"Kamu tau, Mel? Ada banyak cara buat kita bahagia, tentunya selain bersama dengan laki-laki," ucap Fita secara mendadak, saat mereka berdua tengah berjalan pelan akan menuju ke salah satu taman terdekat.
"Contohnya apa?" sahut Melly, dengan alis yang sudah ia satukan.
"Lo masih nanya contohnya ke gue, Mel?" Fita sangat terkejut sekali. Ia langsung menangkup wajah Melly dan kemballi berucap, "Padahal, harusnya tanpa nanya lagi juga lo itu tau maksud dari gue."
"Tapi masalahnya gue itu enggak paham sama apa yang lo ucapin, Fit." Melly mengembuskan napas, lalu memilih untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di taman tersebut.
Mendapati Melly yang justru duduk, membuat Fita juga memilih untuk ikut duduk tepat di samping sang sahabat.
"Lo enggak ngerasa lebih lega gitu saat ada di samping gue?" tanya Fita, suaranya pelan.
Ia seperti sudah gagal menjadi sahabat yang sempurna bagi Melly, apalagi melihat wajah Melly yang terlihat tetap saja murung.
"Ada sesuatu yang enggak bisa gue lepasin, Mel. Lo tau kan kalau gue itu sayang banget sama si Bobby?"
"Gue tau itu, Mel. Bahkan gue tau banget gimana perasaan yang lo punya buat dia, tapi lo juga harusnya sadar kalau Bobby kek udah enggak respect lagi sama lo," sahut Fita.
Menatap dengan penuh rasa iba pada Melly, karena sahabat satu-satunya itu justru terperangkap pada rasa yang sangat menyakitkan.
Tangan Fita bergerak untuk meraih kedua telapak tangan milik Melly, lalu berucap, "Gue tau gimana perasaan yang lo punya buat Bobby, tapi gue juga berharap banget jangan sampai lo bodoh karena cinta."
"Gue sayang sama Bobby," ucap Melly, yang langsung tanpa basa-basi sama sekali ia masuk kedalam pelukan Fita.
Tentu saja dengan sangat senang hati sekali Fita membalas pelukan tersebut, jika dengan cara sahabatnya akan merasa lbih tenang. Mengapa tidak?
Justru Fita akan senang sekali, sebisa mungkin ia akan melakukan apa pun untuk Melly, yang terpenting perempuan tersebut dapat kembali menunjukkan senyumannya pada dunia.
"Lo yang sabar ya, jangan pernah lupa kalau bakalan ada gue di samping lo," ucap Fita, seraya mengusap pelan puncak kepala milik Melly.
"Makasih banyak ya, karena lo udah sabar banget buat ngadepin semua sikap yang gue tunjukkin selama ini. Lo yang selalu ada di samping gue, gimanapun keadaan gue," sahut Melly, diiringi dengan air mata yang sangat lancang turun melewati pipi.
"Gunanya sahabat emang kek gitu, Mel. Sebisa mungkin gue bakalan selalu siap sedia buat lo, jangan sungkan buat cerita apa pun ke gue ya," ucap Fita, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Melly.
Memang benar, pelukan seorang sahabat yang sangat tulus itu akan sangat berbeda sekali rasanya.
Bahkan Melly saja sampai betah sekali berada di dalam pelukan Fita. Seakan beberapa beban yang tadinya hinggap, perlahan menghilang dengan sendirinya.
"Mau nyari makan, atau masih mau nenangin diri dulu?" tanya Fita, seraya menatap wajah Melly yang kini sudah melepas pelukannya.
"Nanti aja deh ya, gue belum laper," jawab Fita, lalu mengulas senyum dan kepalanya itu kembali menyender pada bahu milik sahabatnya.
Mereka berdua memutuskan untuk hanya diam saja, tidak ada pergerakan apa pun, dan tidak melakukan kegiatan sama sekali.
Hanya kedua bola mata yang tak bisa diam melihat ke sana ke mari, padahal tidak memiliki rasa fokus sama sekali.
Tetapi berbeda halnya dengan Melly yang memiliki pemikiran tersendiri, yaitu tentang bagaimana hubungan dirinya dan juga Bobby.
Rasanya sangat tidak mungkin sekali jika harus terus-menerus mengejar cinta yang sepertinya sudah pudar dari dalam hati Bobby.
Saat tengah asyik untuk memandangi ciptaan Tuhan, dengan bola mata yang tetap saja tak bisa diam mencari keindahan apa lagi yang bisa dikagumi.
Tiba-tiba saja kedua mata milik Fita menangkap salah satu orang laki-laki yang sangat ia kenal. Yaitu Bobby, tetapi saat ini ia tak ingin memberitahukan hal itu pada Melly terlebih dulu.
Memilih untuk terus memperhatikan tnapa mengeluarkan suara sama sekali, sampai akhirnya dugaan menurut Fita ternyat benar.
Namun, perempuan itu tidak memiliki keberanian untuk memberitahukan hal itu pada Melly, apalagi sahabatnya tengah nyaman pada posisi tersebut.
Semakin lama, justru semakin melakukan kegiatan yang sangat romantis sekali. Membuat Fita mau tak mau memang harus menegur Bobby.
"Mel, gue izin ke kamar mandi enggak apa-apa, kan?" tanya Fita langsung, dan Melly tanpa ada kata apa pun langusng melepas pelukan tadi.
Setelah itu, tanpa membuang waktu sama sekali, Fita langsung melangkahkan kaki menuju ke tempat Bobby dan juga perempuan di samping laki-laki itu duduk.
"Hai, Bob! Apa kabar lo?" sapa Fita, berlagak seperti orang yang baru saja bertemu dengan Bobby. Tidak direncanakan.
Melihat kedatangan Fita, dengan posisi dirinya saat ini yang tengah mencium punggung tangan perempuan di depannya itu. Membuat Bobby langsung gelagapan dan merasa sangat bingung sekali.
Buru-buru Bobby melepaskan tangan milik Sisil, lalu mengulas senyum kikuk di depan Fita. "Eh, lo ada di sini juga, Fit?" sapanya, diiringi dengan cengiran yang sangat menunjukkan sekali jika dirinya merasa tak enak.
Tanpa rasa berdosa sama sekali, Fita langsung menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Kenapa emang? Kok keliatannya kek kaget gitu?"
"Enggak kok, ya gue cuma kaget aja lo ada di sini. Emang lo lagi sama siapa?" sahut Bobby, yang langsung mengeluarkan alibi.
"Gue mau cari refreshing, sama nyari ketenangan juga sih," jawab Fita, sembari mengulas senyum yang sangat lebar sekali.
"Ke sini sama siapa?" Bobby mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh taman, tentu saja untuk mencari tahu pertanyaan yang baru saja ia lontarkan itu.
Fita yang sedari tadi memperhatikan, hanya bisa tersenyum, seraya menggelengkan kepalanya. "Lo emang mau nyari siapa?"
"Gue kira lo ke sini sama sahabat lo itu," jawab Bobby, masih tetap mencari keberadaan Melly.
Namun, jawaban dari Bobby sama sekali tidak dihiraukan oleh Fita, karena kali ini perempuan tersebut langsung menatap ke arah Sisil.
"Hay! Lo ceweknya Bobby?" tanya Fita, seraya berbisik.
Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Sisil justru langsung mengulas senyum, bahkan wajahnya kini berubah menjadi warna merah.
Itu keliatan sekali jika Sisil sangat mencintai Bobby, apalagi dari sorot mata perempuan itu. Sudah dapat dipastikan jika Sisil memang menyukai Bobby. Lebih dari sekedar karyawan saja.
"Hay? Kenapa enggak jawab pertanyaan gue tadi?" tegur Fita, nada bicara perempuan itu terdengar sangat tidak santai sama sekali.
"Eh!" Itu adalah satu kata yang sangat refleks dikeluarkan oleh perempuan bernama Sisil itu.