Saat sedang asyiknya bermain air pantai yang sedari tadi menyentuh kaki milik Melly, tiba-tiba saja perempuan itu dikejutkan dengan perbuatan Wira yang langsung berlutut tepat di depannya.
Bahkan, Wira langsung menggenggam telapak tangan Melly, dengan wajah yang mendongak. Tentu saja hal itu supaya ia dapat melihat wajah Melly.
"Eh, Wira. Kamu lagi apa kek gini?" tanya Melly, seraya melihat ke arah sekitar. Karena rasa malu langsung menyelimuti dirinya.
Apalagi setelah tahu semua pengunjung yang berada di pantai itu mulai menatap ke arah dirinya dan juga Wira, mulut ke mulut langsung membicarakan tentang Melly.
"Aku melakukan ini, karena aku itu benar-benar suka sama kamu. Entah kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan saya, atau berbeda."
"Saya harap, kamu juga menerima perasaan yang saya miliki saat ini." Wira berhenti berucap, ia menggerakkan tangan kanannya untuk meraih sesuatu dari dalam saku celana.
Ternyata, apa yang diambil oleh Wira adalah satu buah cincin yang terbungkus wadah berwarna merah, berbentuk hati.
Perlahan, kedua tangan milik Wira itu bergerak untuk membuka wadah cincin tersebutu dan berucap, "Saya sungguh-sungguh tentang perasaan ini, saya harap kamu menerimanya dengan baik."
Sorak sorai sudah didengar oleh Melly dengan sangat jelas, perempuan itu justru merasa semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Terima! Jangan sampai enggak diterima!" teriak beberapa orang, yang meneriakkan dengan sangat kompak sekali kalimat itu.
Sederhana, tetapi itu mampu memberikan semangat untuk Wira, bahkan ia langsung mengulas senyum dengan sangat lebar.
Rasa percaya diri yang ada di dalam hatinya kini bertambah, karena memang mendapat dukungan dari semua orang yang tengah menonton aksinya.
Wira juga sangat percaya, jika Melly tidak akan menolak dirinya, apalagi di tengah banyaknya orang. Tiidak mungkin sekali jika dirinya ingin dipermalukan, hanya karena menolak perasaannya.
Dan ternyata benara, appa yang diinginkan oleh Wira itu akhirnya terkabul juga. Perlahan, kepala milik Mely mengangguk. Meskipun Wira tahu, jika anggukan kepala itu sebenarnya sangat ragu sekali.
'Tidak apa, yang terpenting saya harus mengikta dia terlebih dulu. Untuk urusan perasaan, saya akan menumbuhkan siring waktu,' gumam Wira di dalam hatinya.
"Apa jawabannya? Kok hanya anggukan kepala saja?" tanya Wira, memancing perempuan yang saat ini masih berada tepat di depannya.
"Iya. Saya menerima perasaan saya," jawab Melly, lalu tersenyum. 'Meskipun ini hanya karena rasa tak enak dan juga kasihan sama kamu,' sambung Melly, tetapi hal itu hanya beranai ia ucapkan di dalam hati.
Setelah mendengar jawaban yang dikeluarkan oleh Melly, semua pengunjung yang berada di situ pun memberi tepukan yang sangat meriah sekali.
Seakan-akan mereka semua itu tengah merasakan apa yang terjadi dan juga bahkan ada yang membyangkan jika dirinya yang berada di posisi terebut.
Mendengar jawaban dari Melly yang seperti itu, membuat Wira dengan semangat yang sangat membara sekali, ia menggerakkan tangan kanan untuk memasangkan satu buah cincin tersebut.
"Manis sekali, seperti orang yang mengenakannya. Saya harap, kamu tidak akan pernah melepaskan cincin ini ya?" ujar Wira, yang hanya dijawab dengan seulas senyum saja oleh Melly.
Dan lagi, Wira kembali melakukan sesuatu tanpa seizin dari Melly. Yaitu, memeluk tubuh Melly secara tiba-tiba sekali.
"Aku menyukaimu," ungkap Wira, saat diirinya berada di dalam pelukan Melly.
Dan hal itu tentu saja langsung membuat sekujur tubuh Melly meremang, bingung dan juga kikuk yang perempuan itu rasakan.
Hidupnya seolah takdir yang mengatur, padahal ia tak pernah membayangkan sama sekali tentang hal ini.
Berharap untuk bertemu lagi dengan laki-laki tersebut saja tidak, tetapi anehnya takdir hidup justru mempermainkan dirinya.
"Terima kasih semuanya, doakan saya dengan kekasih saya akan segera melanjutkan lagi menuju ke jenjang pernikahan!" seru Wira, dengan wajah yang sangat percaya diri sekali, pada semua orang yang memang sedari tadi melihat aksinya itu.
"Mengapa harus melakukan itu? Di saat kita saja baru saling mengenal?" tanya Melly, dengan tatapan yang penuh rasa heran.
Dahi milik Wira langsung berkerut. "Memangnya kenapa? Kamu itu mungkin tidak mengenal kata jatuh cinta pada pandangan pertama ya? Makanya selalu bicara seperti itu?"
"Saya tidak percaya akan hal itu, yang namanya cinta itu tidak akan pernah tumbuh dalam satu detik. Butuh waktu dan juga beberapa kejadian yang harus dilalui," jelas Melly.
Perempuan itu kembali menatap indahnya pemandangan pantai, karena posisi mereka berdua saat ini tengah beristirahat pada tempat yang sudah disediakan.
Pikirannay berkecamuk, lalu tiba-tiba saja dering telepon menganggu ketenangan Melly yang tengah melamun itu.
"Ponsel kamu yang berbunyi?" tanya Wira langsung, seraya menatap wajah Melly.
"Iya, saya tahu kalau itu adalah ponsel milik saya," jawab Melly, dengan tangan kanan yang langsung bergerak untuk meraih ponsel miliknya yang berada di dalam tas.
Melly terlebih dulu melihat ke arah layar ponsel miliknya itu. "Fita?" gumam Melly, dengan dahi yang langsung berkerut.
Walaupun ada rasa heran yang langsung terbesit di dalam hati Melly, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Fita.
Maka dari itu, daripada terus saja menebak, Melly pun segera mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkan ponsel ke dekat telinga.
"Halo, Fit? Ada apa? Tumben lo nelpon gue di jam segini?" tanya Melly, tanpa basa-basi sama sekali.
"Lo sekarang lagi ada di mana?"
"Gue lagi keluar bentar, emangnya ada apa?" tanya Melly, yang semakin merasa heran dan juga penasaran sama sekali.
Sesaat tak ada jawaban apa pun yang diutarakan oleh Fita, sampai akhirnya Melly kembali bertanya, "Ada apa emangnya?"
"Tadi Bobby nelepon gue, terus nanyain, katanya lo itu mau ke mana dan sama siapa?" ujar Fita, memberitahu dengan jelas apa yang tadi ia dapat dari Bobby.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Fita, entah mengapa kedua mata milik Melly langsung menoleh ke arah Wira.
Hal itu tentu saja mmebuat Wira langsung merasa sangat heran, lalu bertanya, "Ada apa?"
Namun, tangan kanan milik Melly justru langsung terangkat, sebagai penanda jika dirinya itu menyuruh Wira untuk diam terlebih dulu dan tidak mengeluarkan perkataan apa pun.
"Tunggu, terus lo itu jawabnya apa ke dia?" tanya Melly, dengan hati yang tak bisa tenang sama sekali.
Meskipun ia tahu, jika sahabatnya itu tidak akan pernah membuat dirinya menjadi memiliki masalah yang lebih lagi.
"Gue jawab ke dia, kalua gue belum tau apa-apa, terus gue maki-maki dia juga! Lagian, udah tau kita itu beda profesi, malah nanya ke gue. Aneh banget tu orang!" sahut Fita, lalu disusul dengan gelak tawa yang langsung keluar dari mulut,