Mencoba Bangkit

1066 Kata
Momen itulah yang menjadi titik balik bagi Rahmi. Ia tidak bisa terus-menerus tenggelam dalam kesedihan, sementara orang tuanya berjuang untuknya dan anaknya. Ia adalah seorang sarjana. Ia mengingat bagaimana dirinya mendapatkan gelar sarjananya, berhasil kuliah berkat beasiswa dan kerja paruh waktu yang sangat keras. Rahmi sadar gelar itu tidak bisa memberinya makan saat ini. Ia harus menggunakan otaknya, mencari cara agar bisa mandiri tanpa merepotkan kedua orang tuanya yang sudah renta. Tetapi apa? Pekerjaan apa yang tak sampai menyita waktunya terlalu lama? Karena ia mempunyai bayi yang membutuhkan perhatian. Setelah merenung cukup lama, Rahmi pun memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan. Ia sadar ia harus memilih pekerjaan yang fleksibel agar bisa tetap mengurus bayinya. Tetapi, pikirannya buntu. Sampai suatu hari, ia melihat tumpukan cucian kotor di keranjang. Sebuah ide sederhana pun muncul di benaknya. Ia tidak butuh modal besar. Ia hanya butuh tekad untuk memulai dari hal yang paling ia kuasai: mencuci. Hingga pilihan pun jatuh pada pekerjaan sebagai tukang cuci keliling. “Ah! Itu ide yang bagus! Nggak butuh banyak modal juga,” gumam Rahmi. Awalnya, pasti akan merasa malu. Bagaimana pun ia adalah seorang sarjana, namun kini harus bekerja sebagai tukang cuci. Tetapi, apa salahnya dengan pekerjaan itu? Selama itu adalah pekerjaan baik dan halal, Rahmi bersedia melakukannya. Rasa malu itu kalah dengan tekadnya untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Ia sudah memutuskan dan ia akan melakukannya. *** Pagi itu, Rahmi kembali memandangi wajah anaknya. Senyum mungil itu adalah satu-satunya sumber kekuatannya. Sambil menyuguhkan biskuit dan teh hangat untuk Pak Mamat yang baru pulang dari masjid, ia memulai percakapan. “Bapak, Rahmi mau tanya, kalau cari pekerjaan di sini, apa ya, Pak?” tanyanya pelan. Pak Mamat menatapnya. “Nak, kamu nggak usah mikirin pekerjaan dulu! Kamu fokus aja urus anakmu! Soal makan, Bapak sama Ibu masih bisa cari.” “Tapi, Pak … Rahmi nggak bisa kayak gini terus. Rahmi nggak bisa jadi beban Bapak sama Ibu,” ucap Rahmi, matanya berkaca-kaca. “Bukan beban, Nak. Kamu itu tanggung jawab Bapak,” balas Pak Mamat, suaranya bergetar. Rahmi terdiam. Ia memeluk ayahnya erat. “Makasih, Pak. Tapi Rahmi harus bisa mandiri. Rahmi nggak mau Bapak sama Ibu susah lagi.” Setelah itu, ia pergi ke teras. Ia mengambil buku catatannya, lalu mulai membuat daftar. Daftar apa saja yang ia butuhkan untuk memulai usahanya sebagai tukang cuci. Sabun cuci, pewangi, plastik kemasan, dan lain-lain. Ia menghitung, kira-kira modal yang ia butuhkan berapa. Tiba-tiba, Bu Dewi datang menghampirinya. “Kamu mau ngapain, Nak?” tanyanya. “Rahmi mau coba jadi tukang cuci keliling, Bu,” jawab Rahmi, suaranya terdengar ragu. Bu Dewi terkejut. “Tukang cuci? Kamu kan sarjana, Nak. Nggak malu?” “Malu itu nanti, Bu. Yang penting, anakku bisa makan,” balas Rahmi, matanya berkaca-kaca. Bu Dewi memeluk putrinya. “Ibu bangga sama kamu, Nak. Ibu dukung kamu. Kamu harus kuat!” Mendengar dukungan ibunya, hati Rahmi terasa hangat. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ia punya keluarga yang selalu ada untuknya. Rahmi pun memulai perjuangannya. Ia meminjam sedikit uang dari ayahnya, “Bapak, apa boleh Rahmi pinjam uang buat cetak brosur?” tanyanya ragu. Sang Ayah membuka dompet lusuhnya, mengambil beberapa lembar uang yang ia sisihkan untuk kebutuhan mendesak, sisa dari buruh mengecat rumah Pak RT dua hari lalu. “Ini aja, Nak. Jangan malu, ini buat kamu sama cucu Bapak!” ucap Ayahnya, matanya berkaca-kaca. Rahmi menerimanya dengan haru. Itu adalah modal pertamanya untuk bangkit dan ia berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Lalu ia pun membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelah itu, ia mencetak brosur yang sederhana. Hanya selembar kertas yang berisi nama, nomor telepon, dan daftar layanan cuci, setrika, serta harga. Dengan selembar brosur yang dicetak seadanya, ia mulai berjalan kaki dari rumah ke rumah, menawarkan jasanya. “Permisi, Ibu … maaf mengganggu. Saya Rahmi, mau menawarkan jasa cuci baju,” ucap Rahmi, dengan suara pelan dan ragu. Namun, kenyataan tak seindah perkiraannya. Beberapa kali ia malah ditolak mentah-mentah. “Nggak, makasih. Di sini udah ada tukang cuci langganan,” kata seorang Ibu dengan ketus. “Nanti aja ya, Mbak. Saya lagi nggak ada duit,” ucap yang lain. “Saya biasa nyuci sendiri, nggak butuh tukang. Bikin boros!” “Boro-boro sewa jasa, buat makan sehari-hari juga susah, Neng!” “Kok sarjana mau jadi tukang cuci? Nggak malu?” sindir tetangga yang lainnya. Hati Rahmi terasa hancur. Ia merasa, ia sudah salah mengambil keputusan. Ia merasa, ia sudah menjadi bahan tertawaan orang-orang. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus berjalan, menawarkan jasanya. Sore itu, Rahmi pun memutuskan untuk pulang. Tubuhnya lelah. Ia tak langsung masuk ke rumah. Ia duduk di teras sambil memijat kakinya yang terasa pegal karena sudah berjalan ke sana-kemari. Di depan rumah, ia bertemu dengan seorang tetangga yang tidak sengaja melihatnya. Tetangga itu lantas bertanya, “Sudah dapat pelanggan, Neng?” Rahmi hanya bisa menggelengkan kepala dengan sedih. Pertanyaan itu bagaikan sebuah cemoohan baginya, karena memang ia tidak mendapatkan satu pun pelanggan. Ia merasa capek, hatinya hancur, namun ia tidak bisa menyerah. “Coba ke kompleks-kompleks, Neng!” saran Ibu itu. “Iya, Bu. Nanti saya coba.” Saat ia memasuki rumah, ia melihat Bu Dewi sedang menimang anaknya. Ia memeluk anaknya erat-erat, lalu menangis. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa kasih kamu apa-apa,” bisik Rahmi, isaknya pecah. Bu Dewi memeluk putrinya. “Nak, kamu nggak boleh menyerah! Kamu harus yakin, kalau kamu pasti bisa.” Malam harinya, saat anaknya sudah terlelap, Rahmi kembali duduk di teras. Ia memegang sisa brosur di tangannya, memandangi dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa, ia sudah gagal. Tiba-tiba, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Ia membukanya, dan melihat ada pesan dari seseorang yang ia tidak kenal. “Mbak Rahmi, ini saya Wulan, tetangga baru di blok G. Saya lihat iklan Mbak di grup w******p RT. Saya mau pakai jasa Mbak. Besok bisa?” Rahmi terkejut. Ia tidak menyangka, ia akan mendapatkan pelanggan pertamanya dari grup w******p RT. Hatinya berdebar-debar. Ia merasa, ia sudah mendapatkan jalan. “Bisa, Bu. Besok saya ke sana,” balas Rahmi dengan tangannya yang gemetar. “Oke, Mbak. Besok saya tunggu ya! Ini alamat lengkapnya,” balas Wulan seraya mengirim alamat lengkap rumahnya. Rahmi tersenyum. Air matanya kembali tumpah, kali ini air mata kebahagiaan. Ia merasa, ia sudah mendapatkan harapan. Ia merasa, ia sudah mendapatkan jalan keluar dari masalahnya. Ia menatap langit malam yang gelap, lalu berkata dalam hati, “Aku tidak akan menyerah, demi anakku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN