"Mau ke mana, Mel?" sapa Sisil, dengan senyuman yang langsung berada di wajah.
Sial, mengapa perempuan itu membuat Melly merasa tak enak dan juga sangat kikuk sekali. Mau tidak menjawab, tetapi nanti dicap sebagai orang yang sangat sombong sekali.
Namun, Melly juga sebenarnya tidak ingin lama-lama untuk bertatap muka dengan Bobby, tetapi Melly pada akhirnya tetap menjawab, "Gue mau makan, lo sendiri mau ke mana?"
"Gue juga sama kek lo, mau makan. Gimana kalau kita makannya bareng aja?" jawab Sisil, lalu langsung disambung dengan tawaran yang membuat Melly kembali dibuat bingung dan juga tak enak.
"Eum ... keknya enggak usah, deh! Apalagi keknya lo sama Bobby makin hari nambah deket aja," sahut Melly, lalu ia mendekatkan mulut ke telinga Sisil dan berbisik, "Atau jangan-jangan lo sama Bobby udah jadian?"
Bisikan dari Melly tadi, mampu membuat Sisil langsung malu dan juga kedua pipi yang berubah warna menjadi merah merona.
"Udah ah, gue jalan duluan aja ya," pamit Melly, lalu tanpa menunggu jawaban yang akan dikeluarkan oleh Sisil, perempuan itu justru langsung melangkahkan kaki menuju keluar dari kantor tempatnya bekerja.
Lalu tanpa memberi perintah sama sekali, Bagas juga langsung mengikuti langkah kaki dari Melly. Setelah itu mereka berdua pun melangkahkan kaki menuju ke parkiran.
Tentu saja tujuan utamanya adalah mencari tempat makan yang terdekat dari tempat kerja mereka berdua.
"Mel, lo enggak kenapa-napa, kan? Kok keknya lo itu enggak mood gitu?" tegur Bagas, setelah keduanya sudah tiba tepat di depan mobil milik Bagas.
Mendapat teguran seperti itu, membuat Melly langsung mengerjapkan kedua matanya dan menjawab, "Hah? Gue enggak apa-apa kok. Santai aja."
"Yakin lo?" Bagas kembali memastikan keadaan perempuan yang saat ini berada di sisinya.
Melly mengulas senyum terlebih dulu, lalu menganggukkan kepala dan menjawab, "Iya. Gue enggak apa-apa kok."
Tak ada pertanyaan apa pun lagi yang akan dikeluarkan oleh Bagas, karena laki-laki itu juga sebenarnya sudah sangat kehabisan kata-kata.
"Ya udah, sekarang masuk, yuk! Kiita cari makan, biar enggak buang waktu juga," titah Bagas, dengan tangan kanana yang langsung bergerak untuk membuka pintu mobil tersebut.
Tentu saja dengan sangat senang hati sekali Melly langsung masuk ke dalam mobil tersebut, lalu disusul dengan Bagas yang mengitari mobil miliknya terlebih dulu untuk segera sampai dan masuk ke tempat duduk kemudi.
"Pakai sabuk pengamannya, Mel," tegur Bagas, lalu tanpa basa-basi lagi ia langsung memasangkan sealt belt pada tubuh Melly.
Mendapta perlakuan manis seperti itu, membuat Melly langsung merasa sangat kikuk sekali. 'Harusnya perlakuan itu ditunjukkin sama Bobby, tapi mungkin dia udah nyaman sama cewek yang lain.'
Hanya gumaman di dalam hati yang mampu Melly utarakan, nyalinya terlalu ciut untuk langsung mengutarakan apa yang ia rasa pada Bobby.
Lagipula, sepertiinya Bobby tidak ada keinginan untuk mengajak dirinya berbicara. Jika takdir merencanakan untuk mempertemukan mereka berdua, entah mengapa Bobby justru memiliki seribu alasan untuk menghindar.
"Mel," panggil Bagas, membuat melly secara refleks langsung menolehkna kepalanya.
Bagas mengulassenyum, lalu bertanya, "Tempat makannya ada yang mau lo rekomendasiin enggak? Atau gue aja yang milih mau makan di mana?"
"Opsi yang kedua aja ya, hehe. Gue mah ngikut aja apa yang lo mau, yang paling penting itu rasa makanan udah terjamin enak," sahut Melly, membuat Bagas langsung menganggukkan kepalanya karena memang sudah paham.
Sepanjang jalan mereka berdua pergi menuju ke restoran yang akan dituju, hanya diam saja. Tidak ada perbincangan apa pun lagi.
Melly dengan pikirannya sendiri, tentu saja masih tentang Bobby dan juga Sisil. Perempuan itu masih curiga, ia takut jika sang kekasih justru akan menjalin hubungan dengan perempuan yang memiliki nama Sisil itu.
Di sisi lain, naluri sebagai laki-laki tentu saja tidak merasa nyaman jika mendapati lawan jenis yang saat ini berada di sampingnya itu hanya diam saja.
Memikirkan topik apa yang akan ia utarakan, tetapi pada kenyataannya itu tetap saja nihil.
Bagas masih saja merasa kaku, karena memang ini baru permulaan bisa mendekati Melly. Meskipun peraturan perusahaan tidak memperbolehkan sesama karyawan untuk jatuh cinta.
"Mel, gue mau nanya sesuatu sama lo. Boleh aau enggak?" tanya Bagas tiba-tiba.
Hal itu membuat Melly langsung kembali memutar kepalanya ke arah Bagas dan menunjukkan raut wajah yang bertanya-tanya.
"Boleh atau enggak?" tanya Bagas lagi.
Melly mengembuskan napas pelan, lalu menjawab, "Kalau gue ngeliat ke arah lo. Berarti gue udaj siap buat denger pertanyaan yang bakal lo kasih ke gue!"
"Emangnya mau nanya apaan sih?" tanya Melly pada akhirnya.
"L-lo udah ada pasangan atau belum?" tanya Bagas, dengan awal kalimat yang cukup menggambarkan jika dirinya itu tengah merasa gugup.
Pertanyaan Bagas barusan, membuat Melly langsung mengedikkan kedua bahunya ke atas.
"Loh, artinya apaan kek gitu?" Bagas mulai mengeluarkan tawa kecil dari bibirnya.
"Gue juga enggak tau, apa gue udah pasangan ya?" sahut Melly, tampang polos langsung ia tampilkan.
Seru sekali jika melakukan hal itu, tetapi justru membuat Bagas semakin merasa sangat bingung. "Yang ngelakuin hidup kan lo, kenapa malah lo enggak tau tentang hal itu?"
"Ya, mau gimana lagi. Gue udah terlalu sakit buat ngerasain yang namanya cinta," jelas Melly.
Bagas diam, sepertinya ia salah menanyakan hal seperti itu, terlihat dari mimik wajah Melly yang tiba-tiba saja menjadi murung.
"Sorry kalau gue salah ngomong tadi," tutur Bagas, dan kali ini yang mengeluarkan tawa adalah Melly.
"Santai aja kali, gue enggak pernah nyalahin seseorang kok. Gue tau kalau lo itu mau nyari topik pembocaraan, tapi enggak tau kenapa gue enggak ada mood buat ngobrol apa pun," jawab Melly jujur dari dalam hati.
Apa yang baru saja diutarakan oleh Melly, seolah memang sudah mencakup semuanya. Sehingga membuat Bagas hanya diam dan juga tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi.
Sampai akhirnya kendaraan roda empat yang sedari tadi ia bawa itu tiba tepat di depan restoran. "Turun, yuk! Ini rekomendasi restoran menurut gue," titah Bagas.
Tanpa ada kalimat penolakan sama sekali, Melly langsung melepas sealt belt yang masih terpasang pada tubuhnya, lalu keluar dari dalam mobil tersebut.
Melihat ke arah sekeliling restoran tersebut dan sepertinya Melly belum pernah sama sekali mengunjungi restoran itu.
Ada ketertarikan tersendiri yang terpancar dari raut wajah Melly, seperti rasa senanag dan juga lega memandang sesuatu.
Namun, hal itu sama sekali tidak dapat diutarakan oleh Melly. Perempuan tersebut haya diam dan juga memadangi bangunan restoran, seraa senyuman yang terus saja tampil di wajah.