Ditampar Kenyataan

1044 Kata
Siang itu, Rahmi sedang menyusui bayinya di ruang tengah, sambil menimang-nimang botol s**u yang isinya tinggal setengah. Ia menatap lekat-lekat botol itu, seolah sisa s**u di dalamnya adalah cerminan dari sisa kekuatannya yang juga semakin menipis. Rumahnya terasa begitu sepi, hanya terdengar suara detakan jam dinding yang berirama lambat dan celotehan lirih dari sang bayi. Pikirannya melayang, teringat bagaimana dulu ia harus bekerja keras membereskan segala macam pekerjaan rumah mantan suaminya hanya untuk mendapatkan uang belanja, dan kini, ia tidak punya apa pun. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang memecah keheningan. Bu Dewi yang sedang mencuci piring, segera mengeringkan tangannya dengan celemek lalu bergegas membukanya. “Ada apa, Mas?” tanya Bu Dewi kepada seorang kurir yang berdiri di depan pintu. Raut wajahnya penuh kebingungan. “Ini ada paket, Bu. Atas nama Bu Rahmi,” jawab kurir itu, sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal. Bu Dewi menerima amplop itu, lalu menandatangani bukti terima. Si kurir pun pamit pergi setelahnya. Dengan ekspresi bingung, Bu Dewi pun kembali masuk ke dalam rumah. “Nak, ini ada paket buat kamu,” ucapnya, sambil menyerahkan amplop itu kepada Rahmi. Rahmi terkejut. Ia tidak merasa memesan apa pun. Dengan tangan bergetar, ia membuka amplop itu perlahan. Ia mengira itu hannyalah surat biasa, tetapi yang ia temukan adalah sebuah surat resmi dan selembar kertas yang bertuliskan “Akta Perceraian”. Jantung Rahmi terasa seperti berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Ia tak percaya. Proses yang seharusnya panjang dan melelahkan, kini selesai begitu saja. Tanpa mediasi. Tanpa sidang. Tanpa penjelasan. Semuanya terasa begitu mudah bagi Tegar, seolah ia hanya menyingkirkan sebuah barang yang sudah tidak berguna. “Apa ini, Nak?” tanya Bu Dewi, yang melihat raut wajah Rahmi yang berubah pucat. Suara Bu Dewi terdengar penuh kekhawatiran. Rahmi tak langsung menjawab. Air matanya kembali tumpah. Hatinya terasa begitu sesak, perpaduan antara sakit, marah, dan malu. Ia hanya bisa menangis, sambil memeluk akta perceraian itu erat-erat di dadanya. Kertas itu terasa dingin dan kaku, mewakili akhir dari segalanya. “Ini … akta cerai, Bu,” ucap Rahmi akhirnya dengan begitu lirih, suaranya tercekat. Bu Dewi terdiam. Ia menatap amplop itu, lalu menatap putrinya dengan tatapan penuh iba. Ia tahu, hati Rahmi sedang hancur. Ia tahu, Rahmi sedang merasa campur aduk. “Kenapa, Nak? Kok bisa secepat ini?” tanya Bu Dewi. “Nggak tahu, Bu,” jawab Rahmi, isaknya pecah. “Aku Cuma yakin, kalau dengan uang, semuanya pasti bisa selesai dengan cepat.” Bu Dewi memeluk Rahmi erat, berusaha menyalurkan seluruh kekuatannya. “Udah, Nak. Jangan nangis! Ini sudah yang terbaik buat kamu. Ini tandanya, kamu sudah bebas.” “Tapi … aku malu, Bu. Aku sekarang sudah janda,” ucap Rahmi, suaranya parau, penuh keputusasaan. “Bagaimana aku bisa hidup? Bagaimana pandangan orang-orang?” “Janda bukan aib, Nak. Janda itu status. Status itu Cuma selembar kertas. Justru statusmu sekarang sudah jelas, daripada menjadi istri bukan ... janda bukan alias janda bodong. Yang penting, kamu sama anakmu sekarang sudah aman. Sudah lepas dari laki-laki yang nggak tahu diri itu,” tegas Bu Dewi, mencoba menenangkan. “Tapi … gimana kalau orang-orang ngomongin aku, Bu? Gimana kalau mereka pikir aku bukan wanita baik-baik?” tanya Rahmi, isaknya pecah. Rasa takut akan gunjingan tetangga menghantuinya. “Biarkan saja, Nak! Biar mereka yang ngomongin kamu yang bakalan berdosa. Kamu nggak salah apa-apa. Kamu Cuma korban. Ibu tahu, kamu nggak pernah minta apa-apa sama dia,” balas Bu Dewi, sambil mengusap air mata Rahmi dengan tangan yang penuh kasih. Rahmi terdiam. Ia memandangi akta cerai di tangannya, lalu memeluknya. Ada perasaan pahit dan manis yang tak terlukiskan. Ia sedih, karena ia sudah gagal dalam pernikahan. Namun, ia juga merasa lega, karena ia sudah bebas dari Tegar dan keluarganya. Sebuah kebebasan yang terasa sangat mahal harganya. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu nggak bisa kasih kamu apa-apa. Ibu Cuma bisa kasih kamu dukungan,” ucap Bu Dewi. “Ibu sudah kasih aku banyak hal, Bu. Ibu sudah kasih aku cinta dan kasih sayang yang tulus. Itu lebih berharga dari apa pun,” balas Rahmi, sambil memeluk ibunya erat. Setelah perasaannya sedikit tenang, Rahmi kembali menggendong anaknya. Ia duduk di teras, menatap kosong ke luar. Pikirannya melayang. Ia teringat kembali pada perlakuan keluarga Mas Tegar. Mereka selalu menghinanya, selalu menganggapnya tidak berguna. Kini, Rahmi merasa jika ia sangat beruntung bisa keluar dari rumah itu. Hanya saja ia merasa sedih kenapa hal ini harus terjadi padanya? Padahal ia berharap jika pernikahannya akan langgeng. Ia mengira, cintanya bisa mengubah Tegar, tetapi nyatanya, ia hannyalah pelampiasan dari rasa frustrasi Tegar. Malam harinya, saat anaknya sudah terlelap, Rahmi duduk di teras. Ia menatap akta cerai di tangannya, yang mewakili akhir dari masa lalunya, dan menatap wajah anaknya yang terlelap, yang mewakili tanggung jawab masa depannya. Wajahnya yang semula penuh air mata kini menunjukkan kebingungan yang mendalam. Ia merasa terimpit di antara masa lalu yang pahit dan masa depan yang penuh ketidakpastian. Ia memeluk anaknya erat-erat, lalu menatap langit malam yang gelap. Pikirannya kosong, namun hatinya penuh dengan rasa sakit. Ia merasa, ia harus kuat. Tiba-tiba, ia mendengar suara bisikan dari dapur. Ia mengintip, dan melihat ibunya sedang berbicara dengan ayahnya. “Pak, beras kita hampir habis. Apa Ibu pinjam saja ke tetangga lagi?” bisik Bu Dewi, suaranya terdengar lelah. “Nggak usah, Bu,” jawab Pak Mamat, suaranya terdengar berat. “Bapak malu kalau harus pinjam terus. Masa kita nggak bisa kasih makan anak sama cucu kita sendiri? Mudah-mudahan besok ada pekerjaan, katanya Pak RT mau ngecat rumahnya. Nanti kalau dapat upahnya, langsung Bapak belikan beras.” Hati Rahmi terasa seperti ditusuk. Ia tidak menyangka, orang tuanya sampai harus meminjam beras ke tetangga demi menghidupi dirinya dan anaknya. Ia tidak menyangka, ia sudah menjadi beban bagi orang tuanya. Air mata Rahmi kembali tumpah. Ia tidak bisa lagi menahannya. Belum habis sampai sana, Rahmi juga melihat ketika sang ayah merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang recehan. Rahmi melihat ayahnya yang tampak termenung menatap uang recehan itu, lalu menatap kaleng s**u yang juga hampir kosong. Wajahnya terlihat sedih, putus asa, dan lelah. Hati Rahmi semakin sakit. Ia tidak bisa lagi berdiam diri. Ia harus bertindak. Ia harus segera bangkit. “Bagaimana caranya aku bisa membesarkanmu, Nak? Sedangkan uang untuk membeli popok dan s**u saja aku nggak punya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN