"Fit, kenapa lo nnaya kek gitu?" tanya Bobby, dengan dahi yang langsung berkerut jarena merasa terkejut dan juga sangat heran.
"Emangnya kenapa kok nanya gitu? Pertanyan gue tadi salah?" tanya Fita, seraya melempar tatapan yang kurang bersahabat.
Bobby menggelengkan kepala ssebagai jawaban, membuat Fita lanjut kembali melihat ke arah Sisil. "Lo belum jawab pertanyan gue yang tadi, loh!"
Namun, Sisil justru langsung melempar tataan ke arah Bobby. Hal itu tentu saja membuat Fita semakin merasa sangat curiga.
"Kenapa harus ngeliat ke Bobby? Kan gue nanya ke lo," tegur Fita, masih berusaha untuk mengontrol rasa kesal yang ada di dalam hatinya.
"Fit, keknya lo itu lebih baik pergi aja deh dari sini!" usir Bobby secara terang-terangan.
"Lo ngusir gue Bob?" tanya Fita, raut wajahnya berubah menjadi tak percaya, dengan gelengan kepala yang menyertai.
Bobby menganggukkan kepalanya, lalu dengan sangat beraninya ia menjawab, "Kehadiran lo di sini itu ganggu banget tau gak?'
"Oh ganggu lo bilang hah? Pernah enggak sih lo mikirin gimana keadaan cewek lo sendiri? Inget Bob! Lo itu udah punya cewek, tapi lo malah jalan sama cewek yang lain lagi?" sentak Fita.
Kemarahan perempuan itu memang sudah mencapai ubun-ubun, kesabarannya sudah habis. Tidak perlu menahan diri untuk suatu kebaikan.
Dan apa yang diutrakan oleh Fita barussan, berhasil membuat Sisil sangat terkejut dan ikut berucap, "Tunggu. Lo bilang apa tadi? Mas Bobby udah punya pacar?"
"Iya, dia udah punya pacar, dan lo kalau emang iya jadi kekasihnya dia. Berarti lo itu jadi selingkuhan!" sarkas Fita.
Sisil langsung menatap ke arah Bobby, lalu bertanya, "Apa yang diucapin sama dia itu bener, Mas?"
Dengan sangat berat hati sekali, Bobby tetap menganggukkan kepalanya. Rasanya ia ingin sekali mempertahankan keduanya, karena saat ini Melly dan dirinya itu tengah tidak harmonis.
"Terus, kamu mau pilih siapa? Aku atau dia?" tanya Sisil.
Perempuan itu sangat nekat menanyakan hal tersebut, karena ia sama sekaali tidak mau jika dirinya yang menjadi selingkuhan.
Dan parahnya lagi, Bobby juga menataap wajah Sisil penuh kelembutan, lalu menjawab, "Tentu aku pilih kamu dong, Sayang!"
"Sip! Nanti besok gue bakalan pastiin kalau kalian berdua itu enggak akan ada lagi di perusahaan itu," ujar Fita, yang langsung membuat keduanya sama-sama terkejut.
"Maksud lo apaan?" tanya Bobby, sembari melempar tatapan yang penuh rsa kesal dan juga benci pada Fita.
Di dalam pikiran laki-laki itu sebenarnya tidak pernah percaya dengan apa yang diutarakan oleh perempuan tersebut.
"Kenapa? Lo berani mutusin sesuatu, kan? Ya udah, harus berani juga buat nanggung konsekuensinya," sahut Fita, lalu mengeluarkan senyum smirk-nya.
"Emangnya apa yang mau lo lakuin ke kita, hah?" tantang Bobby, yang membuat Fita semakin kesal mendengarnya.
Tangan kanan Fita segea bergerak untuk meraih ponsel yang berda di saku celana, lalu berucap, "Gue bakalan kirim melalui w******p, tapi nanti setelah gue balik dari sini."
Waajah Fita mendongak, mencirikan jika perempuan itu tengah merasa di atas, karena sebentar lagi aan mleihat laki-laki yang sudah tega menyakiti Melly, berbalik sengsara.
"Lo dari mana aja sih, Fit? Ke kamar mandi kok lama banget?" protes Melly, yang memang sudah sedari tadi menunggu kedatangan Fita.
"Ada sesuatu yang harus gue lakuin tadi," jawab Fita sangat enteng sekali.
Namun, hal itu justru menimbulkan tanya di dalam benak Melly. "Memangnya apaan?"
"Nanti lo juga bakalan tau, kita nyari makan aja dulu, yuk!" ajak Fita, yang langsung meraih tangan kanan milik Melly.
Tak ada ungkapan protes yang diutarakan oleh Melly, perempuan itu justru langsung mengikuti ajakan dari Fita.
Beberapa kali juga Fita melirik ke arah Melly, ia memiliki pikiran, mengapa perempuan secantik Melly justru bisa diselingkuhi?
Sedangkan dirinya? Bagaimana kehidupannya nanti? Apakah ia tidak akan pernah mendapatkan pasangan hidup. Fita langsung menggelengkan kepalanya.
Mengusir jauh-jauh pemikiran yang tadi hinggap itu, karena jika terus-terusan dipikirkan. Maka rasanya akan sangat sakit sekali.
"Ada yang mau gue kasih tau ke lo, Mel," ucap Fita secara tiba-tiba.
Melly langsung menolehkan kepalanya ke arah Fita dan bertanya, "Tentang apa itu?"
"Gue bakalan kasih tau ke lo, tapi nanti kalau kita udah nyampai kosan," jawab Fita, lalu mengulas senyum dan melanjutkan langkah lagi.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti tepat di depan salah satu warung yang menyediakan makanan. "Kita beli makanan ini aja ya?" tanya Fita meminta pendapat.
Dan tentu saja jawaban dari Melly adalah anggukan kepala, mereka berdua pun melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam warung tersebut.
Mengutarakan apa yang memang ingin diinginkan, lalu menunggu dengan setia sampai tiba giliran mereka dilayani sesuai pesanan.
"Gimana perasaan lo sekarang? Gue harap sih lo itu jauh lebih baik dari yang tadi setelah liat banyak banget orang yang berlalu lalang, sama tempat yang masih asri." Fita meliihat ke arah Melly.
Jauh di dalam hati perempuan itu, merasa sangat kasihan sekali, tetapi ia juga tahu kalau itu adalah bagian dari konsekuensi cinta.
Maka dari itu Fita hanya melakukan apa yang ia bisa saja, salah satunya adalah memberi pelajaran pada Bobby dan juga selingkuhannya.
"Enggak semudah itu buat baik-baik aja, Fit. Gue udah terlalu sakit banget," sahut Melly, setelah ia mengembuskan napas pelan.
Tak ada percakapan lagi di antara keduanya, Fita juga jadinya takut untuk mengutarakan pertanyaan pada perempuan yang menjadi sahabatnya itu.
Sampai akhirnya makanan yang dipesan oleh mereka berdua itu sudah selesai, Fita buru-buru berdiri, membayar makanan tersebut, lalu mengajak Melly untuk segera pulang ke indekos.
"Kenapa enggak bilang sekarang aja tentang apa yang lo mau kasih tau ke gue?" tanya Melly, tetapi detik itu juga Fita langsung menggelengkan kepala.
"Jangan. Ini itu jadi kejutna buat lo, kalau gue kaasih taunya sekarang malah jadi enggak asik," sahuat Fita.
Padahal bukan kenyataannya seperti itu, melaainkan Fita tidak mau melihat Melly yang menangis di keramaian orang.
Apalagi Bobby adalaah laki-laki yang sangat dicintai oleh Melly, jika tau saja kebenarannya seperti apa, Melly pasti akan langsung histeris.
Tangan kanan Fita bergerak untuk merangkul Melly, lalu berucap, "Maaf ya, kalau gue belum jadi sahabat yang baik buat lo."
"Lo ngomong apaan sih? Orang lo itu udah jadi yang paling terbaik buat gue!" sahut Melly, dengan tatapan yang sangat sangar sekali.
Tanggapan Fita tentang sahutan Melly hanyaa mengeluaarkan tawa kecil saja, entah mengapa dirinya juga jadi tidak memiliki mood sama sekali.
Namanya juga seorang sahabat tengah terluka, tidak mungkin sekali jika harus bahagia di atas penderitaan seorang sahabat.