Konyol

1004 Kata
Ajakan tersebut tentu saja langsung disetujui oleh Melly, perempuan itu juga sudah sangat lelah sekali. Ingin rasanya tubuh segera tidur di atas tempat tidur, memejamkan mata dan melupakan semua kejadian hari ini yang sangat pahit sekali. "Jangan galau terus jadi orang, ada gue di samping lo," ucap Bagas, yang tentu saja langsung mendapat penuh rasa heran dari Amel. "Ya terus kalau ada di samping gue itu kenapa?" sahut Amel, dengan dahi yang langsung berkerut. Sedangkan Bagas hanya dapat menunjukkan cengiran andalannya itu, lalu di antara mereka berdua hanya ada keheningan saja. Sampai akhirnya mobil milik Bagas ternyata sudah tiba di parkiran kantor tempat mereka bekerja. Tanpa membuang waktu sama sekali, Melly langsung membuka pintu mobil tersebut dan keluar dari dalam kendaraan itu. Diikuti dengan Bagas yang merasa heran terhadap Melly. "Mel, yuk masuk!" ajak Bagas. Melly menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya. Tapi kita jangan jaan berdampingan ya, gue enggak mau sampai orang lain curiga." "Lo duluan aja yang masuk kalau kek gitu, gue nanti aja setelah lo udah masuk ke dalem," sahut Bagas, mempersilahkan perempuan yang tadi bersama dengan dirinya untuk terlebih dulu masuk ke dalam. Sebenarnya ia cukup kecewa dengan perlakuan Melly terhadap dirinya, tetapi Bagas juga sadar jika ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan perempuan tersebut. Hanya dapat mengembuskan napas saja, lalu ia pun mulai melangkahkan kaki karena Melly memang sudah tidak terlihat lagi. Setelah jam kerja sudah dimulai, mereka tidak ada yang bertegur sapa sama sekali. Hanya saja jika ada suatu hal yang memang harus dipertanyakan, itu juga kalau yang ditanyakan adalah suatu hal penting sekali. "Heh! Kalina berdua itu enggak pacaran kan ya?" celetuk Roni. laki-laki yang memiliki postur tubuh gendut dan juga memiliki perasaan pada Melly. Hanya saja ia memilih untuk memendam perasaan tersebut, karena ia merasa jika dirinya tidak pantas bersanding dengan Melly. Karyawan kepercayaan yang menempati ruangan tersebut ada empat, salah satunya adalah asisten dari atasan mereka. Sedangkan saat itu yang berada di ruuangan itu terssisa tinggal tiga orang, sehingga tentu saja yang mendapat pertanyaan adalah Melly dan juga Bagas. "Lo bilang apaan tadi?" tanya Melly, dengan dahi yang berkerut. "Eum ... gue cuma nanya aja kok, Mel," sahut Roni, suaranya terdengar sekali jika ia tegah merasa sedikit takut dan jugaa grogi. "Oh. Yaudah, kita sama berarti, lo nanya gua nyahut, dan gue nanya lo harus jawab." Kini pandangan Melly sudah berubah drastis untuk menatap ke arah Roni, yang tempat duduknya itu berada di depan mereka berdua. Bagas yang hanya memperhatikan sajja sejak tadi, ia tahu dan sangat jelas sekkali jika Roni itu memang menyimpan rasa untuk Melly. Karena memang sesama laki-laki itu memiliki kepekaan yang sangat tinggi dan juga sudah dipastikan tidak akan meleset. "Gue cuma nanya, buat mastiin aja. Kalau kalian itu enggak ada hubungan apa-apa, kan?" sahut Roni pada akhirnya. Membuat Melly langsung emnganggukkan kepalanya terlebih dulu, beberapa detik kemudian baru menjawab, "Emang keliatannya kita berdua kek orang pacaran?" "Gue cuma nanya aja, Mel." Roni menggaruk kepala bagian belakang, karena ia tahu jika pertanyaan tersebut sepertinya sangat menganggu Melly. "Udah, udah. Masa cuma dari pertanyaan kek gitu aja jadinya ribut, sih?" lerai Bagas, seraya menatap Melly dengan tatapan penuh tanya dan juga heran sekali. Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Bagas, Melly hanya diam dan memilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Rasanya kesal saja jika dirinya justru dikenal memiliki hubungan dekat dengan Bagas. Padahal, kenyataannya ia memiliki hubungan spesial dengan Bobby. 'Huh, dasar manusia! Bisanya ngeliat orang dari luar aja, enggak tau yang aslinya itu kek gimana,' dumel Melly di dalam hati. Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatan seperti tadi lagi. Yaitu, berkutat pada laptop dan juga setumpuk berkas yang berada di atas meja. Rasanya pas pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, memang menyenangkan sekali. Namun, setelah kejadian yang sangat menyakitkan seperti itu, entah mengapa jadi tidak ada rasa semangat lagi yang hinggap. Hari kini berganti sore, waktunya semua karyawan di kantor itu untuk bersiap kembali ke rumah. Hanya ada beberapa karyawan saja yang memilih untuk lembur, karena tuntutan kerjaan yang tak kunjung selesai. "Ayo, Mel, kita pulang!" ajak Bagas, lalu melangkah terlebih dulu meninggalkan perempuan tersebut. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Bagas adalah taktik, supaya Melly mau tak mau harus ikut bersama dengan dirinya. Jika Bagas memberi ajakan pada Melly, tetapi ia masih stay di samping meja perempuan tersebut. Akan ada kemungkinan jika Melly menolak ajakan dirinya, dan Bagas memang tidak ingin hal itu terjadi. Sehingga ia mesiasati dengan cara langsung meninggalkan perempuan tersebut. "Haduh! Enggak enak banget kalau enggak ada kendaraan sendiri," gumam Melly, lalu ia pun segera berdiri dan mulai melangkahkan kakinya lemas menuju keluar dari kantor tersebut. Sepanjang perjalanan yang ditempuh oleh Melly dan juga Bagas, tidak ada percakapan apa pun yang terlontar. Di samping Melly yang tengah merasa sangat malas sekali dengan hari ini, juga Bagas yang juga tengah bingung dan kikuk dengan apa yang terjadi saat ini. "Gue mau langsung pulang ke kosan aja ya, dan lo nanti besok lo jangan datengin ke kosan gue ya," ucap Melly, ia membuka tas dan meraih headset yang ia miliki. Memasang benda tersebut, lalu mendengarkan musik hingga tertidur dengan cukup pulas sekali. "Padahal, gue itu mau ngobrol banyak sama lo, kok kenapa malah milih buat tidur sih?" gumam Bagas, masih tetap dengan kedua tangan yang bergerak untuk menyetir kendaraan tersebut. Sesekali kedua maa laki-laki itu melirik ke arah Melly yang tetap saja memejamkan mata. "Tenang aja Mel, gue nanti bakalan batesin perasaan tiba-tiba yang dateng ke hati gue ," ucap Bagas, lalu ia kembali melihat ke arah depan. Tentu saja supaya tidak ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi, meskipun jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, tetapi yang namanya keselamatan memang jauh lebih penting di atas segalanya. Setelah kendaraan roda empat milik Bagas tiba tepat di depan indekoss yang ditempati oleh Melly, Bagas terdiam, lalu memilih untuk hanya diam saja. Apa yang dirasakan oleh laki-laki itu? tentu saja sangat bingung sekali. Jika ia membangunkan Melly, rasanya sungkan. Namun, jika perempuan itu tak segera diabngunkan, maka sampai kapan entah Melly akan bangun dari kegiatan tidur itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN