Siapa Wira

1022 Kata
Melly masih bingung dengan apa yang saat ini terjadi pada dirinya sendiri, rasanya seperti mimpi didekati oleh seseorang yang memiliki nama pada perusahaan tempat dirinya bekerja. Namun, jika memang benar ini adalah mimpi, mengapa sedari tadi Melly merasakan sakit saat berusaha untuk membuktikan jika ini semua hanyalah mimpi. Langkah kakinya berat, apalagi dengan tangan kanan yang sedari tadi digandeng oleh laki-laki yang sama sekali belum ia kenal. Saat mereka sebentar lagi akan keluar dari dalam kantor tersebut, tiba-tiba saja Melly berpapasan dengan Bobby. Dan hal itu justru membuat Boby merasa sangat heran. Ditambah lagi dengan Melly yang kini membalas genggaman dari laki-laki yang tak ia kenal itu. "Dia siapa?" Pertanyaan seperti itu langsung keluar dari mulut Bobby, tanpa tahu malu sama sekali. "Ayo, Sayang, kita lanjut jalan aja!" titah Melly, menghiraukan pertanyaan dari Bobby tadi. "Tentu, ayo!" sahut laki-laki tersebut tak kalah dengan Melly. Kepergian Melly, membuat Bobby semakin heran. "Ini kan waktunya buat kerja, kenapa dia malah keluar? Terus secara terang-terangan buat bilang sayang?" gumam Bobby, berusaha untuk memikirkan hal itu. Di dalam pikiran Melly juga sudah menduga, jika Bobby akan memikirkan dirinya. Setelah ia sudah melangkahkan kakinya cukup jauh dari tempat bertemu Bobby, ia segera melepas gandengan tadi dan meminta maaf. "Enggak ada yang salah dari kamu, silahkan dilakukan lagi kegiatan yang tadi. Saya suka," jawab laki-laki tersebut, lalu mengulas senyum dengan sangat sempurna dan juga manis sekali. "Tidak Pak. Saya minta maaf, kita jalan beriringan saja," sahut Amel lagi, saat ini mereks berdua berhenti di tengah jalan. Hanya untuk memperdebatkan antara menggandeng atau tidak. "Saya adalah Wira, jangan panggil saya pak. Paham?" ujarnya, yang ternyata memiliki nama Wira. Melly diam, ia sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Akhirnya Melly memutuskan untuk berucap, "Tapi maaf, saya tidak berani untuk memanggil hanya dengan nama saja." "Tidak apa-apa, kamu adalah kekasih saya sekarang. Tidak mungkin kalau seorang kekasih justru memanggil saya dengan sebutan pak," jawab Wira, seraya memeluk pinggang Melly. Diperlakukan seperti itu membuat Melly langsung sangat terkejut dan juga menjadi bingung apa yang harus ia lakukan. Namun, kembali Wira berkata, "Jangan takut, saya bukan orang jahat. Hanya saja saya akan mengajak kamu ke suatu tempat, supaya kamu bisa mengenal saya lebih jauh lagi." "Kalau saya menolak bagaimana?" "Saya tidak menerima penolakan sama sekali. Yuk!" Tanpa basa-basi lagi, Wira langsung mengangkat tubuh Melly ala bridal style. Hal itu tentu saja membuat Melly sangat terkejut dan memberontak pelan. "Jangan seperti ini, rasanya tidak enak sekali dilihatnya!" "Yang merasakan itu kita berdua, jangan pernah memikirkan bagaimana orang lain di luaran sana," sahut Wira, dengan sangat santai sekali. Bahkan, kedua tangannya itu tetap bergerak untuk mengangkat tubuh Melly. Dengan kedua kaki yang juga terus melangkah, tidak peduli dengan Melly yang terus saja memberontak. Toh, dirinya itu adalah anak seorang pemilik perusahaan tersebut. Melly terdiam, membiarkan Wira terus saja melangkah dengan dirinya yang diangkat. Kalau dia memberontak pun hasilnya akan sia-sia. "Nah, gitu dong! Lebih baik itu diam, jangan malah gerak terus. Yang ada nambah berat sayanya," ucap Wira, lalu mengulas senyum. Dan senyuman itu terlihat jelas oleh Melly, membuat perempuan itu langsung tersipu malu. 'Duh, kenapa yang lagi bersikap manis ke gue itu malah ganteng banget sih?' gumam Melly, lalu ia memilih untuk memejamkan mata saja. Sedangkan Wira yang mendapati Melly memejamkan mata seperti itu, hanya bisa tersenyum geli. "Ada-ada aja," ucapnya. Melly tahu jika ucapan tadi ditujukan kepada dirinya, tetapi Melly sama sekali tak mau ambil pusing dan memilih untuk tetap memejamkan mata saja. Sampai akhirnya Wira sudah tiba tepat di samping mobil miliknya yang terparkir rapi. "Mau diturunin atau enggak?" tanya Wira, sembari menunduk guna melihat wajah Melly yang katanya sangat lucu dan menggemaskan. "Ya turunin lah! Masa iya kek gini terus sih?" sahut Melly dengan penuh semangat. "Eits! Enggak semudah itu buat turun. Ada syarat yang harus kamu lakuin," ujar Wira yang membuat dahi milik Melly langsung berkerut. Perasaannya sudah tak enak, kala ia melihat senyum yang tampil di bibir Wira. Namun, sebis mungkin Melly menepis perasaan tersebut dan berharap jika tidak ada hal aneh yang akan terjadi. "Syaratnya apa? Jangan yang ngaco," tanya Melly, seraya mengeluarkan permintaan. Bukannya langsung mejawab, Wira justru langsung mendekatkan wajah dan barulah ia berucap, "Cium pipi saya selama satu menit!" "Gila! Enggak, saya mau turun sekarang aja, syarat yang kamu utarain itu bener-bener ngaco banget," sentak Melly, lalu segera kembali berusaha untuk turun sendiri dari kedua tangan milik Wira. Namun, pada kenyataannya setelah Melly turun, ada lagi tingkah yang dibuat oleh Wira. Memluk tubuh Melly dengan sangat erat sekali, bahkan sampai-sampai perempuan itu susah untuk bernapas. "Aduh! Sorry, saya gak bi-bisa napas!" seru Melly, dengan sebisa mungkin mengeluarkan suara. Tetapi Wira sepertinya tidak menggubris sama sekali, di dalam hati Melly mengutuk laki-laki yang saat ini tengah memeluk dirinya dengan sangat paksa. Bahkan, tidak ada kesempatan sama sekali untuk bernapas. Ini menyiksa, bukan membuat kebahagiaan karena dipeluk. Apalagi yang memeluk adalah orang asing, Melly benar-benar kesal dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. "Tolong lepaskan saya! Sung-sungguh, saya tidak bisa bernapas!" Dan untungnya detik itu juga Wira melepas pelukan yang sedari tadi ia lakukan. Melly segera menarik napas sedalam-dalamnya dan juga melakukan hal itu secara berulang. Akibat dari aktivitas pelukan tadi, Melly memang kehilangan banyak oksigen. "Menyebalkan! Bisakah kamu menghargai suara saya? Apakah kamu memang sengaja untuk membuat saya celaka?" "Kesalahan apa yang saya buat? Apakah saya salah meluk kamu?" sahut Wira mengeluarkan alibinya. "Tentu saja salah, karena kamu melakukan itu tanpa seizin saya! Dan sekarang saya itu sangat kesal sama kamu!" seru Melly, sembari menunjukkan raut wajah yang menurutnya itu snagat sangar dan juga menyeramkan. Namun, pada kenyataannya raut wajah Melly yang seperti itu justru membuat Wira langsung tertawa cukup keras. "Saya akan selalu membuat kamu marah, karena dengan itu saya dapat melihat wajah kamu yang sangat lucu sekali," ujar Wira. Melly langsung membulatkan kedua matanya dengan sangat sempurna. Ia bahkan tidak pernah mengira jika akan ada laki-laki yang berani mengutarakan hal seperti itu. Padahal, saat ini Melly tengah merasa kesal dan juga sebal, tetapi mengapa lawan bicaranya justru berucap seperti itu. Menghentakkan kaki di atas tanah yang tengah dipijak, lalu dengan nada yang lantang Melly berucap, "Saya ingin kembali melanjutkan pekerjaan saya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN