Minta maaf

1015 Kata
Sampai akhirnya, Wira menghentikan laju kendaraannya tepat di salah satu pantai yang sering sekali ia datangi. "Ayo kita turun!" ajak Wira, dengan kedua tangan yang segera bergerak untuk membuka sabuk pengaman di tubuh. Melly hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti ajakan yang dilontarkan oleh Wira, melepas sabuk pengaman yang masih menempel di tubuh. Keduanya keluar dari dalam mobil secara bersamaan, tetapi dengan raut wajah yang berbeda. Wira dengan raut wajah bahgaia, sedangkan Melly dengan wajah yang bingung. Pikiran Melly hanya dihinggapi satu pertanyaan. Yaitu tentang apa yang ia lakukan jika sudah berada di pantai tersebut. "Ayo!" ajak Wira, lalu langsung menggenggam tangan kanan milik Melly. Lagi-lagi tanpa meminta izin terlebih dulu. "Bisa tidak, kalau mau apa-apa itu izin dulu?" protes Amel, tetapi justru ditanggapi oleh Wira hanya dengan cengiran saja. Wira kembali melangkahkan kakinya untuk segera msuk ke dalam, tetapi Melly justru diam di tempat. Perempuan itu memnag sengaja, karena ia ingin tahu reaksi seperti apa yang ditunjukkan oleh Wira. "Eh, kenapa malah diem aja? Yuk jalan!" Wira kembali mendekat ke arah Melly, tetapi perempuan itu justsru tidak mengeluarkaan kallimat sahutan apa pun. "Saya tidak ingin masuk," ujar Melly, yang berhasil membuat WIra kembali merasa heran. "Mengapa? Apa karena saya yang tidak meminta izin soal mengenggam tangan?" tanya Wira, seraya mengangkat sedikit tangan mereka yang memang masih menyatu. Melly langsung menganggukkan kepalanya, meskipun dengan sangat pelan. Namun, hal itu juga sudah menjadi jawaban yang sangat jelas sekali. "Ya sudah, kalau kek gitu saya mau minta maaf atas apa yang tadi saya lakukan sama kamu," ucap Wira. Memilih untuk segera meminta maaf, daripada harus memperdebatkan dan menjadi masalah yang lebih panjang lagi. Melly menatap ke arah Wira dengan tatapan yang cukup sinis, dari raut wajah saja pun dapat menggambarkan jika perempuan itu tengah merasa sangat kesal sekali dengan Wira. "Ayolah, Mel. Kenapa jadi seperti ini? Padahal sebentar lagi saja kita akan menemui pantai dengan keindahan yang tak bisa diungkapkan," ucap Wira, seraya menampilkan raut wajah yang terlihat sangat lelah dan juga letih sekali. "Kita pulang saja," pinta Melly, membuat Wira langsung membulatkan kedua matanya dengan sangat sempurna. Dan Melly memilih untuk langsung mengedikkan kedua bahunya saja, berpura-puradan juga berlagak tidak mau tahu sama sekali. Yang pasti, keinginannya itu haarus segera terlaksanakan. Karena Melly sudah tidak ingin ke mana-mana dengan Wira, tetapi lebih tepatnya adalah muak pada sikap yang ditunjukkan oleh Wira. Hal yang sama sekali tidak disangka oleh Melly kembali terjadi pada dirinya saat ini. Wira berlutut tepat di depan Melly, seraya menunjukkan raut wajah yang penuh dengan penyesalan. "Saya mohon, kamu mau kan untuk memaafkan kesalahan saya yang tadi?" ujar Wira, bahkan kedua tangan laki-laki itu justru mengenggam telapak tangan Melly. Apa yang dilakukannya saat ini memiliki harapan yang cukup besar sekali, karena ia tak ingin jika kedatangannya menuju ke pantai tersebut justru sangat sia-sia sekali. "Loh, kok? Kenapa malah jadi seperti ini? Saya berasa sangat tidak sopan sekali," ucap Melly, yang langsung berusaha untuk membantu Wira berdiri seperti biasa. "Saya tidak akan berdiri, sebelum kamu berbicara, kalau kamu memang sudah memaafkan saya, lalu kita masuk ke dalam." Jika dari raut wajah Wira, laki-laki itu memang sangat serius sekali dalam hal apa pun yang ia lakukan. Melly pun merasa sangat bingung dengan apa yang akan ia jawab. "Ya sudah, saya akan ikut masuk ke dalam sana," ucap Melly, meskipun dengan nada bicara yang terdengar sangat terpaksa sekali. Detik itu juga semangat yang dimiliki oleh Wira itu kembali lagi, ia berdiri lagi dan memeluk tubuh milik Melly. "Terima kasih banyak, saya tidak menyangka jika kamu akan menuruti apa yang saya inginkan," ucap Wira, masih dengan posisi memeluk Melly. Sedangkan yang dipeluk oleh Wra itu memilih untuk hanya diam saja, tidak membalas pelukan, maupun membalas perkataan darinya. Namun, hal itu saja sudah sangat cukup buat Wira, yang terpenting adalah keinginan dirinya untuk mengajak Melly ke pantai ini. "Saya boleh menggenggam telapak tangan kamu?" tanya Wira, meminta izin terlebih dulu pada Melly. Tentu saja supaya Melly tidak mengambek lagi, arena jika nanti akan kmbali marah lagi, maka yang repot adalah Wira sendiri. Untung saja, tadi Melly tidak terlalu susah untuk dibujuk oleh Wira. Sehingga laki-laki itu tidak terlalu lelah dan melakukan hal yang macam-macam. Karena memang yang namanya perempuuan itu terkadang tidak bisa ditebak sama sekali, apalagi tentang mood. Itu yang sangat susah sekali untuk dikontrol dan diketahui oleh para lelaki. Sejak dari tadi, Wira menunggu jawaban yang akan dikeluarkan oleh Melly, tetapi ternyata perempuan itu tak kunjung mengutarakan jawaban yang ingin diutarakan. Sehingga mau tak mau membuat Wira langsung kembali menegur, "Mel, kenapa enggak jawab juga dari tadi? Padahal, saya itu sedang menunggu jawaban yang mau kamu utarain." "Tidak usah, kita msing-masing masih memiliki dua kaki untuk berjalan dengan tegap. Lebih baik gunakan itu, jangan lemah dan mengandalkan berpegangan tangan terus," ucap Melly, cukup panjang. Ternyaata perempuan itu sebenarnya sudah memiliki jawaban yang ada di dalam hati, hanya saja Melly memang memilih untuk diam dan mengucapkan apa pun. Berharap jika Wira akan langsung paham, karena sedari tadi juga Melly hanya diam, tak menatap ke arah Wira. Namun, pada kenyataannya tingkat kepekaan yang dimiliki oleh Wira itu sangat minim sekali, sehingga mengharuskan Melly menjabarkan apa yang ia rasa. "Ya sudah, kita jalan masing-masing aja. Hati-hati jalannya, siapa tau ada batu yang kamu enggak liat," ucap Wira, lalu mengulas senyum dengan sangat lebar sekali. Bahkan, senyuman itu berhasil membuat ketampanannya menambah. "Saya masih memiliki mata untuk melihat. Jadi, tenang saja," sahut Melly, dengan kedua kaki yang terus saja berjalan. Wira melirik ke arah Melly, dan detik itu juga ternyata Melly melirik ke arahnya. Hal itu tentu saja membuat Wira langsung kembali tersenyum. "Kamu itu cantik, bahkan sangat cantik sekali. Kalau saja kamu tidak memiliki hoby marah-marah dan juga mengambek," ucap Wira, membuat Melly secara refleks langsung mencubit pelan lengan milik Wira. "Loh, kenapa kamu mencubit saya? Padahal apa yang saya ucapkan tadi itu sungguh-sungguh. Kamu memang benar cantik sekali," ucap Wira lagi. Tangan kanannya bergerak untuk mengusap bekas cubitan yang dilakukan oleh Melly, tetapi sayangnya perempuan itu justru seperti tidak memiliki rasa salah sama sekali. Tetap saja berjalan tanpa dosa, meskipun sedari tadi Wira menatap ke arah dirinya penuh dendam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN