Pembuktian

1023 Kata
Masuk ke dalam indekos tersebut, melepas alas kaki tepat di depan pintu indekos itu, lalu Fita melanjutkan berjalan hingga menuju ke kamar mandi. Sedangkan untuk makanan yang tadi dibeli oleh mereka berdua, ia letakkan tepat di samping tempat mereka untuk tertidur. Melly memilih untuk langsung duduk tepat di depan makanan tersebut, karena setelah galau maka perut akan merasa sangat lapar sekali. Itu yang dirasakan oleh Melly, makanya perempuan itu memilih untuk makan terlebih dulu dan meninggalkan Fita yang sibuk membersihkan tangan. "Loh, Mel, lo makan duluan aja? Kenapa enggak nunggu gue juga?" tanya Fita, setelah ia sudah kembali lagi dari kamar mandi. Perempuan itu langsung terkejut sekali, setelah melihat Melly yang tengah enak melahap makanan tersebut. "Gue udah terlanjur laper banget, lo kelamaan buat ini itu," sahut Melly, dengan mulut yang tengah penuh oleh makanan. Melihat hal itu, Fita yang niatnya tadi itu ingin marah besar-besaran, langsung tidak jadi dan justru menjadi ketawa yang tak berujung. "Lo kenapa sih, Fit? Kok malah ketawa kek gitu? Emang ada yang aneh ya sama gue?" tanya Melly, seraya menghentikan aktivitasnya tadi yang tengah mengunyah makanan. "Enggak kenapa-napa, lupain aja." Fita langsung duduk tepat di samping Melly, lalu meraih satu bungkus makanan yang memang diperuntukkan untuk dirinya. Saat sebentar lagi sendok berisi makanan akan masuk ke dalam mulut, Fita langsung berhenti dan mengurungkan niat untuk makan. Memiilih untuk segera berdiri, lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana tasnya diletakkan tadi. Sedangkan Melly yang memang tidak mengetahui apa-apa hanya diam saja, serta memperhatikan Fita dengan raut wajah yang susah sekali untuk dijelaskan. Fita memang kembali lagi ke tempat semula, tetapi tidak melanjutkan kegiatan makan. Justru lebih sibuk dengan ponsel yang saat ini berada di genggaman tangan perempuan itu. "Fit, lo lagi ngapain sih? Kenapa juga coba lo fokus banget sama ponsel?" tegur Melly, bahkan ia juga jadi ikut tidak ingin melahap makanan. Tak ada jawaban yang dilontarkan oleh Fita, membuat Mely semakin ingin tahu dan ia meemutuskan untuk ikut melihat ke layar ponsel Fita. Namun, detik itu juga Fita langsung mematikan layar ponsel miliknya, dengan senyuman yang langsung tampil di wajah. Hatinya kini sudah sangat lega sekali, tinggal tunggu bagaimana reaksi dan juga tanggapan dari Bobby. Apakah marah, atau justru memohon untuuk kembali. Dan Fita justru sengaja untuk mematikan ponsel, supaya ia tak bisa dihubungi atau diteror oleh Bobby. "Fit, ada apaan sih? Kok tumben banget lo mainnya rahasiaan kek gitu?" tanya Melly, dengan raut wajah yang sudah sangat kesal. Karena rasa penasaran yang sedari tadi hinggap di dalam hatinya tidak dapat terungkap. "Nanti juga lo bakalan tau kok. Udah, sekarang lebih baik lanjut makan aja," sahut Fita sangat santai sekali. Sedangkan Melly yang sangat penasaran sekali sudah tidak mood. "Enggak ah, gue bakalan mau makan, asal lo bilang dan kasih tau ke gue!" "Bukan gitu peraturannya, tapi lo abisin makanan dulu. Baru gue bakalan kasih tau ke lo," tolak Fita, lalu ia mengutarakan keinginannya itu seperti apa. Mau tak mau, pada akhirnya keinginan milik Fita yang terpilih. Sehingga saat ini Melly tengah melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda itu. Namun, baru saja beberappa suapan yang masuk ke dalam mulut Melly, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan sura dering ponsel milik Melly. "Ponsel lo ya yang bunyi tuh?" tegur Fita, lalu kembali melanjutkan kegiatan makannya. Melly langsung meraih ponsel miliknya yang berada tak jauh dari posisinya saat ini, lalu melihat ke arah layar ponsel tersebut. Perempuan itu langsung terperanjta kget, kala yang tertera di layar ponsel adalah Bobby. "Fita, Bobby nelpon gue. Diangkat atau enggak ya?" tanya Melly mmeinta pendapat. "Diangkat aja, Mel. Siapa tau itu penting, atau emang dia mau ngajak lo buat baikan lagi," sahut Fita, sangat santai sekali. Berbeda halnya dengan Melly yang sudah salah tingkah dan juga bahkan sedari tadi menunjukkan raut wajah yang sangat bahagia sekali. "Gue angkat aja ya, Fit," izin Melly, lalu ia benar-benar mengangkat panggilan tersebut. Terlihat dari Melly yang menggerakkan tangan kanannya untuk mendekatkan ponsel ke arah telinga. "Halo?" sapa Melly terlebih dulu. "Fita ada?" tanya Bobby langsung, membuat Melly langsung merasa heran dan seperti patah semangat. "Ada atau enggak?" Suara Bobby kembali terdengar, tetapi kali ini suaranya semakin meninggi. Mau tak mau Melly menyerahkan ponsel miliknya pada Fita. "Bobby malah nyariin lo." Tidak ada tanggapan apa pun yang dikeluarkan oleh Fita, perempuan itu justru langsung mengulas senyum sangat lebar sekali. "Apa?" Sesingkat itu kata yang keluar dari mulut Fita. Sedangkan kali ini Melly memilih untuk mogok makan, karena hatinya sedang merasa sangat sakit sekali. Bagaimana bisa Bobby justru berpindah hati menuju ke sahabatnya sendiri. "Jangan-jangan tuduhan gue yang waktu itu emang bener," gumam Melly, dengan suara yang sangat pelan sekali. Sampai-sampai Fita yang berada di sampingnya saja tidak mendengar gumaman tersebut. Hati Melly saat ini tengah panas dan juga tak tenang. "Maksud lo apaan lancang kek gitu? Kalau kek gini bisa jadi lo itu udah nyemarin nama baik!" sentak Bobby, suaranya sangat keras sekali. Kali ini, Fita memang sangat sengaja mengeraskan suara yang berasal dari Bobby, tentu saja itu bertujuan supaya sang sahabat yang sedari tadi cemberut bisa mendengarkan percakapan yang terjadi. Tangan kanan Fita segera meraih ponsel yang ia miliki, tanpa menyahuti ucapan Bobby tersebut. Sedangkan Melly yang sedrai tadi mendengar itu hanya bisa diam saja. "Lo sama Bobby ada urusan apa sih, Fit?" tanya Melly, mulai terlihat sangat khawatir sekali. "Hey! Sahabat lo itu udah lancang banget buat ngulik privasi orang lain!" sahut Bobby secara tiba-tiba. Fita yang mendengar itu tentu saja langsung tertawa dengan cukup kencang, lalu berucap, "Privasi? Yakin bisa dibilang privasi?" "Lo mikir, kalau privasi itu enggak mungkin dilakuin di tempat umum dan terbuka kek tadi! Itu tuh taman, semua orang bisa dan bebas buat ngelakuin apa aja," sambung Fita, dengan nada bicara yang juga ikut meninggi. "Maksudnya apaan sih Fit? Gue enggak paham deh sama apa yang kalian bicarain!" Fita mengembuskan napasnya pelan, lalu berucap, "Lo bakalan tau semua, kalau gue udah ngasih tau rekaman ini, Mel." Tanpa membuang waktu sama sekali, Fita segera memutar rekaman percakapan dirinya, Bobby, dan juga Sisil saat di taman tadi. Melly awalnya tidak merasa kesal, tetapi makin ke sini ia sudah sangat marah sekali. Begitu juga dengan Bobby yang terkejut, ternyata percakapan dirinya pun direkam oleh Fita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN