"Tunggu dulu, Mel. Jangan marah, tahan emosi," cegah Fita, setelah ia tahu jika sahabatnya itu sebentar lag ipasti akan meluapkan emosi.
"Lo pernah mikir enggak sih, gimana kejadiannya kalau posisinya dibalik? Lo yang ada di posisi gue?" Melly beruaha sekuat mungkin untuk tidak menjatuhkan air mata.
"Gue paham, Mel, tapi laki-laki kek dia itu enggak pantes sama sekali buat lo benci atau ditangisin," sahut Fita, dengan tangan kanan yang menggenggam pelan kedua tangan milik perempuan itu.
Panggilan dari Bobby sudah lama dimatikan, sejak laki-laki itu mendengar rekaman percakapan saat di taman.
Mungkin alasannya adalah karena malu, biarkan saja. Toh Melly masih memiliki Fita yang selalu saja memberi support bagaimanapun keadaannya.
Tanpa ada kata-kata apa pun lagi, Melly langsung memilih untuk masuk ke dalam pelukan Fita dan menumpahkan air mata di dalam pelukan tersebut.
"Gue izin buat nangis ya, Fit," pamit Melly, yang tentu saja langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Fita.
Beberapa menit kemudian Fita kembali berucap, "Lo bisa dan juga boleh buat nangis sepuas yang lo mau, selagi itu ngebuat lo lebih tenang."
Tangan kanan Fita bergerak untuk mengusap lembut rambut milik Melly, ia sangat kasihan dengan satu-satunya sahabat di dalam hidupnya itu.
"Tenang aja, laki-laki itu masih banyak banget kok di luaran sana. Apalagi lo yang punya wajah cantik, gue yakin banget kalau lo itu pasti gampang banget buat dapetin cowok baru," ujar Fita cukup panjang.
Apa yang diutarakan oleh Fita hanya didengar saja oleh Melly, karena dirinya juga belum ada keinginan untuk menyahuti.
Rasanya masih sangat sakit sekali, bahkan tidak percaa jika komitmen yang waktu itu ia bangun tidak berjalan mulus yang dibayangkan.
"Lo tau kan, Fit, kalua kita berdua itu udah buat komitmen sama-sama," desis Melly, dengan suara yang terdengar tiidak teralu jelas.
"Udah, jangan bahas itu terus ya, gue enggak mau kalau lo jadi sedih kek gini. Kalau bisa lo langsung lupain aja laki-laki itu, sampai kapan pun juga enggak bakalan berubah," sahut Fita.
Memberi saran pada sahabatnya, sesuai dengan pengalaman yang ia miliki tentang kejadian seperti itu.
"Udah, lebih baik lo lanjut lagi aja makannya, karena gue punya rencana yang lebih bagus lagi buat lo," titah Fita, seraya berusaha untuk melepaskan pelukan dari Melly.
Meskipun sebenarnya butuh beberapa waktu untuk melepas pelukan tersebut, tetapi pada akhirnya Melly tetap mau untuk melepas pelukan tersebut.
Namun, sebelum itu ia terlebih dulu bertanya, "Lo punya rencana tentang apa emangnya?"
"Makan dulu ya, setelah itu gue bakalan kasih tau ke lo," jawab Fita, seraya mengulas senyum secara sangat misterius sekali.
"Gue maunya sekarang aja buat Lo ngasih tau," tawar Melly, yang sepertinya tidak akan bisa diganggu gugat.
"Ya udah, gue kasih tau sekarang aja ya. Ini itu tentang lo yang harus nunjukkin bukti ini semua ke atasan lo."
Melly masih tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Fita tersebut, sehingga dahinya langsung berkerut. Mencirikan apa yang tengah dirasa.
"Di perusahaan tempat lo kerja itu kan ada peraturan, tentang enggak boleh naruh perasaan sesama karyawan, kan?" Melly mengangguk.
"Nah, sedangkan Bobby sama Sisil itu karyawan di perusahaan itu. Paham belum?" tanya Fita, berharap jika sahabatnya itu sudah memahami penjelasan yang sudah ia utarakan barusan.
Untungnya, saat ini Melly sudah paham dan ia pun menganggukkan kepalanya. "Gue baru paham, jadi intinya gue itu balas kekesalan gue pake cara kek gini gitu?"
"Bener banget! Lo bisa kan ngelakuin hal itu?" tanya Fita lagi.
"Mungkin, tapi semoga aja gue bisa," sahut Melly, meskipun masih tersirat adanya keraguan di dalam diri perempuan itu.
Setelah membahas hal itu, kini Melly dan Fita pun kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Yaitu melahap makanan.
"Jangan dipikirin terus ya hal yang kek gitu," ucap Fita, sambil mengulas senyum yang sangat lebar sekali.
Ia merasa sangat sayang dengan Melly, bagaimanapun juga perempuan itu sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. Maka tak heran jika banyak sekali Fita ikut campur dengan kehidupan Melly.
Hari sudah berganti menjadi malam, saatnya semua orang yang berada di belahan bumi itu terlelap. Mengumpulkan tenaga untuk menyambut esok pagi yang lebih indah lagi.
Begitu juga dengan Melly, yang langsung tertidur. Karena memang sudah sangat lelah sekali dengan semua persoalan hidup yang ia lalui sekarang ini.
"Tidur yang nyenyak ya, Mel. Sambut hari esok dengan keadaan tubuh dan juga hati berbeda dari sebelumnya," ucap Fita, lalu mengusap pelan puncak kepala milik Melly.
Setelah itu, ia pun tak ingin membuang waktu, langsung mengambil posisi telat sekali di samping Melly. Perlahan kedua mata yang ia miliki terpejam dan disusul degan dengkuran halus yang keluar.
Itu sebagai pertanda jika Fita memang sudah tertidur sangat pulas sekali dan membuat keadaan indekos mereka sangat sepi sekali.
Mentari datang seperti lebih awal dari biasanya, bahkan Melly juga seperti baru saja tertidur lalu dipaksa untuk bangun. Padahal kenyataannya mereka sudah tertidur sedari tadi.
Mungkin karena faktor dari tidur yang terlalu nyaman. Sehingga untuk bangung dari kegiatan tidur saja sudah sekali. "Hoam! Fit, lo enggak bangun apa?" tegur Melly, tangan kanannya berusaha untuk membangunkan perempuan tersebut.
"Gue berangkat nanti siangan, Lo aja dulu yang berangkat. Hati-hati di jalan ya, mobil yang dari Bobby jangan dipakai lagi," sahut Fita, layaknya seorang ibu pada anaknya sendiri. Sangat perhatian sekali.
"Lo beneran berangkat nanti siang?" tanya Melly lagi untuk memastikan.
"Yaelah! Ya asli, kalau gue enggak berangkat terus, mau dari mana kita berdua buat makan?" sahut Fita, cukup kesal dengan pertanyaan tersebut.
Melly tak menjawab sahutan yang baru saja diutarakan oleh Fita, karena perempuan itu justru memilih untuk langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Membersihkan semua bagian tubuh tanpa ada yang tersisa sama sekali, sampai-sampai tubuh Melly saja tercium bau yang sangat wangi sekali.
Cukup lama perempuan emtersebut berkutat dengan kamar mandi, dan Melly masih merasa sangat santai sekali.
Sampai akhirnya Fita bangun dan mengetuk pintu kamar mandi itu dengan suara yang cukup keras sekali, lalu berucap, "Melly! Sekarang itu udah jam berapa? Kenapa lo masih aja betah di kamar mandi?"
Dan setelah mendengar ucapan dari Fita, barulah Melly tersadar jika ia sudah cukup lama melakukan aktivitas mandi. Sehingga Melly sesegera mungkin melakukan semua kegiatan yang belum.
"Jam berapa sekarang?" tanya Melly, lalu menolehkan kepalanya ke arah jam yang berada di dinding langsung berteriak penuh dengan nada penyesalan.