Pagi itu, Rahmi terduduk di teras rumah orang tuanya. Tatapannya kosong, menembus kabut tipis yang menyelimuti gang. Sejak kembali ke rumah ini, ia lebih banyak diam, melamun, dan merenungkan nasibnya. Ia merasa marah pada dirinya sendiri. Marah karena ia terlalu lemah, terlalu mudah dibodohi, dan terlalu tidak berdaya. Ia merasa terjebak.
Di satu sisi, ia ingin bangkit, tetapi di sisi lain, ia merasa terikat oleh anaknya yang masih bayi, terlalu rentan untuk ditinggalkan. Ia merasa dilema antara tanggung jawab sebagai ibu dan kebutuhan untuk mencari nafkah.
“Kamu tuh kenapa, Nak? Dari tadi Ibu perhatikan, kamu melamun terus,” tanya Bu Dewi, Ibu Rahmi, sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Rahmi tersentak, lalu menggeleng. Ia melihat bekas luka bakar di sekitar mata kiri ibunya, sebuah pengingat abadi akan insiden kebakaran saat ia masih berusia lima tahun. Meskipun mata sang Ibu kini hanya dapat melihat samar-samar, Bu Dewi selalu menjadi sosok yang paling ia kagumi.
“Aku nggak apa-apa, Bu. Cuma lagi kepikiran aja,” ucap Rahmi lirih.
“Kepikiran apa? Masalah Tegar lagi?” tanya Bu Dewi.
Rahmi terdiam, memilin ujung bajunya. “Aku Cuma nyesal, Bu. Nyesal kenapa dulu aku malah maksain buat bertahan. Nyesal kenapa aku bodoh banget!”
“Sudah, Nak! Jangan disesali! Semua sudah terjadi. Sekarang, yang penting kamu sama anakmu sehat. Yang penting, kamu bisa bangkit lagi,” ucap Bu Dewi, mencoba menenangkan.
Rahmi menghela napas panjang. “Aku nggak tahu harus bangkit dari mana, Bu. Aku nggak punya apa-apa.”
“Kamu punya kita, Nak. Kamu punya Ibu, kamu punya Bapak. Kami akan selalu ada buat kamu,” balas Bu Dewi, sambil mengusap kepala Rahmi.
Tak lama kemudian, Pak Mamat, Ayah Rahmi, keluar dari rumah. Ia duduk di samping Rahmi, lalu menatap putrinya dengan tatapan tegas.
“Rahmi, Bapak mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Pak Mamat.
“Iya, Pak?” tanya Rahmi.
“Kamu jangan melamun terus! Bapak nggak suka lihat kamu kayak gini. Tegar itu bukan laki-laki yang pantas buat kamu. Keputusan kamu untuk ninggalin dia itu sudah benar, sudah tepat. Pernikahanmu dengan dia memang udah nggak bisa dipertahanin lagi,” tegas Pak Mamat.
“Tapi … aku masih nggak nyangka, Pak. Mas Tegar yang dulu aku kenal, kok bisa berubah jadi kayak gini?” tanya Rahmi.
“Orang itu nggak berubah, Nak. Dia Cuma nunjukin sifat aslinya. Tegar itu penjudi, dan dia juga suka main perempuan. Kamu pikir dia main judi itu dari sekarang? Nggak, Nak. Dia udah main dari dulu. Cuma kamu aja yang nggak tahu,” jawab Pak Mamat, suaranya terdengar tegas.
Rahmi terdiam. Matanya seolah terbuka lebar. Seolah tertampar oleh perkataan ayahnya.
“Nak ... lihatlah yang sudah-sudah! Rumah tangga yang sudah diracuni judi itu ... sudah tidak sehat. Jika kamu bertahan, maka mentalmu yang akan dihajar habis-habisan! Kamu akan terus menderita, sedangkan suamimu itu nggak akan pernah membuka mata.”
Jeda sebentar, Pak Mamat menghela napas. “Kamu jangan cemas, Nak! Jangan takut! Kamu punya kita, kamu punya Bapak. Selama Bapak masih hidup, Bapak akan selalu jaga kamu sama anakmu,” lanjut Pak Mamat.
“Tapi aku malu sama Bapak sama Ibu,” ucap Rahmi.
“Malu kenapa? Kamu nggak salah apa-apa. Yang salah itu Tegar. Dia yang nggak tahu diri. Dia yang nggak bisa menghargai kamu,” balas Pak Mamat. “Kamu nggak usah berharap sama pria kejam kayak dia lagi! Ada Bapak sama Ibu yang akan selalu jaga dan dukung kamu. Kami akan selalu ada di sampingmu.”
Mendengar kata-kata ayahnya, hati Rahmi terasa hangat. Ia merasa sangat bersyukur memiliki kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ia punya keluarga yang selalu ada untuknya.
Setelah puas berbicara dengan ayahnya, Rahmi masuk ke dalam rumah. Ia melihat ibunya sedang menimang cucunya. Wajah Bu Dewi terlihat lelah, namun ia tidak pernah mengeluh. Ia dengan sabar menepuk-nepuk punggung cucunya, bernyanyi lagu nina bobo dengan suara parau.
“Bu … Ibu kenapa nggak istirahat aja? Biar aku aja yang gendong,” ucap Rahmi, merasa tidak enak hati.
“Nggak apa-apa, Nak. Ibu suka kok gendong cucu Ibu. Nggak capek, kok!” balas Bu Dewi sambil tersenyum.
“Tapi, Bu … nanti kalau Ibu sakit, gimana?” tanya Rahmi.
“Nggak akan, Nak. Ibu sehat, kok. Lagian, kapan lagi Ibu bisa gendong cucu, kalau bukan sekarang,” jawab Bu Dewi dengan satu matanya yang melihat samar-samar.
Rahmi terdiam. Ia menatap ibunya, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sangat bersyukur memiliki ibu yang begitu sabar dan tulus. Ibu yang tidak pernah mengeluh, meskipun ia harus berkorban untuk cucunya.
Ia teringat, saat ia masih di rumah mertuanya, ibu mertuanya tidak pernah mau menggendong anaknya. Bahkan sejak pertama anaknya itu lahir. Ia selalu bilang, “Ibu capek. Tangan Ibu pegel-pegel. Kamu aja yang gendong!”
“Rahmi urus bayimu yang bener! Nangis terus, berisik! Ibu jadi nggak bisa tidur,” kata Bu Sari merasa sangat terganggu.
“Mbak Rahmi! Mana sarapanku? Aku harus buru-buru ke kampus, nih! Dari tadi ngapain aja, sih?! Dasar ipar pemalas!” kata Ipah. Sementara kala itu, Rahmi belum pulih, baru beberapa hari setelah melahirkan.
Mengenang semua perlakuan itu, hati Rahmi kembali merasa sakit. Ia merasa, ia sangat beruntung bisa keluar dari rumah itu. Ia merasa, ia sudah kembali ke tempat yang seharusnya ia tuju.
Namun, ia juga tahu, ia tidak bisa seperti ini terus. Ia tidak bisa terus-menerus membebani orang tuanya. Ia tahu, orang tuanya sudah tua, sudah tidak sekuat dulu. Apalagi ibunya, yang bahkan memiliki keterbatasan fisik, masih harus membantunya. Ia harus bisa mandiri, ia harus bisa menghidupi dirinya sendiri dan anaknya.
Malam harinya, saat anaknya sudah terlelap, Rahmi duduk di teras. Ia menatap langit malam yang gelap. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus memulai. Ia tidak punya modal, ia tidak punya pekerjaan. Ia hanya seorang sarjana yang tidak punya pengalaman kerja.
“Bagaimana caranya aku bisa bangkit? Bagaimana caranya aku bisa menghidupi anakku?” bisik Rahmi, isaknya pecah.
Ia menyadari, ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan orang tuanya. Ia harus mandiri. Ia harus membuktikan kepada semua orang, terutama kepada Mas Tegar dan keluarganya, bahwa ia bisa bahagia tanpa mereka.
Rahmi menatap Ibunya yang sudah tua dan lelah. Ia melihat Ayahnya yang masih bersemangat untuk bekerja, demi menghidupi dirinya dan anaknya. Hatinya kembali terasa sakit. Ia tidak bisa terus-menerus menjadi beban bagi orang tuanya. Ia harus bangkit. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia tidak punya petunjuk, ia tidak punya jalan keluar.