Pantai

1014 Kata
"Saya pernah bilang sama kamu, kalau nanti tiba di tempat yang saya ajak. Kamu silahkan nanya aja apa yang memang kamu mau tanyakan. Nah, sekarang kamu mau nanya apa?" tanya Wira, setelah mereka sudah duduk. Melly menatap wajah Wira terlebih dulu, lalu ia pun menjawab, "Apakah saya bebas untuk bertanya apa saja?" "Tentu saja. Ayo silahkan bertanya," sahut Wira, sangat yakin sekali. "Mengapa saya tiba-tiba mendekati saya? Bahkan, kita aja sebelumnya tidak pernah bertemu atau bertatap mata. Saling berbicara saja tidak pernah," tanya Melly, lalu menatap wajah Wira penuh dengan keseriusan. Pertanyaan dari melly yang seprti itu, tentu saja membuat Wira langsung mengulas senyum dan memejamkan mata sebentar. "Kamu yakin mau tahu alasan saya mengapa?" "Makanya saya bertanya sama kamu, karena saya memang ingin mengetahui alasannya." "Saya dijodohkan oleh kedua orangtua saya, tetapi saya tidak mau. Mereka ingin sekali melihat saya segera mendapat keturunan," jawab Wira. Melly diam, ia bingung dengan apa yang harus ia ucapkan sekarang. Berpikir adalah satu-satunya jalan keluar yang harus dipilih oleh Melly. "Tunggu, jangan bilang kalau saya nanti akan dipaksa meenikah dengan kamu? Tidak, saya tidak mengingnkan hal itu terjadi!" "Saya mohon, beri saya waktu untuk meluluhkan hati kamu. Saya yakin sekali, jika hati seorang manusia itu akan berubah seiring waktu. Atau ... kkamu itu sudah memiliki kekasih?" tanya Wira. Tatapan mata dari Wira, seakan berhasil membuat melly langsung luluh seketika itu juga.a Bahkan, pemikirannya saat ini, yiatu Bobby yang sudah tidak mencintai dirinya lagi. Lantas, jika Bobby saja sudah sangat enak kehidupannya dengan perempuan yang lain, tetapi mengapa dirinya justru memilih untuk bertahan dan tetap setia pada Bobby? Itu tidak adil sama sekali, hal itu membuat Melly memutuskan untuk akan menjawab, jika dirinya tidak memiliki tambatan hati sama sekali. "Hey!" Tangan kanan Wira bergerak melambaikan tepat di depan wajah Melly. "Kenapa hanya diam saja? Mengapa tidak menjawab pertanyaan saya yang tadi?" Namun, meskipun seperti itu, Melly tidak menunjukkan reaksi apa pun. Membuat Wira langsung menggerakkan bahu Melly pelan. "Eh!" Melly langsung mengeluarkan reaksinya. Menatap wajah Wira dengan penuhu tanya, lalu bertannya, "Ada apa?" "Loh, kamu tidak mendengar apa yang saya tanyakan tadi?" tanya Wira, sembari mengembuskan napasnya pelan. "Tentang diri saa yang sudah memiliki pasangan atau tidak, kan?" Melly mengutarakan suatu pertanyaan dari Wira yang sudah ia dengar tadi, sampai akhirnya memilih untuk melamun. Wira menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ternyata kamu itu mendengar pertanyaan saya ya, tetapi mengapa justru diam dan bahkan terlihat seperti melamun?" "Ada yang harus saya pikirkan, dan kamu tidak usah ingin tahu tentang hal itu," jawab Melly, jelas dan sangat singkat sekali. Jawaban Melly yang seprti itu, tentu saja membuat Wira langsung terdiam detik itu juga, tetapi ia tidak bisa tenang karena belum medengar jawaban dari pertanyaannya waktu tadi. "Mel, kamu itu belum menjawab pertanyaan saya yang tadi, loh!" ujar Wira, kembali mengingatkan perempuan tersebut. "Saya belum memiliki pasangan dan mungkin nanti saja tidak akan mau memiliki pasangan terlebih dulu untuk sem--" "Hal itu tidak akan berlaku untuk saya, karena saya akan berjuang dengan sangat cepat sekali, dan saya juga adalah tipikal orang yang tidak akan pernah menyerah di tengah jalan," potong Wira dengan sangat cepat sekali. Melly yang ucapannyaa dipotong itu hanya mampu diam dan juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Rasanya sangat aneh sekali, bahkan baru kali ini ia mengalami kejadian seperti itu. Berasa kek Wira itu tidak memiliki sopan santun sekali. "Lalu, menurut kamu, memotong ucapan orang yang tengah berbicara itu baik?" tanya Melly, seraya melempar tatapan yang sangat sinis sekali. "Saya hanya ingin membuat kamu yakkin. Udah, itu saja, tidak lebih sama sekali," jawab Wira dengan sangat mudah dan seperti tidak berdosa. Sedangkan Melly, ia hanya merutuki orang yang saat ini berada di sampingnya dan juga ia pun mengutuki dirinya sendiri, mengapa juga harus mengalah dengan Wira. Padahal, mungkin saja jika dirinya terus saja menolak dan juga memberontak, ia akan terbebas dari paksaan laki-laki tersebut. "Hey! Satu hal lagi yang saya tahu tentang kamu. Ternyata kamu itu suka sekali dengan kegiaatan melamun," tegur Wira, seraya menyenderkan kepalanya tanpa izin pada pundak millik Melly. Sontak saja hal itu membuat Melly merasa langsung sangat terkejut dan juga refleks menunkan bahunya, sehingga membuat Wira sedikit terjatuh. Untung saja Wira dengan sangat cekatan memanfaatkan tangan kanannya untuk menumpu tubuhnya. Jika saja dirinya tidak bergerak secepat tadi, akan ada kemungkinan menyium pasir pantai. "Kenapa langsung gerak aja, tanpa meminat pamit terlebih dulu ke saya?" tanya Wira, seraya membersihkan kedua tangannya dari pasir yang menempel tersebut. "Kamu itu yang selalu aja bersikap lancang banget, mengapa tidak meminta izin terlebih dulu untuk menyender pada bahu saya? Justru langsung ngelakuin kek gitu aja?" sahut Melly, mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Memangnya hal itu saja harus meminta izin terlebih dulu? Merepotkan saja!" "Kamu memang benar-benar tidak memilliki rasa malu! Seharusnya, apa yang akan kamu lakukan itu terlebih dulu meminta izin!" sahut Melly, mengutarakan apa yang berada di dalam pemikirannya itu. Wira mengedikkan kedua bahunya, lalu tanpa mengucapkan kata apa pun lagi, laki-laki tersebut langsung berdiri dan melangkah ke arah tepi pantai. Pertama-tama ia bermain air terlebih dulu dengan pantai tersebut, lalu setelah ada air yang menggulung dari tengah lautan, Wira segera berlari menjauh dari situ. Terlihat sangat menyenangkan sekali memang, membuat Wira langsung mengeluarkan tawa dengan sangat lepas sekali. "Kamu tidak mencoba hal ini? Saya yakin, kalau ini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan sekali!" seru Wira, lalu kembali melakukan hal yang sama lagi. Namun, dari raut wajah Melly, perempuan itu sepertinya tidak memiliki minat sama sekali untuk melakukan hal itu. "Ayo, Melly! Saya ingin kamu juga ikut melakukan hal ini bersama saya!" seru Wira lagi. Masih tidak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Melly, perempuan itu tetap diam dengan kedua mata yaang sebenarnya melihat ke arah Wira. "Ayo! Ke sini dengan langkah sendiri, atau saya yang melangkah ke situ dan membawa kamu secara paksa?" ancam Wira, yang berhasil membuat Melly merinding. Dan pada detik berikutnya perempuan itu pun segera melangkahkan kaki mendekat ke arah Wira. "Jadi orang kok punya sifat yang pemaksa kek gitu!" Wira sebenarnya mendengar apa yang baru saja dilontarkan oleh Melly, tetapi ia lebih memilih untuk diam dan tak mengutarakan sahutan apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN