Makan

1015 Kata
"Jangan ngeliatin terus, lebih baik kita langsung masuk aja, yuk!" tegur Bagas, lalu disambung dengan ajakan yang langsung keluar begitu saja dari dalam mulutnya. Jika dilihat dari tempat parkir yang sangat padat dengan kendaraan, Melly yakin jika di dalam restoran itu sudah banyak sekali pengunjung yang menikmati makanan. Namun, tidak ada satu patah kata pun yang ingin dilontarkan oleh perempuan itu. Hanya membatin di dalam hati dan juga berdecak kagum, dengan keindahan serta kemegahan bangunan tersebut. "Wah, kenapa rame banget ya?" celetuk Melly tanpa disadari sama sekali oleh dirinya. Dan Bagas ternyata sedang peka dengan indra pendengarannya itu, ia mengulas senyum, lalu menjawab, "Maklum aja, orang di sini emang makanannya enak banget kok." "Emang iya?" Melly menatap wajah Bagas, perempuan itu memang tidak terlalu percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Bagas. Tentu saja karena dirinya belum pernah atang ke restoran itu, bahkan mlihat dekorasi yang terdapat di dalam ruangna, sudah menandakan jika restoran itu akna menyajikan makanan mewah. Bagas melangkahkan kaki untuk menuju ke salah satu meja yang kebetulan masih kosong, lalu berucap, "Lo pasti berpikiran kalau ini itu makanan yang mewah, kan?" Melly hanya menganggukkan kepalanya saja, karena memang yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah benar seperti itu. "Lo salah, karena di sini itu nyediain makanan yang biasa lo temuin di pedagang kaki lima. Bahkan, orang yang masak aja pedagang itu sendiri," ujar Bagas, tetapi tidak dapat langsung dimengerti oleh Melly. Bagas mengeluarkan tawa kecil lagi, lalu kembali bertanya, "Kenapa? Lo masih belum paham sama apa yang gue ucapin barusan?" Melly kembali menganggukkan kepalanya pelan. "Jadi gini ...." Belum sempat Bagas melanjutkan penjelasan yang akan ia utarakan, tetapi tangan kanan milik Melly langsung bergerak untuk menghalangi dirinya berucap. "Nanti aja ya ceritanya, ini kapan mau pesen?" tanya Melly, lalu seraya mengeluarkan cengiran. Itu adalah sesuatu kejadian yang sangat langka sekali. Sehingga membuat Bagas langsung kembali sangat semangat sekali. "Okey, gue bakalan pesen makanan. Lo ngikut aja, kan?" Melly langsung mengacungkan kedua jempolnya, pertanda jika apa yang baru saja diutarakan oleh Bagas adalah sangat benar sekali. Selagi Bagas melangkahkan kaki menuju ke tempat pemesanan makanan, Melly hanya menatap langakah kaki milik laki-laki tersebut. Mengulas senyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Dan daripada bosen, tidak tau harus melakukan kegiatan apa, Melly pun memutuskan untuk meraih ponsel. Apalagi melihat begitu ramai sekali tempat untuk memesan makan di restoran ini, ia juga hanya berharap jika Bagas tidak akan merasa lelah. Dan benar saja, cukup lama sekali Bagas meng-antre untuk memesan makanan yang akan menjadi makan siang mereka berdua. Sedangkan, setelah beberapa menit Bagas duduk di kursi yang berada di depan Melly. Seorang waiters membawakan makanan dan juga minuman yang sudah dipesan oleh Bagas. "Secepat itu pelayanannya? Terus, kenapa tadi lo lama banget buat antre itu?" tanya Melly, yang dibuat bingung dengan semua ini. Sedangkan Bagas memilih untuk mengedikkan bahu saja, lalu tangan kanannya meraih air minum untuk membasahi tenggorokan. Karena dirinya juga tidak terlalu tahu menngenai cara kerja dari restoran yang saat ini tengah ia singgahi, hanya tahu bagaimana cara restoran tersebut merekrut karyawan. "Udha, jangan dipikirin! Lebih baik cepet dimakan, biar enggak buang waktu!" tegur Bagas, yang langsung membuat Melly menganggukkan kepalanya pelan. Tanpa membuang waktu sama sekali, Melly pun langsung meraih alat makan dan melahap makanan tersebut. Tak ada percakapan apa pun yang dilontarkan oleh kedua orang tersebut. Hanya ada riuh suara dari beberapa pelanggan lain, baik Bagas maupun Melly tengah menikmati rasa makanan tersebut. "Kenapa gue baru tau ada restoran yang punya makanan seenak ini ya?" tanya Melly secara tiba-tiba dan hal itu terdengar sangat jelas di telinga Bagas. Laki-laki tersebut langsung menghentikan kegiatannya yang tengah melahap makanan, lalu menyahuti, "Bilang apa sama gue? Karena gue yang ngasih tau tempat ini ke lo." "Oh, jadi enggak ada rasa ikhlas nih di dalam hati lo?" sahut Melly, dengan kedua mata yang langsung ia sipitkan. "Bercanda yaelah, masa iya kek gitu aja langsung dibawa perasaan sih?" Bagas menunjukkan raut wajah yang lesu. Melly hanya memilih untuk mengedikkan bahu saja, karena ia sangat tahu sekali jika laki-laki itu memiliki banyak seali manipulasi di dalam hidupnya. Sehingga tidak semudah itu membuat Melly percaya, apalagi hanya karena raut wajah yang menunjukkan tengah bersedih. "Jangan kebanyakan drama! Lebih baik cepetan dimakan, biar enggak buang waktu!" Melly segera mengulang kalimat yang biasa diucapkan oleh Bagas. Meskipun saat mengutarakan hal itu, Melly langsung menahan tawa yang mungkin saja akan keluar dari mulutnya. Dan reaksi yang ditunjukkan oleh Bagas adalah cemberut, mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan makan yang belum selesai. Tak membutuhkan waktu yang sangat lama lagi, karena memang Melly dan juga bagas sudah cukup lama berada di restoran tersebut. Ternyata memang benar dugaan Melly waktu pertama kali ia masuk ke dalam restoran tersebut. Ia mengira jika restoran yang tengah ia kunjungi itu sangat ramai. Bahkan, setiap ada pengunjung yang keluar, maka langsung digantikan dengan kehadiran pengunjung lainnya lagi. Setelah makanan selesai, Melly menatap lekat ke arah Bagas. "Kenapa ngeliatin gue kek gitu? Ada yang salah kah sama wajah gue?" tanya Bagas, dengan tangan kanan yang langsung brgerak untuk menyentuh wajah. Memastikan jika wajahnya itu tidak ada apa pun yang terlihat sangat aneh, karena mendapat tatapan penuh keseriusan dari Melly adalah hal yang sangat langka sekali. "Bukan itu. Lo kalau jadi orang itu jangan terlalu percaya diri banget coba!" sahut Melly, seraya mengibaskan tangan kanan di depan wajah Bagas. "Gue mau denger penjelasan lo tadi yang sempet kepotong karena gue nyuruh lo buat pesen makanan," ujar Melly, yang langsung mendapat anggukan kepala dari Bagas. Dan posisi yang diambil oleh Melly supaya nyaman adalah langsung menekuk kedua tangannya, lalu diletakkan di atas meja. Melihat ke arah Bagas, tanpa kedua mata yang berkedip sama sekali. "Keknya lebih baik cerita di dalam mobil aja, yuk!" ajak Bagaas, yang mampu membuat Melly langsung merasa sangat kecewa sekali. Apalagi laki-laki itu yang langsung berdiri dan meninggalkan dirinya begitu saja, tetapi Bagas bukan meninggalkan keluar dari restoran. Melainkan ia menuju ke loket pembayaran. Melly mengigit bibir bawahnya, karena sempat memiliki prasangka yang tidak baik terhadap laki-laki tersebut. "Hey! Yuk kita pulang!" ajak Bagas, yang tanpa disadari oleh Melly, jika laki-laki itu saat ini sudah berada di sampingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN