Perselisihan

1005 Kata
Saat Melly sebentar lagi akan melangkahkan kakinya menjauh dari Wira, dengan sangat cekatan sekali laki-laki tersebut langsung menarik pergelangan tangan milik Melly. "Mau ke mana lagi, sih? Kan saya itu udah ngasih tau ke kamu, kalau tugas kamu sekarang itu adalah mengenal saya lebih jauh lagi," tegas Wira, membuat Melly tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menatap wajah laki-laki yang saat ini berada tepat di depannya. "Tugas saya bukan seperti itu, saya karyawan di perusahaan, tugasnya itu ya berkaitan dengan perusahaan," sahut Melly, memberi penjelasan. Supaya Wira tidak kekeh pada keputusannya. "Kamu belum tahu, kalau saya juga bagian yang paling penting dari perusahaan itu?" Melly terdiam, ia juga sebenarnya sudah memiliki firasat yang tidak enak mengenai Wira. Namun, sebisa mungkin Melly membuang pemikiran itu. "Gimana? Kenapa malah diem aja?" tegur Wira, seraya menatap wajah Melly dengan sangat mengintimidasi. "Ekhem, memangnya jabatan kamu di perusahaan itu sebagai apa?" tanya Melly, dengan degup jantung yang sudah tak beraturan. Karena ia juga takut jika laki-laki yang sedang bersama dengannya saat ini justru memiliki jabatan di atas diirinya. Pertanyaan dari Melly yang seperti itu, tentu saja langsung membuat Wira menatap dengan tawa yang tertahan. "Kalau saya memiliki jabatan di perusahaan itu sebagia office boy, bagaimana?" tanya Wira balik. Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi yang akan diutarakan oleh Melly. "Jadi office boy? Ya udah, lebih baik kita sama-sama balik kerja lagi aja, yuk! Kamu juga kenapa pakai jas kek gini. Penampilan kmau itu terlalu rapi banget." Melly langsung menggandeng lengan sebelah kanan milik Wira. Mendappat perlakuan seperti itu darii Melly, tentu saja membuat Wira merasa sangat heran sekali dan juga di dalam hati bertanya-tanya. "Saya hanya bilang, kalau andai saya jadi office boy. Bukan saya yang beneran memiliki jabatan sebagai office boy," ujar Wira, dengan kedua kaki yang segera berhenti melangkah. "Hah? Maksunya gimana sih ini? Saya enggak paham sama sekali sama apa yang kamu bilang," tanya Melly. Dari raut wajah perempuan itu memang sungguh-sungguh menunjukkan perasaan yang sangat bingung sekali. "Kamu tidak tau, kalau saya itu adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan ini?" tanya Wira, kali ini muka laki-laki itu langsung menunjukkan raut wajah yang sangat sombong sekali. Sedangkan reaksi yang dikeluarkan oleh Melly hanyalah menggerakkan kedua tangan untuk menutup mulut. Itu dilakukan oleh Melly karena memang sudah sangat refleks sekali. "Udah, santai aja. Saya justru udah jatuh cinta sama kamu, setelah pertemuan singkat kita yang tadi," ujar Wira, tetapi tentu saja tidak dapat langsung dipercaya oleh Melly. "Jangan ngelantur ya, saya enggak akan pernah percaya tentang hal itu." Melly memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam kantor tempat kerjanya. Namun, suatu hal yang tak terduga justru kembali terjadi. Kedua tangan milik Wira bergerak untuk memeluk dengan cukup erat Melly. "Mengapa kamu tidak mau melakukan apa yang saya inginkan? Padahal, ssederhana banget kok," tanya Wira, bahkan kali ini lebih berani lagi. Dagu Wira diletakkan tepat di pundak Melly, embusan napas pun terdengar sangat jelas sekali. Membuat Melly langsung meremang seketika. "Tolong sekali, dengarkan apa yang saya bicarakan! Saya tidak ingin sampai hal seperti ini terjadi. Apalagi posisinya sekarang itu ada di tempat umum!" Melly berusaha sekuat mungkin untuk terlepas dari kegiatan tersebut. Namun, sepertinya usaha yang idlekukan oleh Melly itu sangat sia-sia sekali. Karena justru kedua tangan milik Wira justru semakin erat. "Kamu tau? Di sini memang tempat umum, tetapi tidalk ada orang yang beraktivitas sama sekali. jadi, santai aja," jelas Wira. Melly diam, ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini. Menjawab pun sepertinya sangat percuma sekali, karena lawan bicaranya justru selalu memiliki jawaban yang membuat Melly langsung terdiam. Tidak mendapati respon apa pun, membuat Wira pun akhirnya melepas pelukannya tadi, tetapi tangan kanannya dengan sangat cekatan segera menggenggam telapak tangan Melly. Membaawa perepuan tersebut untuk segera menuju ke mobil miliknya yang masih terparkir, meskipun mendapat raut wajah yang tidak mengenakkan, tetapi itu tidak menyurutkan semangat yang dimiliki oleh Wira. "Kamu tidak mau mengenakan sabuk pengaman, kah?" tanya Wira, seraya menatap ke wajah Melly tanpa berkedip sama sekali. "Saya tidak berminat." hanya itu saja jawaban yang diutarakan oleh Melly, masih dengan raut wajah yang tidak bersahabat sama sekali. "Bagaimana kalau saya yang mengenakan ke tubh kamu?" Tanpa menunggu jawaban yang akan dikeluarkan oleh perempuan di sampingnya. Wira justru langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Melly, sembari menggerakkan kedua tangannya untuk memasangkan sabuk pengaman tersebut. Perempuan yang mendapat perlakuan seperti itu dari Wira, hanya bisa diam dan bahkan sampai menahan napas. Bayangkan saja, karena jarak di antara Melly dan juga Wira sangat dekat sekali. "Santai aja, jangan gugup kek gitu," tegur Wira, lalu tanpa izin lagi ia mencubit pelan ujung hidung milik Melly. "Kita mau ke mana sih?" tanya Melly, tidak memberi tanggapan sama sekali tentang teguran yang diutarakan oleh Wira padanya. "Ke suatu tempat, hanya tempat sederhana dan biiasa di mata semua orang, tetapi di situ kmau boleh dan juga bebas untuk menanyakan apa pun tentang kehidupan saya," jawab Wira. Melly hanya menganggukkan kepalanya saja, sebenarnya ia belum terlalu paham dengan penjelasan yang baru saja diutrakan oleh Wira. Tetapi daripada Melly lebih bertanya lagi tentang hal tadi, perempuan itu memilih untuk diam dan berpura-pura untuk sudah paham. Meskipun pada kenyataannya tidak paham sama sekali. 'Mungkin, itu adalah waktu buat gue kenal lebih jauh tentang dia kali ya?' tanya Melly, tetapi itu diutarakan oleh dirinya di dalam hati. "Kalau ada pertanyaan yang mau diutarain, mending bilang aja kali," ucap Wira secara tiba-tiba. Seakan ia tahu dengan apa yang saat ini berada di dalam hati Melly, dengan kedua mata yang sebenarnya masih tetap fokus pada jalanan. membuat Melly semakin curiga. "Saya mau nanya tentang hal ini sama kamu sekarang aja. Tidak apa-apa?" tanya Melly, meminta persetujuan pada Wira terlebih dulu. Sebelum mengutarakan jawaban untuk pertanyaan dari Melly, Wira terlebih dulu menautkan kedua alisnya, seraya melirik kearah Melly, meskipun hanya sebentar. "Mau nanyaa tentang hal apa? Kalau saya bisa menjawabnya, maka sudah pasti saya jawab, tetapi kalau saya tidak bisa menjawab. Ya, maaf," ujar Wira terlebih dulu. Membuat Melly memilih untuk mengurungkan niat menanyakan hal itu terlebih dulu, karena suasana yang saat ini menyelimuti dirinya itu tidak mendukung sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN