tangan kanan yang tanpa izin langsung menyentuh pundak perempuan tersebut. Membuat Melly langsung terperanjat dan segera duduk dengan posisi yang tegak, lalu menjawab, "Eh, gue enggak apa-apa kok. Santai aja." Tangan kanan Melly langsung menuntun tangan Bagas untuk turun dan supaya tidak lagi menyentuh tubuhnya. "Eh, sorry." Hanya itu saja tanggapan dari Bagas, lalu kedua kakinya melangkah menuju ke arah tempat kerja dirinya. Meninggalkan Melly yang tengah memiliki pikiran berkecamuk. 'Kenapa rasa cinta sesakit ini, sih?' gumam Melly di dalam hati. Mencoba untuk melupakan kejadian tadi tidaklah mudah sama sekali, ia harus memejamkan mata dan mengembuskan napas berkali-kali. Tentu saja supaya Melly dapat melakukan aktivitas seperti biasanya lagi. Meskipun sakit, perempuan itu tetap mencoba untuk terlihat biasa saja. Dan ya, usaha yang dilakukan oleh Melly itu membuahkan hasil. Perempuan itu berhasil mengerjakan pekerjaan kantor tanpa ada kendala sama sekali. "Mel, istirahat atau enggak?" tanya Bagas, setelah sudah masuk jam istirahat dan dengan sangat cepat sekali laki-laki itu mendekat ke arah Melly. Mendapat ajakan yang seperti itu dari Bagas, membuat melly langsung merasa sangat bingung sekali. Di satu sisi, ia sudah memiliki niat untuk tidak akan keluar dari dalam ruangan, tetapi di satu sisi lain lagi Bagas tadi sudah melakukan hal baik kepada dirinya. "Mel? Kok lo malah bengong, sih? Kan gue itu ngajak lo buat makan," tegur Bagas, membuat Melly langsung mengedipkan kedua mata. "Ini beneran atau enggak?" tanya Melly, berpura-pura untuk bersikap lugu. Karena keinginan hati yang tetap berada di dalam ruangan itu sangat kuat, tetapi tenyata Bagas justru seperti tidak mengizinkan untuk hal itu. "Ayo, Mel! Masa iya lo betah banget sih ada di ruangan kek gini?" Bagas langsung mencekal pergelangan tangan sebelah kanan milik Melly. "Sekalian lo juga makan lagi, masa iya makannya cuma pagi doang. Yuk!" Mau tau mau jik sudah dipaksa seperti itu, membuat Melly hanya dapat menurut saja. Mereka berdua pun segera melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan tempat bekerj,a tetapi ternyata takdir memberi kejutan lagi pada Melly. Dengan cara mempertemukan Melly dengan Bobby, yang otomatis membuat perempuan itu sakit hati sekali. Apalagi yang berada di samping Bobby adalah Sisil, tetapi sebisa mungkin Melly langsung menunjukkan senyuman sangat manis sekali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN