Kejutan luar biasa

1025 Kata
Dengan langkah yang sangat tergesa-gesa sekali dan juga bahkan tidak ada kendaraan yang bisa diajak kerjasama dengan Melly. Lagipula ini adalah keinginan dirinya, supaya Bagas tidak menjemput saat akan berangkat kerja. Itu semua sebenarnya dilakukan supaya menjaga hati milik Bobby, tetapi ternyata seseorang yang dihormati oleh dirinya justru bersikap seperti itu. "Ya Tuhan, mana jam cepet banget lagi buat berputar," gerutu Melly, dengan kedua kaki yang semakin mempercepat langkah kakinya. Sialnya, saat ia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba saja ada salah satu mobil yang tidak berhenti. Sehingga Melly langsung berteriak histeris. Untung saja, mobil tersebut sedang melaju dengan kecepatan yang tidak kencang. Sehingga dapat segera menginjak rem. Pengemudi mobil itu pun segera keluar dari dalam mobil dan mendekat ke arah Melly. "Maaf, apakah ada yang terluka?" Tak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Melly, karena dirinya itu tengah sibuk mengatur napas yang kian memburu. Sedangkan laki-laki yang tadi keluar dari dalam mobil itu masih tetap setia menatap wajah Melly, tetapi saat ia melihat name tag khusus yang sangat ia kenal, membuat dahinya langsung mengernyit. "Tunggu, apa kamu bekerja pada perusahaan ini?" tanya laki-laki itu, dengan tangan kanan yang dengan sangat lancangnya langsung menunjuk ke arah name tag milik Melly. Hal itu tentu saja membuat Melly langsung melemparkan tatapan penuh rasa heran, tetapi ia tetap saja mengangguk. "Iya, saya bekerja di situ." "Kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu lagi, tetapi tidak digubris oleh Melly. Karena Melly langsung memutuskan untuk berucap, "Maaf, saya sebentar lagi akan terlambat. Permisi." Laki-laki itu hanya diam dan menganggukkan kepalanya saja, lalu ia membalikkan tubuh untuk memperhatikan perempuan itu. "Padahal, kalau saja kamu tidak bertingkah buru-buru, pasti saya akan mengajak kamu bersama saya," gumamnya, seraya menggelengkan kepala. Mungkin, nanti jika ia mendapati perempuan itu terkena hukuman, ia akan membela perempuan tersebut. Karena bagaimanapun juga, kejadian tadi juga telah menyita waktu, segera laki-laki tersebut kembali masuk ke dalam mobil miliknya dan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tujuan. "Haduh! Mampus deh gue, sampai telat kek gini," gerutu Melly, seraya mempercepat lagi langkah kakinya. Meskipun begitu, tetap saja laa sekali untuk datang ke kantor tersebut. Apalagi Melly datang dengan tampilan yang sudah acak-acakan dan juga tidak beraturan sama sekali. Mau bagaimana lagi, yang namanya juga tengah ditimpa masalah cukup serius. Maka, mau tidak mau harus mengeluarkan pengorbanan yang juga tidak main-main. Seluruh karyawan yang berada di kantor itu sudah berkutat dengan komputer masing-masing, dan entah mengapa dirinya tidak terkena hukuman sama sekali. Melly langsung mengembuskan napas saja, karena saat ini ia memiliki pemikiran jika ini adalah memang keberuntungan dirinya. Atau mungkin saja memang peraturan di perusahaan yang seperti itu, tetapi baru saja Melly duduk di meja tempatnya bekerja, langsung mendapat panggilan untuk langsung mendapat panggilan dari atasan. "Duh, jangan-jangan bakalan dikasih surat peringatan," gumam Melly, lalu dengan hati yang sudah ia tenangkan terlebih dulu. Bahkan, di hari ini Melly tidak mendapat sapaan apa pun. Baik dari Bagas, atau Roni. Membuat perempuan itu hanya pasrah dan sedikit mengurangi semangat. Setelah ia tiba tepat di depan ruangan atasan, terlebih dulu Melly mengetuk pintu dengan sopan, hingga akhirnya dari dalam terdengar suara yang memerintahkannya untuk segera masuk. "Bapak memanggil saya?" tanya Melly sopan. Dan atasan dari Melly itu langsung menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Iya, kamu memang saya panggil ke sini. Silahkan duduk terlebih dulu." Meskipun canggung dan malu, dicampur dengan takut, tetapi Melly berusaha untuk tetap melangkahkan kaki menuju ke meja yang sudah terdapat dua orang itu. "Kamu tau apa kesalahan kamu hari ini?" tanyanya, yang langsung membuat Melly secara refleks menganggukkan kepala. "Saya tahu, Pak. Saya terlambat," jawab Melly, dengan nada suara yang bergetar. "Ada hukuman yang harus kamu jalani!" Mendengar hal itu membuat Melly langsung merasa sangat deg-degan sekali. Bahkan, perempuan itu tak dapat mengeluarkan jawaban apa pun, hanya bisa menatap ke arah atasannya. Berharap di dalam hati tidak akan mendapat hukuman apa pun. Atasan dari Amel justru menolehkan pandangannya ke arah anak semata wayang, yang saat ini berada tepat di samping. "Kamu telah membuat saya jatuh hati pada kamu, jadi saya minta kamu bersedia untuk menikah dengan saya," ujar laki-laki tesebut, membuat Melly langsung mendongakkan kepalanya. Seperti baru saja tersambar petir yang sangat menggelegar, rasanya sangat terkejut dan juga tidak pantas sama sekali. "Kamu mau, kan?" tanya atasan Melly, di kedua matanya itu menyorotkan harapan yang sangat menggebu-gebu sekali. Sedangkan Melly, perempuan itu tengah merasa heran akan aa yang harus ia lakukan. Satu hal yang ia takutkan jika jadi dengan orang yang memiliki status derajat lebih tinggi. Yaitu tidak ada rasa kasih sayang antar sesama, hanya adanya penghinaan dan juga direndahkan. "Saya harap, kamu nanti akan menrima dengan senang hati, dan saya juga akan segera merencanakan semua secara cepat," timpal laki-laki tersebut, dengan seulas senyum yang langsung tampil di wajah. "Mohon maaf sekali, bukannya saya mau menolak atau berlaku tidak sopan, tetapi mengapa justru saya yang dipilih, Pak?" "Masalahnya, saya itu hanya dari kalangan yang biasa saja. Sedangkan masih banyak sekali perempuan dengan kalangan yang setaraf," jelas Melly, lalu ia langsung mengigit bibir bawahnya. Sejujurnya ia sangat takut sekali untuk mengutarakan hal itu, tetapi jika dirinya justru berlagak setuju, sedangkan di belakang malah ngedumel. Itu malah ynag lebih tidak baik. "Saya jatuh cinta sama kamu, setelah kita tadi bertemu di jalan, dan saya juga berharap banget supaya kamu menerima ajakan saya," sahut laki-laki tersebut, lalu berdiri dan mendekat ke arah Melly. "Kita berdua cocok kan, Yah?" tanya laki-laki tersebut, setelah sudah berdiri teat di belakang Melly. Suaranya terdengar sangat santai sekali, sedangkan Melly yang tak dapat mengontrol degup jantugnya. "Cocok banget dong! Kamu ganteng dan kamu itu cantik banget," sahut atasan Melly. Berkali-kali juga Melly mencubit lengannya tanpa diketahui oleh semua orang, berharap jika kejadian ini itu hanyalah hayalan dan segera tersadar. Namun, berkali-kali juga Melly diberi jawaban, jika apa yang saat ini ia hadapi itu adalah kenyataan. "Kamu mau dan menerima anak saya, kan?" tanya atasan Melly, penuh sekali dengan harapan yang berada pada wajahnya itu. "Tapi, Pak--" Belum sempat sama sekali Melly berucap, ia justru terlebihi dulu digandeng oleh laki-laki yang sama sekali ia enal. "Hari ini kamu tidak perlu bekerja, karena kamu akan mengenal saya lebih jauh lagi. Tidak ada penolakan yang saya terima," ucapnya, lalu melangkahkan kaki menuju ke luar dari ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN