Berubah sikap

1015 Kata
"Gimana Mel?" tanya Fita saat dirinya baru saja pulang dari tempat kerja. Melly yang tengah berbaring dengan tubuh yang menghadap ke arah pintu pun langsung mengernyitkan dahinya, karena heran. " Lo tuh ya, baru aja masuk ke kosan dan tiba-tiba aja lo langsung nanyain hal yang gak gue pahami? Bisa enggak sih kalau nanya itu ya langsung jelas!" protes Melly. Sedangkan yang bersangkutan justru langsung mengeluarkan cengiran andalannya dan menjawab, "Ya harusnya lo paham, masa iya kayak gitu aja enggak paham sih?" "Yaelah, kan gue sama pemikiran lo itu beda kali! Masa iya apa yang lo pikirin ada di pikiran gue juga," sahut Melly, dengan alis yang langsung ditautkan. Tak ada sahutan yang diutarakan oleh Fita, perempuan itu justru sibuk dengan aktivitas yang tengah ia lakukan. Melepas sepatu yang masih dikenakan oleh dirinya, lalu kedua kakinya itu melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Menahan diri untuk tidak bertanya tentang bagaimana hubungan asrama sahabatnya itu, lebih baik membersihkan tubuh di dalam kamar mandi. Sedangkan yang saat ini dilakukan oleh Amel justru mendumel tidak jelas, dengan telinga yang memang sengaja dipasang headset. Apa yang dilakukan oleh Amel itu sebenarnya memiliki tujuan, supaya dirinya tidak terlalu memikirkan bagaimana perasaan saat ini. Hatinya hancur, padahal sebelum mereka masuk dan mulai bekerja di situ sama-sama sudah sepakat untuk tidak tergoda dengan karyawan yang ada di tempat tersebut. "Cinta memang tidak indah," gumam Amel, lalu ia hanyut dalam dunianya sendiri. Melihat-lihat sosial media yang ia miliki dan juga asyik menghayati lagu yang terus saja mengalun. "Woi! Pertanyaan yang gue ucapin ke lo belum dijawab!" tegur Fita, yang secara tiba-tiba berada tepat di samping Melly. Hanya ada lirikan tajam saja yang dilemparkan oleh Melly, tidak ada sahutan apa pun yang diutarakan oleh perempuan tersebut. Hal itu membuat Fita merasa sangat heran sekali. "Lo enggak sopan banget deh, Mel!" Namun, ternyata Melly masih belum mengeluarkan sahutan apa pun. Membuat Fita berpikir apa yang terjadi sebenarnya pada Melly. "Astaga! Ternyata lo itu lagi dengerin musik!" Fita melepas dengan paksa headset yang terpasang pada telinga perempuan tersebut. "Loh, emangnya lo baru tau apa?" sahut Melly, seraya melempar tatapan yang sangat heran sekali. "Ya gimana gue mau tau, orang headsetnya aja lo tutup pake rambut. Bego amat sih jadi orang!" Melly menggelengkan kepalanya langsung, sudah bukan hal yang aneh lagi jika sahabatnya itu sering mengutarakan kata-kata dan juga bahasa yang kurang sopan. Karena bahasa kasar dari Melly memang sudah seringkali didengar oleh Melly, maka tak heran dan tak merasa terkejut sama sekali. "Emangnya tadi lo ngomong apaan?" "Gue nanya tentang hubungan lo sama si Bobby. Jadinya kek gimana?" tanya Fita, seraya menatap wajah sahabatnya itu. "Enggak ada perubahan," jawab Melly dengan nada bicara yang kini langsung lemah. Perempuan itu kembali menatap ke arah Fita, lalu berucap, "Lo tau enggak sih, kenapa hubungan gue sama Bobby jadi kek gini?" "Gue enggak mau sama sekali kalau akhirnya bakalan kek gini, gue mau hubungan sama Bobby tuh kembali kek dulu lagi," ucap Melly lagi. "Mel, di sini gue juga bingung sama apa yang terjadi di kalian berdua. Hubungannya kenapa bisa sampai kek gitu, padahal dulu kalian tuh pasangan yang romantis pake banget," ujar Fita, yang langsung membuat Melly diam dan juga segera menghentikan musik yang sedari tadi ia dengar. Tak ada tanggapan apa pun yang dikeluarkan oleh Melly, perempuan itu memejamkan mata sembari mengembuskan napas pelan. "Gue enggak tau, kenapa malah gue yang kek gini." "Padahal, awal mulanya yang salah itu ya si Bobby, Fit," tutur Melly, kembali mengingat saat di mana kejadian yang bisa membuat mereka berdua bertengkar. Bahkan, hingga tidak bertukar sapa sama sekali. "Gara-gara apa?" "Dia dideketin sama perempuan, terus pas Bobby ngajak gue buat makan bareng satu meja, perempuan itu dengan centilnya deketin Bobby. Nah, pas lagi makan, tiba-tiba perempuan yang deketin Bobby ngusap bibir Bobby. Sedangkan dia enggak ada reaksi apa pun, Fit." Amel kembali menumpahkan air mata. Fita diam terlebih dulu, menyimak apa yang diutarakan oleh sahabat yang sangat ia sayangi itu. Seperti tidak ada kehidupan juga, jika Melly tengah murung seperti itu. "Asal lo tau Mel, waktu itu Bobby bilang ke gue. Mau memperbaiki semuanya, tapi lo malah jalan sama cowok lain, mungkin itu sebabnya dia enggak mau lagi berinteraksi sama lo," ujar Fita. Membuat Melly tak mampu berkedip sama sekali. "Tapi, gue itu ketemu sama si Bagas enggak sengaja Fit. Bener-bener enggak sengaja sama sekali." Melly risau, ia masih sangat menyayangi Bobby, jauh di dalam hatinya sama sekali tidak rela jika harus kehilangan laki-laki yang sangat ia cintai. Fita mengedikkan kedua bahunya pelan. Sesaat ia berpikir terlebih dulu tentang apa yang akan ia utarakan pada Melly, karena di saat seperti ini, seseorang akan lebih sensitif lagi. Menatap wajah Melly, ingin membuka mulut, tetapi kembali diurungkan. Banyak sekali perdebatan dan juga kemungkinan yang terjadi di kepala. Namun, pada akhirnya Fita tetap bertanya, "Apa Lo udah kasih tau yang sejujurnya ke dia?" Melly menganggukkan kepala dengan sangat semangat. "Kalau gitu, udah jangan pikirin laki-laki kek dia. Jangan sampai perempuan yang minta cinta, biarin aja si Bobby kek gitu. Mungkin cewek barunya itu lebih menarik," ujar Fita, terdengar nada bicaranya sudah menunjukkan jika ia sudah sangat geram sekali. Fita tiba-tiba saja langsung berdiri dari posisinya yang tadi, lalu mengulurkan tangan kanan tepat di depan wajah Melly. "Ikut gue yuk! Kita jalan-jalan sekarang!" ajak Fita, tetapi tidak ada respon apa pun dari Melly. "Ayo ah! Gue enggak nerima penolakan sama sekali, pokoknya kita harus jalan-jalan berdua sekarang! Udah lama juga kita enggak jalan bareng!" titah Fita, lalu ia langsung melangkahkan kaki menuju ke tempat penyimpanan tas untuk bepergian. Mau tak mau kali ini Melly juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Fita, lagipula benar apa yang diutarakan oleh Fita, jika saat ini dirinya membutuhkan refreshing yang dapat menyegarkan pikiran. "Nah, gitu dong! Gue suka kalau lo keliatan kek enggak ada beban gini," ucap Fita, seraya menepuk pelan bahu milik Melly. Dan tanggapan dari sahabatnya itu hanya mengulas senyum yang sangat lebar sekali. 'Ternyata benar apa kata Fita, kalau gue emang butuh penyegaran otak.' 'Biar enggak terus-terusan mikirin laki-laki yang pada kenyataannya itu enggak peduli sama sekali,' sambung Melly, dengan kedua kaki yang melangkah beriringan dengan Fita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN